sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Tegang dengan Rusia, Ukraina berlakukan hukum darurat perang

Pada hari Minggu (25/11) Rusia menangkap tiga kapal AL Ukraina dan menahan 24 awaknya.

Khairisa Ferida
Khairisa Ferida Selasa, 27 Nov 2018 10:05 WIB
Tegang dengan Rusia, Ukraina berlakukan hukum darurat perang
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 2491
Dirawat 2090
Meninggal 209
Sembuh 192

Anggota parlemen Ukraina pada Senin (26/11) waktu setempat sepakat untuk memberlakukan darurat militer atau hukum darurat perang di wilayah perbatasan negara itu dengan Rusia. Keputusan ini diambil setelah Rusia menangkap tiga kapal Angkatan Laut Ukraina dan menahan 24 pelaut di jalur perairan yang menghubungkan Laut Azov dan Laut Hitam.

Ini merupakan kali pertama Ukraina menunjukkan eskalasi besar dalam ketegangan dengan Rusia. Keduanya, sama-sama merupakan negara bekas Uni Soviet.

Hukum darurat perang, yang dapat memberi pemerintah kekuatan luar biasa atas masyarakat sipil, akan mulai berlaku pada 28 November dan akan berlangsung selama 30 hari. Terdapat 276 anggota parlemen yang memilih penerapan hukum darurat perang tersebut.

Dalam sebuah pernyataan di Twitter, Presiden Ukraina Petro Poroshenko mengatakan bahwa darurat militer akan diterapkan hanya di wilayah yang berbatasan dengan Rusia atau berdekatan dengan wilayah di mana tentara Rusia ditempatkan. Itu termasuk wilayah yang berbatasan dengan Azov dan Laut Hitam serta sebagian perbatasan dengan Trasnistria, Moldova, tempat di mana pasukan Rusia berjaga.

Dalam penjelasannya terkait insiden pada Minggu tersebut, Ukraina menyebutkan bahwa dua kapal perang kecil dan satu tugboat atau kapal tunda diserang oleh Angkatan Laut Rusia setelah memasuki Selat Kerch. Ketiga kapal Ukraina tersebut dalam perjalanan menuju kota Mariupol dari Pelabuhan Odessa.

Selat Kerch. / Google Maps

Video dari insiden yang dirilis oleh pejabat Ukraina menunjukkan bahwa kapal Rusia menabrak kapal tunda Ukraina. Peristiwa itu telah memicu kemarahan di Kiev.

Selama pertemuan darurat Dewan Keamanan PBB untuk meredakan ketegangan yang meningkat setelah konfrontasi hari Minggu, Duta Besar Amerika Serikat untuk PBB Nikki Haley, menyatakan insiden itu sebagai eskalasi sembrono oleh Rusia dan menuntut agar Kremlin segera membebaskan para pelaut Ukraina.

Sponsored

"Menghalangi transit sah Ukraina melalui Selat Kerch adalah pelanggaran di bawah hukum internasional. Ini adalah tindakan arogan yang harus dikutuk dan tidak akan pernah diterima oleh komunitas internasional," terang Haley.

Diplomat AS tersebut menegaskan bahwa Rusia telah melakukan pelanggaran serius atas kedaulatan Ukraina.

Sementara itu, Wakil Presiden AS Mike Pence pada Senin kemarin menyerukan agar Ukraina dan Rusia sama-sama menahan diri atas insiden tersebut.

"AS mengutuk tindakan Rusia yang agresif ini. Kami menyerukan Rusia untuk mengembalikan kapal Ukraina dan awaknya yang ditahan, dan  menghormati kedaulatan Ukraina serta integritas teritorial dalam batas-batas yang diakui secara internasional," papar Pence.

Angkatan Laut Ukraina mengklaim bahwa enam dari pelautnya terluka dalam insiden tersebut.

Pada hari Senin, kantor berita Rusia RIA dengan mengutip sumber dari badan keamanan mengonfirmasi bahwa ke-24 pelaut Ukraina telah ditahan. Tiga di antaranya kini berada di rumah sakit.

Juru bicara Kremlin Dmitry Peskov menggambarkan insiden ini sebagai provokasi berbahaya oleh Kiev yang membutuhkan perhatian dan penyelidikan khusus. Demikian seperti dilaporkan kantor berita TASS.

