logo alinea.id logo alinea.id

173 perusahaan sepatu desak Trump akhiri perang dagang

Sejumlah perusahaan sepatu itu termasuk di antaranya Nike, Adidas, Clarks, Dr. Martens, dan Converse.

Valerie Dante
Valerie Dante Rabu, 22 Mei 2019 12:52 WIB
173 perusahaan sepatu desak Trump akhiri perang dagang

Sejumlah perusahaan sepatu terbesar di dunia mendesak Donald Trump untuk mengakhiri perang dagang Amerika Serikat dan China. Mereka memperingatkan bahwa perang dagang dapat menjadi bencana bagi para konsumen.

Dalam surat yang ditandatangani oleh 173 perusahaan sepatu, termasuk Nike dan Adidas, mereka mengatakan keputusan Trump untuk menaikkan tarif impor hingga 25% atas produk-produk China akan berdampak buruk.

Mereka juga memperingatkan bahwa tarif yang lebih tinggi dapat mengancam masa depan sejumlah bisnis lainnya. "Sudah saatnya untuk mengakhiri perang dagang ini," desak sejumlah perusahaan itu.

Trump meningkatkan tarif impor China senilai US$200 miliar atau dari 10% menjadi 25% pekan lalu. Langkah ini diambil setelah Washington dan Beijing gagal mencapai kesepakatan perdagangan.

China membalas dengan mengumumkan rencana untuk menaikkan tarif atas impor AS sebesar US$60 miliar mulai 1 Juni.

Perusahaan-perushaan sepatu yang menandatangani surat itu, termasuk Clarks, Dr. Martens, dan Converse, mengklaim bahwa walaupun tarif rata-rata AS untuk sepatu adalah 11,3%, namun dalam beberapa kasus tarif dapat meningkat hingga 67,5%.

"Menambahkan 25% di atas tarif itu akan menyebabkan harganya terlalu tinggi dan tidak dapat dijangkau beberapa kelas ekonomi warga AS," jelas mereka.

Ketika menaikkan tarif awal bulan ini, Trump mengatakan kepada perusahaan-perusahaan bahwa mereka dapat mengurangi biaya dengan memindahkan pabrik produksi ke AS.

Sponsored

Namun, produsen sepatu mengatakan bahwa mereka tidak dapat semudah itu melakukannya.

"Industri sepatu adalah industri yang sangat padat modal, butuh bertahun-tahun perencanaan untuk membuat keputusan, dan perusahaan tidak dapat dengan mudah memindahkan pabrik untuk menyesuaikan dengan perubahan ini," tulis surat pernyataan itu.

Pembalasan

Pada Selasa (21/5), sebuah survei di China menyatakan bahwa lebih dari 40% perusahaan yang berada di Beijing telah memutuskan untuk pindah atau sedang mempertimbangkan untuk memindahkan fasilitas produksi ke luar Tiongkok akibat kenaikan tarif AS.

Sedangkan, survei Kamar Dagang AS di China menyebutkan bahwa sepertiga responden menunda atau membatalkan keputusan berinvestasi di sejumlah perusahaan karena ada penyesuaian tarif baru.

Banyak pakar yang berpendapat bahwa eskalasi konflik dagang, termasuk pembatasan ketat terhadap Huawei, menimbulkan kekhawatiran bagi bisnis di China.

Pekan lalu, administrasi Trump mencantumkan raksasa telekomunikasi, Huawei, ke daftar entitas dan melarang perusahaan itu untuk memperoleh teknologi dari perusahaan-perusahaan AS tanpa persetujuan pemerintah.

Ketua Kamar Dagang AS di China Tim Stratford menyatakan keprihatinannya atas dampak dari tindakan AS terhadap Huawei. "Ada kekhawatiran bahwa pemerintah China mungkin akan membalas dan melakukan langkah serupa terhadap perusahaan-perusahaan AS," kata Stratford.

Namun, Beijing mengisyaratkan kesediaan untuk bekerja sama dengan Washington demi menyelesaikan sengketa dagang. Sejak diskusi berakhir pada 10 Mei, kedua negara belum menetapkan tanggal untuk melanjutkan perundingan dagang baru. 

"China tetap siap untuk melanjutkan pembicaraan dengan rekan-rekan AS. Pintu kami masih terbuka," kata Duta Besar China untuk AS Cui Tiankai.

Para pemimpin AS dan China juga akan bertemu lagi di KTT G20 di Jepang pada Juni.