sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Sri Mulyani waspadai pemulihan ekonomi di China dan Amerika Serikat

Pemulihan beberapa negara besar dalam perekonomian akan membuat harga komoditas mengalami peningkatan sangat kuat.

Nanda Aria Putra
Nanda Aria Putra Selasa, 04 Mei 2021 15:27 WIB
Sri Mulyani waspadai pemulihan ekonomi di China dan Amerika Serikat

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengungkapkan, pemulihan ekonomi yang lebih cepat di negara-negara dengan ekonomi besar, seperti Amerika Serikat, China, dan Eropa perlu diwaspadai.

Dikhawatirkan, negara-negara yang telah pulih lebih dulu dari dampak pandemi Covid-19 memicu terjadinya peningkatan harga berbagai komoditas di dunia, karena diiringi oleh membaiknya permintaan di negara-negara tersebut.

"Pemulihan beberapa negara besar dalam perekonomian akan membuat harga komoditas mengalami peningkatan sangat kuat. Ini mirip seperti 2009 yang akan memunculkan boom komoditas, yang mungkin harus diantisipasi, positif maupun negatif," katanya dalam Musrenbangnas, Selasa (4/5).

Pemulihan ekonomi di negara-negara tersebut, akan diikuti oleh desain kebijakan fiskal dan moneter yang memengaruhi kondisi keuangan global secara tidak langsung, sehingga akan memengaruhi kebijakan fiskal Indonesia pada APBN ke depan.

Gelontoran stimulus fiskal di negara-negara itu, sambung Sri Mulyani, akan berefek kepada inflasi, peningkatan suku bunga global, memengaruhi volatilitas nilai tukar rupiah, dan berdampak kepada aliran modal asing masuk atau capital inflow.

"Dan ini pasti akan memengaruhi desain APBN ke depan. Karena perubahan kebijakan fiskal dan moneter di negara maju pasti timbulkan spillover," ujarnya.

Langkah antisipasi dari pulihnya ekonomi negara besar itu pun harus dilihat dalam perebutan beberapa komoditas penting, seperti vaksin Covid-19 yang produksinya saat ini terbatas.

Sedangkan, untuk dapat menanggulangi pandemi Covid-19 setiap negara harus mampu pulih beriringan, dengan tingkat pertumbuhan kasus positif Covid-19 baru yang dapat ditekan seminimal mungkin.

Sponsored

Namun, saat ini negara-negara lain seperti India malah mengalami gelombang baru Covid-19 dan tengah berkutat dengan pertumbuhan kasus positif Covid-19 yang mencapai 300.000 per hari.

Selain itu, ditemukannya varian baru dari Covid-19 telah menyebabkan meningkatnya kasus positif global, yang mana rata-rata mencapai 800.000 per hari. Sementara, akses untuk mendapatkan vaksin tidak merata di seluruh dunia.

"Disparitas pemulihan ekonomi dunia sebabkan perubahan dan dinamika antar negara termasuk sisi stimulus dan kemampuan untuk peroleh vaksin," ucapnya.

Sebelumnya, China dilaporkan mengalami pertumbuhan ekonomi yang sangat tinggi di kuartal I-2021 dengan pertumbuhan sebesar 18,3% (yoy), setelah di periode yang sama tahun sebelumnya terkontraksi 6,8%.

Sementara Amerika Serikat juga tumbuh positif di kuartal I-2021 sebesar 6,4% (yoy) setelah sepanjang 2020 mengalami kontraksi yang cukup dalam di level 3,5%. 
 

Berita Lainnya