Selat Kerch, sebuah perairan yang dangkal dan sempit berada di antara Crimea dan Rusia. Ini merupakan jalur ekonomi penting Ukraina, karena memungkinkan kapal-kapalnya mengakses Laut Hitam.

Bagi Rusia, selat tersebut merupakan titik terdekat akses ke Crimea, semenanjung yang dianeksasi Moskow dari Ukraina pada tahun 2014. Sebuah jembatan buatan Rusia di Selat Kerch telah dibuka pada Mei lalu.

NATO: Tindakan Rusia tidak berdasar

Merespons insiden ini, Sekretaris Jenderal NATO Jens Stoltenberg mengatakan bahwa tindakan Rusia menyita kapal Ukraina tidak berdasar.

"Apa yang kami lihat sangat serius karena kami benar-benar melihat Rusia menggunakan kekuatan militer terhadap Ukraina secara terbuka dan langsung," ujar Stoltenberg seraya menambahkan bahwa NATO telah meningkatkan kehadirannya di wilayah Laut Hitam. "Kami harus menunjukkan kepada Rusia bahwa tindakan mereka punya konsekuensi."

Dalam kesempatan berbeda sebelumnya, Stoltenberg telah menjanjikan dukungan penuh NATO atas integritas teritorial Ukraina.

Dukungan terhadap Ukraina pun datang dari Uni Eropa. Juru bicara Urusan Luar Negeri Uni Eropa Maja Kocijancic mengutuk Rusia dalam konferensi persnya pada Senin kemarin. Dia mendesak Moskow untuk segera membebaskan kapal dan para awaknya.

Negara-negara Eropa yang menjadi anggota Dewan Keamanan PBB seperti Prancis, Belanda, Polandia, Swedia, dan Inggris juga meminta Rusia untuk memulihkan kebebasan perjalanan di Selat Kerch.

Rusia dan Ukraina telah terkunci dalam konflik yang memanas sejak pencaplokan Crimea dan perang dengan kelompok separatis yang didukung Rusia di bagian timur Ukraina.

Klaim yang berbeda

Ukraina dan Rusia merilis laporan bertentangan tentang insiden itu, masing-masing menuduh pihak lain melanggar hukum laut. Perjanjian tahun 2003 menegaskan Laut Azov dan Selat Kerch sebagai perairan domestik Rusia dan Ukraina.

Layanan perbatasan Dinas Keamanan Federal (FSB) Rusia di Crimea melaporkan bahwa tiga kapal perang Ukraina secara ilegal memasuki perairan teritorial Rusia dan melakukan manuver berbahaya, lapor TASS.

Dalam laporannya TASS juga menyebutkan, tiga kapal Ukraina ditahan oleh pasukan Rusia dan bahwa "senjata digunakan untuk memaksa mereka berhenti."

"Mereka tidak menanggapi permintaan oleh kapal-kapal FSB yang mengawal mereka untuk segera berhenti dan melakukan manuver berbahaya," kata FSB seperti dilansir TASS. "Tiga prajurit Ukraina terluka dan menerima perawatan medis dari Rusia."

Angkatan Laut Ukraina, di sisi lain, mengatakan kapal patroli perbatasan Rusia "melakukan aksi agresif secara terbuka" terhadap kapal-kapal Ukraina.

Kantor Presiden Poroshenko menggambarkan tindakan Rusia terhadap kapal-kapal angkatan laut Ukraina sebagai "tindakan agresi yang ditujukan untuk secara sengaja meningkatkan situasi di perairan Laut Azov dan Selat Kerch," dan menyerukan kecaman internasional terhadap Moskow dan pengenaan sanksi baru.

Dalam sebuah unggahan di Facebook, juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia Maria Zakharova mengatakan insiden itu telah dirancang untuk "mengalihkan perhatian dari masalah internal yang membinasakan Ukraina dan menyalahkan tetangga yang bertanggung jawab atas semua masalah Ukraina."

Pasca-insiden, Rusia sempat menutup sementara selat itu. Namun, kini Kerch telah dibuka kembali untuk pelayaran sipil, sebut TASS.

Sumber : CNN

Opsi lockdown yang diabaikan Jokowi...

Opsi lockdown yang diabaikan Jokowi...

Senin, 06 Apr 2020 06:02 WIB
Menagih janji keringanan cicilan utang

Menagih janji keringanan cicilan utang

Senin, 06 Apr 2020 05:43 WIB
Berita Lainnya