sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

PB HMI MPO soroti isu Islamofobia di Muktamar PEPIAT 2019

(PB HMI) MPO mengutus lima perwakilan untuk menghadiri dan mensukseskan acara Muktamar Persatuan Pelajar Islam Asia Tenggara (PEPIAT)

Adrian Alexander
Adrian Alexander Rabu, 06 Nov 2019 20:25 WIB
PB HMI MPO soroti isu Islamofobia di Muktamar PEPIAT 2019

Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (PB HMI) MPO mengutus lima perwakilan untuk menghadiri dan mensukseskan acara Muktamar Persatuan Pelajar Islam Asia Tenggara (PEPIAT) yang digelar di Internasional Islamic University Malaysia (IIUM), Malaysia pada tanggal 1-4 November 2019.

Muktamar kali ini dihadiri oleh enam organisasi anggota PEPIAT, yakni Himpunan Mahasiswa Islam Penyelamat Organisasi (HMI-MPO), Pelajar Islam Indonesia (PII), Persatuan Kebangsaan Pelajar Islam Malaysia (PKPIM), Persatuan Pelajar Islam Kamboha (CAMSA), Persatuan Pelajar Islam Thailand (TMSA), Persatuan Pelajar Islam Filipina (FAMSA), dan National University of Singapore Muslim Society.

Muktamar kali ini mengukuhkan Presiden PKPIM, Saudara Farhan Rosli sebagai Setiausaha Agung PEPIAT masa jabatan 2019-2021.

Ketua Umum PB HMI MPO, Zuhad Aji Firmantoro menegaskan, Muktamar PEPIAT ini menjadi moment yang tepat bagi pelajar dan pemuda Asia Tenggara, terutama yang tergabung dalam PEPIAT untuk memperkuat ukhuwah dan konsolidasi untuk kejayaan Islam di kawasan Asia Tenggara, bahkan dunia.

“Islam di Asia Tenggara harus berjaya. Meskipun kita mengetahui bahwa tantangan bagi umat Islam saat ini semakin berat,” kata Zuhad Aji di Kuala Lumpur, Selasa (5/11/2019).

Menurut Zuhad Aji, Islam dan umat Islam saat ini sedang diperhadapkan dengan berbagaimacam permasalahan, seperti politik, pendidikan, kebudayaan, dan ekonomi. Terlepas dari beberapa isu itu, Zuhad Aji dalam forum Muktamar Pepiat lebih khusus menyoroti isu Islamofobia.

“Saat ini, isu Islamofobia harus menjadi perhatian khusus kita sebagai aktivis pelajar atau pemuda Islam Asia Tenggara, mengingat isu ini semakin menggaung di tengah-tengah kita,” ungkap Zuhad Aji.

Dia pun membeberkan contoh gejala Islamofobia yang saat ini terjadi di Indonesia. Menurutnya, gejala-gejala Islamofobia itu muncul dalam istilah-istilah radikalisme, terorisme, intoleransi dan ekstrimisme yang sasaran tembaknya adalah menyudutkan Islam dan umat Islam.

Sponsored

“Isu-isu ini sengaja dihembuskan untuk menciptakan Islamofobia. Hingga persoalan memakai cadar dan celana cingkrang diributkan dan diidentifikasi sebagai radikalisme dan ekstrimisme,” jelasnya.

Untuk itu, Zuhad Aji berharap agar Muktaram PEPIAT kali ini menghasilkan konsep dan dan formula khusus untuk menangkal Islamofobia.

Untuk diketahui, para peserta Muktamar berkesempatan bertemu dengan YB Dato’ Seri Anwar Ibrahim. Peserta juga berkesempatan berdiskusi dengan Senator Dewan Negara Malaysia YB Ismail Yusof, Dr. Pimpinan Majlis Permesyuaratan Rakyat (MPR) RI Hidayat Nurwahid, dan Presiden PKPIM ke-18 dan Setiausaha Agung PEPIAT 1988-1990 Tn. Mustafa Kamil Ayyub.

HMI HMI
PB HMI MPO PB HMI MPO
Malaysia Malaysia
Islamofobia Islamofobia
Alika Naila Putri
Alika Naila Putri