logo alinea.id logo alinea.id

Abaikan pernyataan pemimpin Hong Kong, protes berlanjut

Front HAM Sipil, yang telah mengorganisir sejumlah aksi protes, menyatakan akan mengumumkan jadwal demonstrasi baru.

Khairisa Ferida
Khairisa Ferida Selasa, 09 Jul 2019 16:02 WIB
Abaikan pernyataan pemimpin Hong Kong, protes berlanjut

Situasi Hong Kong memanas selama beberapa pekan terakhir. Pemicunya adalah RUU yang memungkinkan ekstradisi ke China daratan.

Kepala Eksekutif Hong Kong Carrie Lam yang pro-China pada Selasa (9/7) telah menyatakan RUU tersebut telah "mati". Namun, demonstran pro-demokrasi menolak klaimnya, mengancam akan kembali melancarkan aksi.

"Apa yang disampaikan #CarrieLam bahwa 'RUU itu sudah mati' adalah kebohongan konyol lainnya bagi rakyat #HongKong dan media asing karena RUU itu masih ada dalam 'program legislatif' hingga Juli tahun depan," twit aktivis pro-demokrasi Joshua Wong, yang sempat dipenjara atas perannya dalam protes 2014.

Front HAM Sipil, yang telah mengorganisir sejumlah aksi protes, menyatakan akan mengumumkan jadwal demonstrasi baru dalam beberapa hari mendatang.

Hong Kong, salah satu pusat keuangan internasional, telah terjerumus ke dalam krisis terburuk dalam sejarah menyusul unjuk rasa besar-besaran selama satu bulan terakhir untuk menentang RUU ekstradisi. Beberapa kali, bentrokan antara pendemo dan polisi tidak terhindarkan. 

Dari menentang RUU ekstradisi, demonstrasi meluas hingga menjadi gerakan yang menyerukan reformasi demokrasi, dihentikannya upaya untuk mengikis kebebasan di kota itu serta mendesak pengunduran diri Lam.

Di sebuah kota yang tidak terbiasa dengan pergolakan masif, polisi telah menembakkan gas air mata dan peluru karet, sementara gedung parlemen telah dirusak. Demonstrasi menentang RUU ekstradisi digambarkan sebagai tantangan paling serius yang dihadapi Hong Kong sejak kota itu dikembalikan ke China pada 1997.

Sponsored

Dalam penampilan publiknya pada Selasa, Lam menyatakan setuju untuk bertemu dengan perwakilan demonstran. Selain itu, dia mengakui pula tantangan ekonomi, politik dan sosial yang dihadapi Hong Kong.

"Saya sampai pada kesimpulan bahwa ada sejumlah persoalan fundamental dan mendalam pada masyarakat Hong Kong," kata dia.

Dalam kesempatan yang sama, Lam menolak seruan pembentukan komisi penyelidikan publik untuk menelaah respons polisi selama aksi protes berlangsung. Perempuan berusia 62 tahun itu mendukung komisi pengaduan polisi yang ada untuk menyelidiki klaim penggunaan kekuataan yang berlebih.

Analis Dixon Sing mengatakan, pernyataan Lam tidak akan banyak membantu meredam gerakan protes.

"Kepercayaan terhadap pemerintah telah tenggelam ... Jika tidak ada pemenuhan yang jelas dari tuntutan-tuntutan utama mereka, mayoritas masyarakat Hong Kong masih akan sangat skeptis terhadap ketulusan pemerintah," tutur Sing kepada AFP.

Gerakan anti-RUU ekstradisi telah menyatukan masyarakat Hong Kong yang berasal dari berbagai kalangan, termasuk bisnis, badan hukum, pemuka agama, aktivis dan jurnalis.

China sendiri mendukung penuh Lam, menyerukan polisi untuk mengejar siapapun yang terlibat penyerbuan gedung parlemen dan bentrokan lainnya.

Aksi protes ini sebenarnya juga bagian dari pertempuran lama antara mereka yang melihat integrasi penuh dengan China sebagai hal yang tidak terhindarkan dan sebagian lainnya yang ingin tetap melestarikan kebebasan serta budaya kota yang unik.

Di bawah kesepakatan penyerahan 1997 dengan Inggris, China berjanji untuk mengizinkan Hong Kong mempertahankan kebebasan seperti urusan peradilan yang independen dan hak untuk berbicara. (AFP)