sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Undang asing masuk justru pukul maskapai dalam negeri

Masuknya maskapai asing ke Indonesia justru kian membuat penerbangan dalam negeri semakin terpukul. 

Nanda Aria Putra
Nanda Aria Putra Minggu, 16 Jun 2019 02:52 WIB
Undang asing masuk justru pukul maskapai dalam negeri
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 76981
Dirawat 36636
Meninggal 3656
Sembuh 36689

Wacana masuknya maskapai asing ke Indonesia sebagai penyeimbang duopoli bisnis penerbangan dan menurunkan tarif tiket pesawat di Indonesia dianggap bukan solusi yang baik. 

Pengamat penerbangan Chappy Hakim menilai masuknya maskapai asing ke Indonesia justru kian membuat penerbangan dalam negeri semakin terpukul

“Dengan kondisi penerbangan seperti ini, dengan keuangan penerbangan yang buruk, akan dengan mudah dimanfaatkan oleh maskapai asing dengan kekuatan kapital yang besar,” katanya, Sabtu (15/6).

Di sisi lain, maskapai asing diprediksi akan berpikir dua kali sebelum masuk ke Indonesia. Penyebabnya, investor harus merogoh kocek yang tak sedikit untuk investasi di sektor ini. Risikonya juga besar lantaran industri maskapai merupakan investasi jangka panjang. Belum lagi adanya aturan pemerintah yang terus berganti-ganti.

“Selama ini sudah dibuka, tapi tetap saja tidak ada yang masuk. Dulu sempat ada Mandala-Tiger, tapi karena regulasi berubah-ubah akhirnya pergi,” ujarnya.

Masuknya maskapai asing diprediksi memicu kian ketatnya persaingan. Padahal, industri penerbangan Indonesia selama ini sudah kembang kempis. Persaingan maskapai dalam negeri menyebabkan Merpati bangkrut. Demikian juga dengan Garuda Indonesia yang terengah-engah lantaran terlilit utang. 

Chappy menyebut Indonesia memiliki 40 maskapai penerbangan di era tahun 2007. Jumlah itu susut karena satu per satu maskapai mengalami kebangkrutan. Penyebabnya dari berbagai faktor, seperti regulasi hingga masalah tarif.

“Pada tahun itu harga tiket sangat murah sekali. Namun dampaknya adalah pesawat sering jatuh, keamanannya kurang,” tuturnya.

Sponsored

Pemerhati kebijakan publik Agus Pambagio mengatakan belum ada maskapai asing yang masuk ke Indonesia. Ia menampik isu yang menyebut adanya maskapai asing China Airlines yang beroperasi di Indonesia.

“Itu namanya codeshare, sejak zaman kuda gigit besi juga sudah ada dan biasa dalam dunia penerbangan,” ucapnya.

Codeshare merupakan hasil kerjasama antara maskapai asing dengan maskapai dalam negeri. Agus mencontohkan, maskapai asing yang melakukan penerbangan dari luar negeri ke Indonesia biasanya akan melanjutkan penerbangan dengan pesawat operated dalam negeri. Nah, kode penerbangan yang dilakukan oleh pesawat operated itu akan sama dengan maskapai asing.  

"Misalnya pada papan penerbangan dengan tulisan China Airlines dari Jakarta Ke Lombok atau Makassar dengan kode “CI” untuk penerbangan asing. Sebenarnya penerbangan itu merupakan rute dari Taipei ke Lombok via Jakarta karena Jakarta adalah tempat izin mendaratnya. Dari Jakarta ke Lombok, China Airlines menggunakan pesawat operated dalam negeri dengan kode yang masih sama," jelas Agus.

Demikian juga sebaliknya dengan Garuda Indonesia rute Jakarta-Jeddah. Dalam penerbangan itu, Garuda Indonesia akan melakukan transit di Singapura dan dilanjutkan dengan pesawat operated dari Singapura.

"Jika Garuda Indonesia tidak memiliki izin terbang ke Jeddah, maka akan menggunakan pesawat operated dari Singapura dengan kode penerbangan yang masih sama dengan Garuda," tutur dia. 

 

Berita Lainnya