sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Rusia dan Turki sepakat buat zona penyangga di Idlib

Zona penyangga akan memisahkan militer Suriah dari para pemberontak di Idlib.

Soraya Novika
Soraya Novika Selasa, 18 Sep 2018 13:16 WIB
Rusia dan Turki sepakat buat zona penyangga di Idlib

Rusia dan Turki sepakat untuk membuat zona penyangga demiliterisasi di provinsi Idlib untuk memisahkan militer Suriah dari para pemberontak yang bermarkas di sana.

Presiden Rusia Vladimir Putin mengatakan bahwa zona penyangga itu akan berdiri sepanjang 15 km hingga 25 km dan mulai berlaku pada tanggal 15 Oktober 2018. Pasukan Rusia dan Turki bersama-sama akan berpatroli di zona itu.

PBB sebelumnya telah memperingatkan kemungkinan terjadinya bencana kemanusian terburuk di Abad ke-21 bila militer Suriah terus melancarkan serangan di Idlib. Namun, setelah pertemuan antara Putin dan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan di Sochi pada Senin (17/9), Menteri Pertahanan Rusia Sergei Shoigu mengatakan bahwa pembuatan zona penyangga diyakini mampu menghentikan serangan di Idlib.

Putin mengatakan bahwa berdasarkan kesepakatan yang dibuat dari pertemuannya dengan Erdogan, semua persenjataan berat termasuk tank, sistem peluncur roket, dan mortir yang dioperasikan oleh kelompok pemberontak perlu ditarik keluar dari zona penyangga itu selambatnya pada 10 Oktober 2018.

Kelompok-kelompok jihadis, termasuk Front al-Nusra pun harus meninggalkan zona itu, tetapi tidak diterangkan secara jelas apakah zona itu termasuk kota Idlib secara menyeluruh atau bukan.

"Kami akan mencegah tragedi kemanusiaan yang bisa terjadi sebagai akibat dari kegiatan militer di sana," ujar Erdogan pada Senin kemarin.

Erdogan, sebelumnya menyerukan gencatan senjata di Suriah Utara untuk mencegah pertumpahan darah dan krisis pengungsi besar lainnya di perbatasan selatan Turki.

Rumah bagi 2,9 juta penduduk

Sponsored

Provinsi Idlib adalah kubu pertahanan besar terakhir kelompok pemberontak yang berusaha menggulingkan rezim Presiden Bashar al-Assad selama tujuh tahun terakhir. Perang sipil di Suriah diperkirakan telah menewaskan lebih dari 350.000 jiwa.

Idlib adalah rumah bagi sekitar 2,9 juta penduduk, termasuk di antaranya satu juta anak. Saat ini, ratusan ribu warga di Idlib hidup dalam kondisi yang mengerikan dan penuh sesak dengan kurangnya layanan dasar. Idlib tidak dikontrol oleh satu kelompok saja melainkan oleh sejumlah faksi pemberontak lainnya.

Terdapat hingga sekitar 70.000 faksi di Idlib. Kelompok dominan di sana adalah Hayat Tahrir al-Sham (HTS), yang beraliansi dengan al-Qaeda.

Idlib disebut sangat penting secara strategis. Wilayah ini berbatasan langsung dengan Turki dan melintasi jalan raya utama yang membentang dari Aleppo ke Hama dan ibu kota Damaskus, juga bersampingan dengan kota pesisir Mediterania, Latakia.

Jika Idlib berhasil dikuasai rezim Assad, maka itu secara efektif akan menjadi kekalahan telak bagi seluruh kelompok pemberontak di Suriah. (BBC)

Berita Lainnya