logo alinea.id logo alinea.id

Korea Selatan tutup rumah jagal anjing terbesar

Masyarakat di Korea Selatan umumnya melahap daging anjing sebagai santapan musim panas.

Valerie Dante
Valerie Dante Kamis, 22 Nov 2018 18:12 WIB
Korea Selatan tutup rumah jagal anjing terbesar

Mulai Kamis (22/11), pejabat Korea Selatan membongkar kompleks rumah jagal anjing terbesar di negara itu. Langkah ini didorong oleh desakan para aktivis hak hewan agar kebiasaan makan daging anjing diakhiri.

Sekitar satu juta anjing dikonsumsi per tahunnya di Korea Selatan. Warga di Negeri Ginseng umumnya melahap daging anjing sebagai santapan musim panas, dagingnya yang direbus hingga lembut diyakini dapat meningkatkan energi.

Namun, tradisi ini menuai kritik. Praktiknya pun dilaporkan telah berkurang di tengah masyarakat Korea Selatan seiring dengan negara itu yang semakin merangkul gagasan anjing sebagai hewan peliharaan bukan hewan ternak.

Saat ini, kalangan pemuda Korea Selatan berpandangan makan daging anjing adalah hal tabu. 

Kompleks Taepyeong-dong di kota Seongnam, Seoul selatan, memuat setidaknya enam rumah jagal anjing yang dapat menampung beberapa ratus ekor sekaligus.

Rumah-rumah jagal ini menjadi sumber pemasok utama untuk restoran penyedia daging anjing di seluruh negeri.

Menurut pejabat kota Seongnam, dalam dua hari ke depan, tempat tersebut akan dibersihkan dan diubah menjadi taman umum.

Aktivis hak hewan mengecam operatornya karena telah menganiaya dan membunuh anjing dengan kejam, termasuk menyetrum sebelum memotong mereka di hadapan anjing-anjing yang dikurung lainnya.

Sponsored

Kelompok aktivis hak hewan asal Amerika Serikat Humane Society International mengatakan para aktivis menemukan peralatan listrik di kompleks dan setumpuk bangkai anjing ketika mereka mengunjungi tempat tersebut pada Kamis waktu setempat. 

"Ini adalah momen bersejarah," tutur Pendukung Hak Hewan Korea (KARA) di blog mereka. "Ini akan membuka pintu untuk lebih banyak lagi penutupan rumah jagal anjing di seluruh negeri, mempercepat penurunan industri daging anjing secara keseluruhan."

Menurut survei tahun lalu, sebanyak 70% warga Korea Selatan tidak makan daging anjing. Namun, hanya sekitar 40% yang percaya bahwa praktik itu harus dilarang.

Survei ini juga menemukan dukungan sebanyak 65% untuk memelihara dan membantai anjing dalam kondisi yang lebih manusiawi.

Saat ini belum ada hukum tentang cara merawat atau membunuh anjing di Korea Selatan. Meski para petani telah mendesak Seoul untuk memasukkan anjing dalam regulasi kesejahteraan ternak, kelompok hak hewan menentang untuk melakukannya dan mencari penghapusan sepenuhnya dari pembantaian ini. (AFP)