logo alinea.id logo alinea.id

Sanksi terberat Amerika Serikat menanti Iran

Sanksi teranyar AS terhadap Iran digadang-gadang akan membuat Teheran terisolasi dari sistem keuangan internasional.

Khairisa Ferida
Khairisa Ferida Senin, 05 Nov 2018 18:21 WIB
Sanksi terberat Amerika Serikat menanti Iran

Amerika Serikat tengah bersiap menerapkan sanksi 'terberat'nya terhadap Iran, sebuah langkah yang telah memicu protes massal di negeri kaya minyak tersebut.

Pemerintahan Donald Trump memberlakukan kembali seluruh sanksi yang dihapus berdasarkan kesepakatan nuklir 2015, dengan menargetkan Iran dan negara-negara yang berdagang dengan Teheran.

Sanksi akan menghantam ekspor minyak, ekspedisi, dan perbankan atau secara gamblang dapat disebutkan semua bagian inti dari perekonomian Negeri Para Mullah.

Pada Minggu (4/11), ribuan warga Iran turun ke jalan dan meneriakkan 'Death to America', menegaskan penolakan mereka untuk bernegosiasi dengan AS. Demonstrasi ini berlangsung pada peringatan ke-39 pendudukan Kedutaan Besar AS di Teheran.

Sementara itu, Presiden Iran Hassan Rouhani telah bersumpah tidak akan mematuhi sanksi yang dijatuhkan AS. Di tengah krisis hubungan Washington-Teheran, militer Iran mengumumkan akan menggelar latihan pertahanan udara pada Senin (5/11) dan Selasa (6/11) untuk membuktikan kemampuan mereka.

Di AS, Trump sendiri sempat mengatakan bahwa Iran telah susah payah bertahan di bawah kebijakan-kebijakan pemerintahannya. Trump menjamin bahwa sanksi teranyar akan sangat kuat.

"Kita akan melihat apa yang terjadi dengan Iran," ujar presiden ke-45 AS tersebut.

Negeri Paman Sam memberlakukan kembali sanksi terhadap Iran setelah Trump menarik AS mundur dari kesepakatan nuklir 2015 pada Mei lalu. Kesepakatan yang diteken pada era Barack Obama tersebut bertujuan untuk membatasi ambisi nuklir Iran.

Sponsored

Washington juga mengatakan ingin menghentikan apa yang mereka sebut kegiatan merusak yang dilakukan Teheran, termasuk di antaranya serangan siber, uji coba rudal balistik, dan dukungan bagi kelompok-kelompok ekstremis di Timur Tengah. 

"Kami bekerja keras untuk memastikan bahwa kami mendukung rakyat Iran dan bahwa kami mengarahkan kegiatan kami untuk memastikan bahwa perilaku buruk pemerintah Iran berubah," tutur Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo kepada Fox News pada hari Minggu kemarin. "Itulah tujuannya, misinya, dan itulah yang akan kami lakukan atas nama presiden."

Dampak sanksi bagi Iran

AS telah secara bertahap memberlakukan kembali sanksi. Namun, para analis mengatakan putaran terakhir ini adalah yang paling signifikan.

Lebih dari 700 individu, entitas, kapal dan pesawat terbang kini masuk dalam daftar sanksi, termasuk pula di antaranya sejumlah bank besar, eksportir minyak dan perusahaan pelayaran.

Menurut Pompeo, lebih dari 100 perusahaan global telah ditarik dari Iran sebagai akibat sanksi. Dia menambahkan bahwa ekspor minyak Iran telah turun nyaris satu juta barel per hari. Hal tersebut digambarkan telah mencekik sumber utama pendanaan negara itu.

Korporasi global penyedia layanan olah pesan keuangan, Swift, yang bermarkas di Brussels disebut-sebut akan memotong hubungan dengan lembaga-lembaga Iran yang ditargetkan. Hal tersebut akan menjadikan Iran terisolasi dari sistem keuangan internasional.

Reaksi negara-negara Uni Eropa

Inggris, Jerman dan Perancis, yang merupakan pihak yang masih berkomitmen pada pakta nuklir Iran, keberatan dengan sanksi tersebut.

Mereka telah berjanji untuk mendukung perusahaan-perusahaan Eropa yang melakukan bisnis yang sah dengan Iran dan telah menyiapkan mekanisme pembayaran alternatif atau Special Purpose Vehicle (SPV) yang akan membantu perdagangan perusahaan tanpa menghadapi sanksi AS.

Namun, analis meragukan ini secara material akan mengurangi dampak sanksi terhadap Iran.

Dalam beberapa hari terakhir, Menteri Keuangan AS Steven Mnuchin mengingatkan bahwa pihaknya akan agresif menargetkan setiap perusahaan atau organisasi yang menghindari sanksi mereka.

Terkait dengan sanksi terbaru, pemerintahan Trump telah memberikan pengecualian ke delapan negara untuk terus mengimpor minyak Iran. Namun, dia tidak menyebutkan nama negara-negara itu..

Namun laporan menyebut, di antara delapan negara itu adalah Italia, India, Jepang, Korea Selatan, Turki, Cina dan India.

Menlu Pompeo menjelaskan bahwa delapan negara-negara tersebut telah membuat pengurangan signifikan terhadap ekspor minyak mentah Iran. Kendati demikian, mereka membutuhkan sedikit lebih banyak waktu untuk mencapai nol. 

Pompeo menambahkan dua negara pada akhirnya akan menghentikan impor dan enam lainnya akan sangat menguranginya. (BBC)