sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Politikus sayap kanan Jair Bolsonaro memenangi Pilpres Brasil

Bolsonaro menang di tengah latar belakang kemerosotan ekonomi, gejolak politik, skandal mega korupsi, dan meningkatnya kekerasan di Brasil.

Khairisa Ferida
Khairisa Ferida Senin, 29 Okt 2018 12:32 WIB
Politikus sayap kanan Jair Bolsonaro memenangi Pilpres Brasil

Politikus sayap kanan Jair Bolsonaro (63) memenangkan pemilu presiden Brasil 2018. Keberhasilan Bolsonaro dinilai menandai pergeseran politik negara dan ekonomi terbesar di Amerika Selatan tersebut.

Hasil resmi menunjukkan, Bolsonaro meraih 56% suara mengalahkan rivalnya Fernando Haddad, kandidat dari Partai Pekerja yang berhaluan kiri tengah, dalam pemungutan suara putaran kedua yang berlangsung pada Minggu (28/10).

Bolsonaro memberikan pidato kemenangannya via Facebook Live, menghindari konferensi pers langsung karena alasan keamanan. Pada September lalu, dia menderita penikaman fatal saat tengah berkampanye.

"Kita tidak lagi bisa bermain dengan sosialisme, komunisme, populisme, dan ekstremisme dari sisi kiri," katanya.

Bolsonaro mengatakan, Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang dikaguminya, telah meneleponnya untuk mengucapkan selamat. Dia mengklaim Trump bersikap sangat ramah.

Menyambut kemenangan Bolsonaro, para pendukungnya yang memakai kaos bergambar dirinya dan membawa bendera Brasil berkumpul di luar rumahnya di kawasan Barra da Tijuca di Rio de Janeiro.

Di Sao Paulo, para pendukung berkumpul di Avenida Paulista, jalan utama di kota itu, dengan bendera dan spanduk bertuliskan slogan Bolsonaro, 'Brazil above everything, God above everyone'. 

Janjikan keamanan

Sponsored

Pasca-terpilih sebagai presiden Brasil, Bolsonaro berjanji akan membela konstitusi, demokrasi, dan kebebasan. Dia membantah akan membawa negara itu ke arah otoritarianisme.

"Ini bukan janji dari sebuah partai, bukan pula kata-kata seorang laki-laki. Ini adalah sumpah di hadapan Tuhan," ungkap Bolsonaro dalam pidato kemenangannya.

Partai Pekerja telah memenangkan empat pemilu terakhir di Brasil. Pendiri partai yang populer, Luiz Inacio 'Lula' da Silva harusnya menjadi lawan Bolsonaro, namun dia tidak dapat maju karena menjadi terpidana korupsi.

Sepanjang kampanye, Bolsonaro berjanji untuk menindak kekerasan mematikan di Brasil. Tahun lalu, angka pembunuhan nyaris menyentuh 64.000. Bolsonaro ingin meningkatkan kepemilikan senjata api dan akan memberikan polisi carte blanche atau kekuasaan tidak terbatas untuk bertindak.

"Dia akan memberi kami keamanan yang dibutuhkan negara ini, dan selaras dengan itu pendidikan dan perawatan kesehatan akan mengikuti," ungkap Maria Lucia de Almeida (84) seorang pensiunan guru di Sao Paulo. "Dia jujur."

Namun, sebagian melihat sosok Bolsonaro adalah otoriter dan ancaman bagi demokrasi. Presiden terpilih itu pernah melontarkan pernyataan meremehkan soal LGBT, wanita, dan kelompok minoritas.

"Dia menegaskan bahwa dia tidak ingin duduk dan berdialog dengan mereka yang berbeda pendapat dengannya," tutur Pedro Igor Mantoun (29), seorang pengusaha dari Sao Paulo yang memilih Haddad. "Bagi negara mana saja, itu adalah hal buruk, terutama bagi negara yang demokrasinya masih muda seperti kita."

Masa lalu yang kontroversial

Naiknya popularitas Bolsonaro dari seorang anggota kongres pinggiran ke kursi presiden terjadi di tengah latar belakang kemerosotan ekonomi, gejolak politik, skandal mega korupsi, dan meningkatnya kekerasan.

Bolsonaro, seorang mantan perwira militer, adalah pendukung terang-terangan dari kediktatoran militer 1964-1985 yang brutal dan berdarah. Masa itu ratusan lawan politik dibunuh dan ribuan lainnya mengalami penyiksaan. 

Pekan lalu, selama pidatonya yang konfrontatif di hadapan ribuan pendukungnya, Bolsonaro berkoar bahwa 'penjahat kiri' akan ditendang keluar dari Brasil dan dia juga menjanjikan pembersihan yang belum pernah dilihat sebelumnya.

Ada pun setelah Haddad menderita kekalahan, pada hari Minggu dia mengatakan, dirinya akan bekerja untuk membela kebebasan dari 45 juta orang yang memilihnya.

Bolsonaro diprediksi akan menempatkan para jenderal dan mantan pejabat militer dalam kabinetnya.

Mengomentari kemenangan Bolsonaro, analis menekankan bahwa perubahan tidak dapat dihindari.

"Brasil tidak akan menjadi sebuah kediktatoran, kita tidak akan melihat kongres ditutup," kata Mauricio Santoro, seorang ilmuwan politik dan profesor hubungan internasional di Rio de Janeiro State University.

"Tapi kita tahu dari pengalaman di negara lain yang memilih seorang presiden ekstrem, itu membawa konsekuensi buruk bagi demokrasi."

Di tempat lain, dalam pemilihan gubernur di Sao Paulo, mantan walikota, taipan media dan sekaligus pembawa acara Program TV Apprentice versi Brasil, Joao Doria memenangkan perlombaan melawan petahana Marcio Franca.

Sementara itu, di Rio de Janeiro, sekutu Bolsonaro yang mantan hakim Wilson Witzel mengalahkan Eduardo Paes yang memimpin sebagai wali kota selama dua periode, termasuk ketika kota itu menjadi tuan rumah Olimpiade 2016. (Al Jazeera)

Berita Lainnya