logo alinea.id logo alinea.id

Waskita Beton Precast bagi dividen 50% dari laba bersih Rp1,1 triliun

Rasio dividen terhadap laba bersih sepanjang 2018 tercatat menurun dari tahun sebelumnya yang sebesar 75%. 

Soraya Novika
Soraya Novika Rabu, 24 Apr 2019 16:02 WIB
Waskita Beton Precast bagi dividen 50% dari laba bersih Rp1,1 triliun

PT Waskita Beton Precast Tbk (WSBP) membagikan laba kepada pemegang saham sebesar Rp550 miliar atau 50% dari laba bersih sebesar Rp1,10 triliun pada 2018. 

"Jumlah dividen itu setara dengan Rp22,5 per saham," ujar Direktur Utama Waskita Beton Precast Jarot Subana usai menggelar rapat umum pemegang saham tahunan (RUPST) Waskita Beton Precast di Jakarta, Rabu (24/4). 

Rasio dividen terhadap laba bersih sepanjang 2018 tercatat menurun dari tahun sebelumnya yang sebesar 75%. 

Berdasarkan rencana anggaran perseroan di 2018, nilai dividen hanya 30% dari laba bersih, namun pemegang saham mayoritas ingin agar dividend payout ratio berada di 50%. 

Jarot menjelaskan rasio dividen yang lebih rendah pada pada tahun ini karena perseroan masih membutuhkan modal kerja. Adapun, 50% lainnya dari laba bersih digunakan untuk cadangan dan laba ditahan. 

Dia memerinci sebesar Rp54 miliar digunakan untuk cadangan, serta sebesar Rp496 miliar sebagai laba ditahan.
 
"Kalau dari RKAP, semula dividen hanya 30%. Namun, pemegang saham menginginkan 50%," katanya.

Berdasarkan laporan keuangan 2018, anak usaha PT Waskita Karya Tbk. ini berhasil membukukan pendapatan usaha sebesar Rp8 triliun. Angka tersebut naik 13% dibandingkan pendapatan usaha sepanjang 2017 yang sebesar Rp7,10 triliun. 

Selain itu, WSBP  berhasil mencatatkan laba bersih sebesar Rp 1,1 triliun atau naik sebesar 10% dari perolehan laba bersih tahun sebelumnya sebesar Rp1 triliun. 

Sponsored

Sementara, untuk penerimaan pembayaran termin selama 2018 tembus Rp11,4 triliun, atau naik sebesar 148% dari penerimaan pembayaran termin 2017 sebesar Rp4,6 triliun. 

Penerimaan pembayaran termin ini berasal dari pekerjaan tambahan beberapa proyek jalan tol seperti ruas Bekasi-Cawang-Kampung Melayu, Batang-Semarang, Krian-Legundi-Bunder-Manyar (KLBM), Pematang Panggang-Kayu Agung (PPKA), dan Jalan Tol Terbanggi Besar-Kayu Agung.

WSBP juga memperoleh kontrak baru pada 2018 senilai Rp6,7 triliun. Angka ini melampaui target nilai kontrak baru 2018 sebesar Rp6,56 triliun. Perolehan nilai kontrak baru ini berasal dari beberapa proyek besar yang tengah disuplai oleh WSBP yaitu Proyek Jalan Tol Pekanbaru-Dumai, Tebing Tinggi-Parapat, dan proyek lainnya. 

Sehingga nilai kontrak dikelola WSBP hingga akhir 2018 sebesar Rp17,34 triliun. 

Hal ini menunjukkan pembukuan cashflow operasional yang positif sekitar Rp1,8 triliun. Kondisi tersebut menjadi modal yang kuat bagi WSBP untuk 2019.

"Hal ini disebabkan karena rasio posisi utang berbunga terhadap modal WSBP yang masih sebesar 0,7x, masih jauh dari batas yang ditentukan sebesar 2,5x," tuturnya.

Belanja modal 2019

Sementara itu, Waskita Beton Precast menyiapkan belanja modal atau capital expenditure (capex) untuk 2019 sebesar Rp922 miliar.

"Capex tahun ini akan digunakan untuk optimasi proyek-proyek yang ada," ujar Jarot.

Selain itu, sebanyak Rp100 miliar di antaranya akan diinvestasikan untuk pembangunan pabrik baja yang saat ini masih dalam tahap feasibility study.

Perusahaan menargetkan konstruksi pabrik baja ini dapat dimulai pada Juni 2019. Sehingga, tahun ini sudah bisa menghasilkan produk dan Waskita Beton Precast tidak perlu lagi mengimpor dari luar negeri.

Sementara, sebesar 50% dari capex berasal dari kas internal dan 50% selebihnya dari pinjaman bank. Di Juni nanti, rencananya Waskita Beton juga akan menerbitkan obligasi sebesar Rp500 miliar.