sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Yenny Wahid: Garuda bisa manfaatkan aset untuk bayar utang

Garuda Indonesia memiliki total liabilitas Rp8,3 triliun.

Annisa Saumi
Annisa Saumi Kamis, 27 Feb 2020 18:39 WIB
Yenny Wahid: Garuda bisa manfaatkan aset untuk bayar utang
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 26473
Dirawat 17552
Meninggal 1613
Sembuh 7308

Komisaris Independen PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk. (GIAA) Yenny Wahid mengatakan Garuda Indonesia harus mencari sumber pendanaan baru untuk melunasi utang mereka. Yenny juga menuturkan dewan komisaris menyetujui Garuda untuk melakukan refinancing ataupun restrukturisasi utang.

"Kita lihat nanti, kalau mau menerbitkan sukuk, nanti risikonya seperti apa, nanti kita lihat lagi apakah itu berdampak," kata Yenny  di Gedung Garuda Indonesia, Jakarta, Kamis (27/2).

Yenny melanjutkan, selain melakukan refinancing, upaya mencari pendanaan baru tersebut bisa dilakukan Garuda dengan melego aset-aset perusahaan.

"Anak dan cucu perusahaan kan banyak. Cuma kita ingin agar optimalisasi aset itu jelas harus kita lakukan agar perusahaan ini lebih ramping supaya geraknya lebih enak," ujar dia.

Dalam kesempatan yang sama, Direktur Utama Garuda Indonesia Irfan Setiaputra mengatakan pihaknya akan merestrukturisasi semua utang Garuda yang akan jatuh tempo dalam waktu dekat.

"Instrumennya macam-macam akan kita coba," kata Irfan

Irfan menyebut salah satu opsinya termasuk penerbitan sukuk yang beberapa waktu lalu dibatalkan. Pembatalan penerbitan tersebut, kata Irfan, karena emiten berkode GIAA ini tengah menunggu waktu yang lebih tepat lagi.

"Kami tetap optimistis. Sekarang lagi diskusi dengan banyak pihak, melakukan bridging, dan ini didukung juga oleh teman-teman dari kementerian," tutur Irfan.

Sponsored

Berdasarkan laporan keuangan perseroan kuartal III-2019, Garuda Indonesia memiliki total liabilitas jangka panjang yang jatuh tempo dalam setahun sejumlah US$595,2 juta atau setara dengan Rp8,3 triliun (kurs Rp14.000 per dolar). Adapun jumlah utang yang jatuh tempo pada Juni mendatang sejumlah US$500 juta atau setara Rp7 triliun.

Berita Lainnya