sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

7 pria Bangladesh dihukum mati terkait aksi terorisme

Mereka dinyatakan bersalah karena membantu mengorganisasi serangan teroris paling mematikan di Bangladesh.

Valerie Dante
Valerie Dante Rabu, 27 Nov 2019 18:08 WIB
7 pria Bangladesh dihukum mati terkait aksi terorisme

Tujuh pria dijatuhi hukuman mati pada Rabu (27/11) oleh pengadilan di Bangladesh. Mereka dinyatakan bersalah karena membantu mengorganisasi serangan teroris paling mematikan di negara itu.

"Dakwaan terhadap mereka terbukti tanpa keraguan. Pengadilan memberi mereka hukuman terberat," tutur Jaksa Penuntut Umum Golam Sarwar Khan.

Awalnya pihak berwenang mendakwa delapan tersangka, tetapi kemudian salah satu dari mereka dinyatakan tidak bersalah. Tujuh pria lainnya yang menghadapi hukuman mati dapat mengajukan banding.

Khan mengatakan, ketujuh pria tersebut terlibat dalam perencanaan serangan terorisme. Mereka termasuk dalam kelompok Jamaat-ul-Mujahidin Bangladesh (JMB).

Lebih dari 20 orang, termasuk dua polisi dan sejumlah sandera asing, tewas setelah lima gerilyawan menyerang Holey Artisan Bakery di Ibu Kota Dhaka pada 1 Juli 2016. Kelima militan itu tewas ditembak ketika petugas menyerbu kafe mewah itu.

Pihak berwenang Bangladesh menggelar persidangan khusus untuk menuntut delapan tersangka. Mereka menyangkal tuduhan membantu dan bersekongkol dengan organisasi kriminal dan berpartisipasi dalam konspirasi kriminal.

Awalnya, ISIS mengaku bertanggung jawab atas serangan mematikan tersebut. Namun, menteri informasi pada saat itu meyakini bahwa kemungkinan besar insiden itu hasil kerja JMB.

JMB merupakan kelompok ekstremis yang bersekutu dengan ISIS dan kerap menargetkan umat minoritas agama.

Sponsored

Identitas para penyerang mengejutkan banyak orang. Kelima militan digambarkan sebagai pria muda berpendidikan yang belajar di sekolah-sekolah ternama.

Berbulan-bulan setelah penyerangan, polisi Bangladesh mengejar sejumlah pihak yang diyakini menjadi kaki tangan dari serangan teror itu.

Dua orang tewas dalam baku tembak dengan polisi pada Agustus 2016 dan Januari 2017. Sementara itu, satu orang tewas setelah mencoba kabur dengan melompat dari balkon lantai lima pada Oktober 2016.

Pemilik Holey Artisan Bakery, Ali Aslan, dan para mitra bisnisnya telah membuka kembali kafe itu di tempat baru yang berjarak sekitar satu kilometer dari lokasi serangan.

"Tempatnya lebih kecil, lebih mudah untuk diamankan. Kebetulan di seberang juga ada pos polisi," kata dia.

Lokasi lama kafe mewah itu tetap tertutup. Pada 1 Juli setiap tahunnya, Aslan mengizinkan warga untuk memberikan penghormatan.

"Peringatan itu adalah hari yang suram. Tempat itu terbuka bagi media dan orang-orang yang ingin memberikan penghormatan," ujar Aslan. (CNN dan The Guardian)

Berita Lainnya