sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Rusia, Jerman, Perancis, Turki serukan gencatan senjata di Suriah

Pemimpin Rusia, Jerman, Perancis, dan Turki berkumpul pada Sabtu (27/10) di Istanbul. Fokus mereka adalah isu Suriah.

Khairisa Ferida
Khairisa Ferida Senin, 29 Okt 2018 09:28 WIB
Rusia, Jerman, Perancis, Turki serukan gencatan senjata di Suriah
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 381.910
Dirawat 63.733
Meninggal 13.077
Sembuh 305.100

Pemimpin Rusia, Jerman, Perancis, dan Turki pada Sabtu (27/10) menekankan pentingnya gencatan senjata di Suriah, dan mengatakan komite untuk membuat konstitusi baru hendaknya bersidang pada akhir tahun ini.

Pemimpin empat negara tersebut berkumpul dalam pertemuan puncak di Istanbul untuk membahas Suriah.

Ankara, yang telah lama mendukung oposisi untuk menggulingkan Presiden Bashar al-Assad dan Moskow, sekutu utama presiden Suriah itu, membuat perjanjian untuk menciptakan daerah bebas militer di kawasan Idlib, Suriah barat laut.

Idlib dan kawasan di dekatnya adalah benteng terakhir oposisi, yang mengangkat senjata pada 2011 menentang Bashar. Kawasan itu adalah tempat tinggal tiga juta orang, lebih dari setengahnya sudah melarikan diri ke wilayah lain, sementara pasukan pemerintah bergerak maju.

"Rusia dan Turki telah merundingkan perjanjian yang harus dilaksanakan ketat. Jaminan-jaminan dibuat ... Kami semua akan waspada guna menjamin komitmen-komitmen ini dipenuhi dan gencatan senjata stabil dan lestari," kata Presiden Perancis Emmanuel Macron kepada wartawan. "Kami berharap Rusia melakukan tekanan sangat jelas terhadap rezim Suriah." 

Gempuran di Idlib menewaskan sedikitnya tujuh warga sipil pada Jumat (26/10). Jumlah korban tewas terbesar di sana sejak serangan-serangan udara Rusia berhenti pada pertengahan Agustus, kata satu pemantau perang.

Berdasarkan atas perjanjian mereka bulan lalu, Turki dan Rusia sepakat untuk membuat zona penyangga sepanjang 15-10 km ke wilayah pejuang yang harus dievakuasi seluruh senjata berat dan para pejuangnya.

Presiden Rusia Vladimir Putin mengatakan Turki memenuhi kewajibannya terkait persetujuan mengenai Idlib. Proses itu tak mudah, dan Rusia berencana terus bekerja sama, kata dia.

Sponsored

Macron, Putin, Presiden Turki Tayyip Erdogan dan Kanselir Jerman Angela Merkel juga menyerukan pertemuan komite konstitusional pada akhir tahun ini, demikian komunike bersama mereka.

Erdogan mengatakan kepada wartawan, pertemuan itu hendaknya diadakan sesegera mungkin, dan berharap pertemuan diselenggarakan sebelum akhir tahun.

Peserta pertemuan perdamaian Suriah di Rusia pada Januari setuju membentuk komite beranggota 150 orang untuk menulis kembali konstitusi Suriah, dengan sepertiga dipilih oleh pemerintah, sepertiga oleh kelompok oposisi dan sepertiga oleh PBB. (Ant)

Berita Lainnya