logo alinea.id logo alinea.id

6 demonstran anti-RUU ekstradisi Hong Kong ditangkap

Penyelenggara mengatakan 230.000 orang berpartisipasi dalam unjuk rasa pada Minggu (7/7), namun polisi mengklaim jumlahnya 56.000 jiwa.

Valerie Dante
Valerie Dante Senin, 08 Jul 2019 12:17 WIB
6 demonstran anti-RUU ekstradisi Hong Kong ditangkap

Pada Senin (8/7), polisi mengumumkan telah menangkap enam orang selama demonstrasi di salah satu daerah wisata paling populer di Hong Kong pada Minggu (7/7) malam waktu setempat.

Puluhan ribu pemrotes melakukan aksi unjuk rasa dalam upaya meningkatkan kesadaraan para wisatawan China terkait krisis politik yang telah mengguncang kota itu selama beberapa pekan terakhir. Mereka berkumpul di stasiun kereta berkecepatan tinggi yang digunakan untuk transit ke China daratan.

Demonstran menggunakan payung sebagai tameng untuk bertahan dari polisi, bentrokan berlangsung selama 20 menit di jalan utama di distrik Mongkok. Sebelumnya, polisi menggunakan pengeras suara dan mendesak agar demonstran membubarkan diri.

Itu adalah protes besar pertama sejak demonstran menerobos masuk ke gedung Dewan Legislatif (LegCo) pada 1 Juli, tepat pada perayaan 22 tahun penyerahan kedaulatan Hong Kong ke China. Mereka mengepung dan menerobos masuk ke gedung LegCo sebelum akhirnya dibubarkan oleh polisi yang menembakkan gas air mata.

Pada Minggu, kerumunan orang berpakaian hitam berbaris dari Tsim Sha Tsui, sebuah kawasan perbelanjaan yang sibuk, ke Stasiun West Kowloon. Mereka berharap dapat menarik perhatian wisatawan China dan menyebarkan pesan tentang perlawanan damai.

"Kami ingin memberi tahu citra protes ini yang sebenarnya. Kami perlu menunjukkan bahwa demonstrasi terjadi secara damai dan anggun," tutur politikus lokal, Ventus Lau Wing-hong.

Dengan harapan menyebarkan pemahaman mengenai krisis politik Hong Kong, para pengunjuk rasa melambaikan bendera kolonial Inggris, membagikan selebaran dan menggunakan fitur AirDrop iPhone untuk membagikan foto-foto kepada publik. 

"Sebagian besar penduduk China tidak tahu apa yang kami perjuangkan, dan ini akan menjadi proses pendidikan yang lambat ... Ini adalah awal yang baik, saya tidak tahu bagaimana akhirnya nanti," kata perwakilan pihak penyelenggara unjuk rasa, Edward Chin.

Sponsored

Penyelenggara protes mengatakan 230.000 orang berbaris di jalan-jalan Kowloon dalam gelombang demonstrasi terbaru menentang RUU yang akan memungkinkan warga Hong Kong untuk diekstradisi dan diadili di pengadilan China.

Berbeda dengan para penyelenggara, polisi mencatat hanya 56.000 orang yang berdemonstrasi pada Minggu.

Pemerintah China telah bekerja keras untuk menghapus atau memblokir berita terkait protes terbesar Hong Kong dalam beberapa dekade itu. Mereka khawatir demonstrasi tersebut dapat memicu terjadinya aksi unjuk rasa serupa di Beijing.

Menanggapi protes keras masyarakat, pada Juni, Kepala Eksekutif Hong Kong Carrie Lam menangguhkan pembahasan RUU esktradisi. Namun, dia menolak tuntutan demonstran untuk mencabut RUU itu sepenuhnya.

Selain menuntut agar RUU dicabut, demonstran mendesak agar Lam mengundurkan diri dan dilakukannya penyelidikan independen atas dugaan kebrutalan polisi dalam menangani massa pada 12 Juni.

Pada 1997, Inggris menyerahkan Hong Kong ke China di bawah kesepakatan hukum "satu negara, dua sistem" yang menjamin otonomi kota itu. Otonomi mencakup kebebasan yang tidak dapat dinikmati di Beijing, termasuk hak untuk berdemonstrasi dan sistem peradilan yang independen.

Para kritikus mengatakan RUU ekstradisi dapat mengancam kedaulatan hukum Hong Kong dan reputasi internasionalnya sebagai pusat keuangan Asia. Beberapa taipan Hong Kong dilaporkan sudah mulai memindahkan kekayaan pribadi mereka ke luar negeri. (Channel News Asia dan Al Jazeera)