sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Aktivis antikorupsi Ukraina tewas setelah diserang air keras

Kateryna Handziuk meninggal pada Minggu (4/11) setelah mengalami serangan asam pada Juli lalu.

Khairisa Ferida
Khairisa Ferida Senin, 05 Nov 2018 10:26 WIB
Aktivis antikorupsi Ukraina tewas setelah diserang air keras

Kateryna Handziuk, seorang aktivis antikorupsi dan penasihat politik di Ukraina, meninggal pada Minggu (4/11) setelah menderita luka parah akibat serangan asam yang terjadi pada Juli lalu.

Handziuk yang merupakan penasihat wali kota Kherson dan kritikus polisi setempat menderita luka bakar parah hingga lebih dari sepertiga bagian tubuhnya setelah dia disemprot dengan satu liter asam sulfur di luar rumahnya di Kherson. 

Perempuan berusia 33 tahun tersebut selama ini dirawat di sebuah rumah sakit di Kiev, di mana dia menjalani 11 operasi.

Lima tersangka telah ditahan, namun tidak ada informasi lebih lanjut yang dapat mengungkap siapa yang mendalangi serangan tersebut.

Dari ranjang rumah sakit dengan luka bakar yang dideritanya, Handziuk belum lama ini meminta pemerintah untuk menyelidiki serangan yang meningkat terhadap para aktivis.

Polisi pada awalnya mencatat serangan terhadap Handziuk sebagai hooliganisme, namun setelah kegemparan publik muncul, mereka mengubahnya menjadi percobaan pembunuhan yang dilakukan dengan kekejaman ekstrem.

Kelompok pembela HAM lokal dan internasional telah mencatat, sejak awal 2017, terdapat lebih dari 55 serangan terhadap para aktivis yang belum terselesaikan. Termasuk yang menimpa Handziuk. 

Kemarin, Presiden Petro Poroshenko telah meminta lembaga penegak hukum untuk menempuh berbagai kemungkinan untuk menemukan dan menghukum pembunuh Handziuk.

Sponsored

Namun banyak yang mengatakan bahwa pernyataannya terlalu sedikit terlambat.

"Situasinya semakin memburuk dan telah berlangsung selama satu tahun. Banyak serangan yang berfokus pada identitas, yang dilakukan kelompok-kelompok sayap kanan terhadap LGBT dan orang-orang Roma. Namun sekarang serangan juga menimpa para aktivis anti-korupsi," tutur Marya Guryeva dari Amnesty International Ukraina.

Seorang ahli Ukraina dari Carnegie Europe, Natalia Shopavlova mengatakan, "Para aktivis berkampanye melawan korupsi, mereka menyebut nama-nama orang yang berada di balik perbuatan ilegal. Mereka yang disebut tidak senang dan mencoba untuk membungkam para aktivis."

Dalam satu contoh kasus, pada 4 Oktober lalu, politikus Sergiy Gusovsky disiram dengan cairan antiseptik dan dipukuli di Dewan Kota Kiev setelah pidatonya di sebuah rapat umum.

Gusovsky mengatakan, dirinya diserang karena menentang berbagai perjanjian investasi karena alasan ekologi. "Jika serangan di dalam Dewan Kota Kiev tidak dapat dihentikan, tidak mungkin untuk menjaga setiap publik figur tetap aman."

'Tidak pernah diadili'

Dua pekan sebelumnya, aktivis antikorupsi Oleg Mikhaylik ditinggalkan dalam kondisi kritis setelah ditembak di bagian dada oleh seorang pelaku tak dikenal. Peristiwa ini terjadi Odessa. Pada hari penembakan itu, dia memprotes pembangunan ilegal di Lanzheron Beach.

Mikhaylik, yang saat ini berada di rumah untuk alasan keamanan, memimpin cabang lokal gerakan Kekuatan Rakyat dan baru-baru ini mengumumkan dirinya sebagai kandidat untuk pemilihan wali kota 2020. Dia meyakini serangan itu dilakukan oleh pemerintah setempat.

Aktivis mengatakan polisi jarang menyelidiki serangan, memelihara iklim di mana lebih banyak kekerasan dapat terjadi.

"Orang-orang yang memerintahkan serangan tidak pernah dibawa ke pengadilan. Dalam sembilan bulan terakhir, hanya satu kasus yang diselidiki dan ditutup. Sembilan puluh sembilan persen dari waktu ada impunitas," jelas Guryeva.

Sementara itu Shopavlova menambahkan, "Kurangnya penyelidikan mencerminkan reformasi yang tidak memadai dalam sistem peradilan, dan korupsi adalah masalah terbesar yang dihadapi Ukraina hari ini."

Dmytro Bulakh, kepala Pusat Antikorupsi Kharkiv telah diserang beberapa kali. Yang teranyar terjadi pada Agustus 2017 ketika penyerang tidak dikenal memukulnya di kepala dan mematahkan tiga tulang rusuknya. Dia dirawat di rumah sakit selama sembilan hari.

Sebenarnya, pada pertengahan 2016, Presiden Poroshenko telah memperkenalkan apa yang dia sebut sebagai reformasi berorientasi Barat untuk membersihkan lembaga peradilan. Namun, pengkritiknya melihat tindakan tersebut sebagai upaya untuk mengontrol pengadilan dan memastikan impunitas bagi pejabat tingkat tinggi yang korup.

Menurut Bulakh, pemerintah memandang aktivis sipil sebagai lawan. "Saya yakin kepasifan dalam pemerintahan adalah semacam balas dendam atas upaya kami untuk membersihkan negara dari korupsi dan menciptakan pertanggungjawaban."

Selama beberapa bulan terakhir, para pemrotes berkumpul di luar gedung-gedung pemerintah di seluruh Ukraina dalam sebuah kampanye yang disebut "silence kills", mendesak pihak berwenang untuk menyelidiki serangan-serangan tersebut. (Al Jazeera)