logo alinea.id logo alinea.id

100 tahun pembantaian Amritsar, Inggris tidak kunjung minta maaf

Pembantaian Amritsar terjadi pada 13 April 1919, saat seorang jenderal Inggris memerintahkan penembakan terhadap para demonstran India.

Khairisa Ferida
Khairisa Ferida Minggu, 14 Apr 2019 10:13 WIB
100 tahun pembantaian Amritsar, Inggris tidak kunjung minta maaf

Winston Churchill menyebut pembantaian para demonstran India pada 1919 mengerikan. Ratu Elizabeth mencapnya sebagai bekas luka yang memalukan dalam sejarah hubungan Inggris-India.

Pada Februari, anggota parlemen Inggris mengadakan debat penuh pertama tentang pembantaian tersebut. Beberapa mendesak permintaan maaf, dengan alasan bahwa itu merupakan langkah penting menuju pemulihan. Debat yang sama berlangsung kembali pada Selasa (9/4), beberapa hari jelang peringatan seabad tragedi itu.

Namun, PM Theresa May pada Rabu (10/4) hanya menuturkan, "Kami sangat menyesal atas apa yang terjadi dan penderitaan yang ditimbulkan."

Dia menambahkan bahwa hubungan Inggris dan India saat ini adalah kolaborasi kemitraan, kemakmuran dan keamanan.

Harsimrat Kaur Badal, seorang menteri di pemerintahan PM Narendra Modi menolak pernyataan May dan menuntut permintaan maaf penuh dari Inggris.

"Pernyataan Perdana Menteri Inggris Theresa May yang menyebut #JallianwalaBaghMassacre sebagai sebuah tindakan memalukan dalam sejarah Inggris-India tidak cukup baik. Seharusnya ada permintaan maaf dengan kata-kata yang jelas," twitnya.

Hingga hari ini tidak satu kata maaf pun terlontar dari para pemimpin Inggris. 

Sponsored

Soal pembantaian Jallianwala Bagh atau dikenal pula pembantaian Amritsar, pernyataan mereka hanya berhenti pada titik empati. 

Jallianwalla Bagh adalah sebuah taman publik. Pada 13 April 1919, ratusan orang yang secara damai memprotes pemerintahan kolonial ditembak mati atas perintah seorang jenderal Inggris, Brigjen Reginald Dyer.

Dyer memerintahkan sekitar 50 tentara untuk menembaki massa yang tidak bersenjata.

Menurut sebuah komisi resmi, jumlah korban tewas 379 orang, dengan lebih dari 1.000 orang lainnya terluka. Tetapi, jumlah korban tewas diperkirakan lebih tinggi.

Unjuk rasa digelar untuk menentang larangan majelis umum di wilayah Punjab dan memprotes penangkapan dua pemimpin nasional, Satya Pal and Saifuddin Kitchlew. Namun, ada pula sejumlah orang yang berada di kawasan yang sama tengah merayakan hari besar keagamaan.

Dyer membela tindakannya. Dalam suratnya dia mengatakan bahwa dia menyerang kerumunan karena mereka berkumpul dalam pemberontakan terbuka melawan kerajaan.

Ketika dia kembali ke Inggris, pendukungnya memberikan dia sebuah pedang berhias permata bertuliskan, "Saviour of the Punjab". Dan sang jenderal tidak pernah dipenjara atas perbuatannya.

Sabtu kemarin merupakan peringatan 100 tahun pembantaian Amritsar dan Inggris tidak jua menyerah pada tekanan yang meningkat untuk akhirnya meminta maaf.

Di Amritsar sendiri, sebuah tugu didirikan untuk mengenang tragedi itu, di mana sejumlah orang menyalakan lilin pada 13 April.

Komisioner Tinggi Inggris untuk India Dominic Asquith menulis pernyataan yang serupa dengan PM May di buku tamu: "Kami sangat menyesali apa yang terjadi dan penderitaan yang ditimbulkan."

Saat didesak wartawan dia mengatakan, "Saya ingin menulis ulang sejarah, tapi tentu tidak bisa. Apa yang bisa dilakukan, seperti yang telah disampaikan sebelumnya, adalah mempelajarinya."

Pembantaian Amritsar dianggap sebagai momen kunci dalam sejarah gerakan kemerdekaan India, membantu mengonsolidasikan dukungan untuk mengakhiri kekuasaan Inggris.

Pada 1997, Ratu Elizabeth mengunjungi Jallianwala Bagh. Di sana dia mengheningkan cipta selama 30 detik, membuka sepatunya dan meletakkan bunga marigold di tugu peringatan.

Ketika pada 2013, David Cameron berkunjung ke Amritsar, banyak yang berpikir dia akan minta maaf. Tapi yang dilakukannya hanya meletakkan karangan bunga di Jallianwala Bagh dan menyebut tragedi tersebut sangat memalukan.

Sejumlah anggota parlemen menggarisbawahi kemungkinan komplikasi permintaan maaf. Pada Selasa, Menteri Muda Urusan Asia dan Pasifik Kemlu Inggris Mark Field mengatakan, pemerintah harus mempertimbangkan implikasi keuangan dari permintaan maaf. Yang lainnya mendukung Field dengan menegaskan mereka tidak tertarik membuka luka lama.

Dalam sebuah wawancara belum lama ini, Lord Meghnad Desai, salah satu anggota parlemen Inggris mengatakan bahwa jika satu kekejaman era kolonial ditebus, seruan untuk melakukannya pada kasus-kasus lainnya dapat menyusul.

"Dari mana Anda harus memulai dan mengakhirinya?," kata Desai.

Lewat permintaan maaf atau tidak, Amritsar tidak akan terlupakan. Pekan lalu, sekelompok orang berunjuk rasa di luar bekas kediaman Jenderal Dyer dan memimpin prosesi ke lokasi pembantaian. (The New York Times dan The Guardian)