logo alinea.id logo alinea.id

40 tahun pasca-Revolusi Islam, Iran: Kami paling stabil di Timur Tengah

Revolusi Islam yang terjadi 40 tahun silam telah mengubah sejarah Iran, dari pemerintahan monarki menjadi negara Islam.

Valerie Dante
Valerie Dante Selasa, 12 Feb 2019 09:22 WIB
40 tahun pasca-Revolusi Islam, Iran: Kami paling stabil di Timur Tengah

Empat puluh tahun pasca-Revolusi Islam, Iran mengklaim telah berhasil menjadi negara paling stabil di wilayah Timur Tengah.

"Hari ini, setelah 40 tahun berjalan, kami dengan penuh percaya diri mengumumkan bahwa Iran, dengan dukungan penuh rakyatnya, telah berhasil menjadi negara paling stabil di wilayah Timur Tengah yang penuh kemelut dan perpecahan," tutur Duta Besar Iran untuk Indonesia Valiollah Mohammadi dalam perayaan peringatan 40 tahun revolusi Iran di Hotel Kempinski, Jakarta, Senin (11/2).

Dalam pidatonya, Dubes Mohammadi mengungkapkan kebanggaannya karena Iran merupakan salah satu negara paling demokratis di dunia dengan masyarakat yang terdiri dari campuran etnis, agama, dan kepercayaan.

"Semua kepercayaan di Iran memiliki kesetaraan hak sosial, mereka benar-benar bebas melaksanakan ritual dan upacara keagamaan masing-masing," imbuhnya.

Untuk menopang kestabilan itu, pemerintah Iran berupaya untuk memperluas perdagangan, interaksi ekonomi dan politik, serta membangun hubungan berdasarkan rasa saling menghormati dengan semua negara.

Iran menjadikan perluasan hubungan dengan negara-negara di kawasan mau pun di kancah global sebagai salah satu agenda kerjanya.

"Strategi kebijakan luar negeri Iran didasarkan pada interaksi konstruktif dengan semua negara. Pemerintah Iran berhubungan baik dengan seluruh negara tetangganya, dan jauh dari ketegangan," tegas Dubes Mohammadi.

Iran menyayangkan kondisi di Timur Tengah yang dinodai aksi terorisme dan ekstremisme. "Iran sebagai salah satu korban terorisme selama 40 tahun terakhir, telah menjadikan perlawanan terhadap berbagai bentuk teror dan kekerasan sebagai prioritas negara."

Sponsored

Salah satu cara yang dilakukan Teheran untuk memperluas perdamaian dan menyelesaikan persoalan serta krisis adalah dengan menerapkan pendekatan dialog dan negosiasi tanpa kekerasan.

"Sayangnya, saat ini di wilayah Timur Tengah kita justru disuguhkan oleh kondisi yang sangat kompleks dan membingungkan akibat maraknya aktivitas terorisme dan ekstremisme," ungkapnya. "Hari demi hari warga sipil, khususnya anak-anak dan perempuan, menjadi korban perang di beberapa negara dunia, antara lain di Yaman."

Dalam situasi seperti ini, Iran mengajak dunia untuk bekerja sama lebih erat, berinteraksi lebih intens, dan bertukar pendapat untuk menanggulangi serta mencegah aksi teror di Timur Tengah dan juga di ranah global.

"Memerangi terorisme dan ekstremisme membutuhkan tekad internasional," tutupnya.

Iran-RI jalin kerja sama keamanan pangan hingga sosial budaya

Dubes Mohammadi menerangkan bahwa keharmonisan hubungan diplomatik antara Iran dan Indonesia telah mengakar sejak lama dengan kerja sama bilateral yang erat dalam berbagai bidang.

Dubes Mohammadi menyatakan pemerintah Iran fokus mengekspansi dan mengembangkan seluruh bidang kerja sama dengan Indonesia. 

Pertama, Iran fokus untuk terus investasi dan fokus dalam kerja sama keamanan pangan. Kedua, lanjut Mohammadi, Iran berencana untuk menyoroti kerja sama bidang kesehatan. 

Salah satu caranya adalah dengan mempromosikan wisata kesehatan yang mengajak pengunjung negara asing untuk berobat ke Iran.

"Iran menjadi pusat medis di Asia Barat dan memiliki kemajuan pesat dalam pengembangan stem cell, pemulihan cedera tulang belakang, penyediaan perawatan yang strategis, hingga kloning binatang," tutur Dubes Mohammadi.

Selain itu, Iran juga menjadi barisan terdepan di antara negara lain di Timur Tengah dalam memproduksi obat-obatan dan vaksin untuk manusia dan hewan. Kini, Mohammadi mengklaim bahwa Iran berhasil mencukupi kebutuhan sendiri dengan memproduksi 95% dari vaksin-vaksinnya.

Bidang lain yang menjadi prioritas adalah pendidikan. Dalam bidang ilmu pengetahuan, Dubes Mohammadi mengatakan pertumbuhan pendidikan di Iran menduduki peringkat ke-12 di dunia.

Iran, menurut Dubes Mohammadi, menjadi negara keempat di dunia dengan nanoteknologi terkemuka.

"Oleh sebab itu kami memiliki perwakilan dari badan nanoteknologi Iran yang menetap di Indonesia untuk mengembangkan kerja sama di bidang ini," lanjutnya.

Berikutnya adalah keamanan dan pertahanan. Dubes Mohammadi menilai situasi di Timur Tengah selalu penuh persoalan dan krisis, penuh ancaman terorisme dan ekstremisme. Maka dari itu, dia merasa Iran dan Indonesia perlu berjuang bersama melawan ancaman-ancaman terorisme dan ekstremisme. "Hubungan Iran dan Indonesia dapat saling menguntungkan dalam menangani isu-isu terorisme, demokrasi, dan penghormatan hak asasi manusia."

Di bidang ekonomi dan perdagangan, potensi dan kapabilitas yang dimiliki oleh Iran dan Indonesia menjadi kunci untuk meningkatkan volume perdagangan. Mohammadi menyebutkan, selama beberapa tahun terakhir, kerja sama perdagangan antara kedua negara berjalan dengan baik.

Hal serupa pun disampaikan oleh Menteri Koordinator Perekonomian RI Darmin Nasution. Darmin menyatakan bahwa hubungan perdagangan bilateral kedua negara terus tumbuh secara stabil.

"Melalui upaya bersama, saya sangat yakin kita dapat mengatasi tantangan perdagangan dan meraih potensial hebat yang menguntungkan kedua belah pihak," tutur Darmin dalam kesempatan yang sama.

Sedangkan dalam bidang sosial dan budaya, peningkatan daya pariwisata juga akan menjadi fokus pemerintah kedua negara.

"Kami menyambut inisiatif dan usaha dari kedua negara untuk mempromosikan hubungan people to people melalui turisme. Saya harap hubungan kerja sama ini akan terus ada dan bahkan meningkat kualitasnya," ujar Darmin.