sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

9 aktivis tewas setelah Duterte minta pembasmian kelompok komunis

Kelompok aktivis Karapatan menyebut pembunuhan tersebut sebagai insiden "Bloody Monday".

Valerie Dante
Valerie Dante Senin, 08 Mar 2021 18:20 WIB
9 aktivis tewas setelah Duterte minta pembasmian kelompok komunis

Sedikitnya sembilan aktivis tewas dalam tindakan keras terkoordinasi oleh pasukan keamanan terhadap kelompok kebebasan sipil yang dinilai sebagai "front komunis" di empat provinsi di Filipina, Minggu (7/3) pagi.

Letnan Kolonel Chitadel Gaoiran, seorang juru bicara kepolisian, membenarkan, enam orang tewas di Provinsi Rizal, dua di Provinsi Batangas, dan satu di Provinsi Cavite.

Dia mengatakan, enam orang ditangkap dan polisi masih mencari sembilan tersangka lainnya.

"Kami menemukan bahan peledak dan berbagai macam senjata api dari para tersangka, tapi saya tidak memiliki informasi tentang latar belakang mereka," katanya kepada GMA News Online.

Kelompok aktivis, Karapatan, melaporkan, seorang koordinator Bagong Alyansang Makabayan, sebuah partai politik dengan tiga perwakilan di kongres, termasuk di antara mereka yang tewas dalam penggerebekan polisi di sebuah kantor pribadi di Cavite.

Empat lagi aktivis yang bekerja dengan nelayan miskin dan pemukim informal tewas dalam penggerebekan terpisah di rumah dan kantor mereka di Batangas dan Rizal.

Tidak ada informasi tambahan tentang orang lain yang terbunuh. Karapatan menyebut insiden tersebut "Bloody Monday".

"Serangan terhadap para pemimpin serta aktivis dan pembela hak asasi manusia (HAM) lainnya ... terjadi setelah perintah Presiden Rodrigo Duterte untuk ... mengabaikan hak asasi manusia dan membunuh tersangka pemberontak," kata kelompok tersebut dalam sebuah pernyataan.

Sponsored

Pasukan keamanan dilaporkan menggunakan surat perintah yang dipertanyakan serta secara ilegal "menanam" senjata dan bahan peledak selama penggerebekan.

Penggerebekan itu terjadi hanya dua hari setelah Duterte memerintahkan pasukan keamanan membasmi dan menghabisi pemberontak komunis bersenjata tanpa memperhatikan HAM.

"Jika kalian bentrok dengan para pemberontak, bunuh dan habisi mereka. Itu perintah saya," kata Presiden Duterte.

Duterte menghadapi tuduhan kejahatan terhadap kemanusiaan di hadapan Pengadilan Kriminal Internasional (ICC) karena perang terhadap narkoba yang telah menewaskan sedikitnya 8.000 orang di Filipina.

Kelompok HAM melaporkan jumlah yang lebih tinggi dan mengatakan, kekerasan terus berlanjut bahkan ketika Filipina berada di bawah pembatasan sosial di tengah pandemi Covid-19. (The Straits Times)

Berita Lainnya