sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Ahli: Coronavirus dapat menginfeksi 60% populasi global

Jumlah kematian akibat coronavirus di seluruh dunia saat ini 1.018 orang.

Valerie Dante
Valerie Dante Selasa, 11 Feb 2020 19:02 WIB
Ahli: Coronavirus dapat menginfeksi 60% populasi global

Ahli epidemiologi terkemuka di Hong Kong, Gabriel Leung, mengatakan bahwa wabah coronavirus jenis baru dapat menginfeksi 60% populasi dunia jika tidak ditangani dengan baik.

Peringatannya datang setelah Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan, kasus coronavirus baru-baru ini di mana terjadi penularan dari pasien yang belum pernah mengunjungi China hanya gambaran kecil dari masalah yang lebih besar.

Leung menyebut, sebagian besar ahli berpikir bahwa setiap orang yang terjangkit coronavirus akan menularkan virus itu ke sekitar 2,5 orang lainnya, perhitungan itu menetapkan tingkat infeksi pada 60-80% secara global.

"Sebanyak 60% dari populasi dunia adalah jumlah yang sangat besar," kata Leung.

Leung menuturkan, para ahli epidemiologi sedang mencoba mencari tahu apa yang akan terjadi.

"Apakah 60-80% populasi dunia akan terinfeksi? Mungkin tidak. Mungkin virus akan merebak secara perlahan atau menjadi sifatnya berubah menjadi tidak mematikan," kata dia.

Pada Selasa (11/2), Leung bertolak dari Inggris untuk menghadiri pertemuan pakar kesehatan di markas WHO di Jenewa, Swiss. Dalam rapat tersebut, dia mengatakan bahwa pembahasan utama adalah menentukan skala epidemi coronavirus jenis baru yang berkembang di seluruh dunia. 

Selain itu, prioritas kedua adalah untuk mengetahui apakah langkah-langkah yang diambil China telah berhasil. Jika terbukti berhasil, maka negara-negara lain perlu mempertimbangkan untuk mengikuti jejak Tiongkok.

Sponsored

Menurut situs pelacak Johns Hopkins University, korban tewas akibat coronavirus jenis baru pada Selasa menyentuh 1.018 di seluruh dunia dengan jumlah kasus tercatat 43.138 secara global.

Leung merupakan salah satu pakar epidemi yang memainkan peran penting dalam penanganan SARS pada 2002-2003. Pada akhir Januari, dia mempublikasi sebuah makalah di Lancet yang memperingatkan bahwa wabah coronavirus akan tumbuh secara signifikan di kota-kota di China.

Dia menyebut, penyebaran virus secara global tidak dapat dihindari karena adanya pergerakan orang yang terinfeksi namun belum memperlihatkan gejala dan belum ada langkah-langkah untuk menghentikan penyebaran.

Leung menekankan bahwa para pakar kesehatan perlu tahu apakah pembatasan ketat yang diberlakukan pemerintah Tiongkok di Kota Wuhan dan sejumlah kota lainnya di Provinsi Hubei berhasil mengurangi penyebaran infeksi.

"Apakah intervensi besar-besaran itu efektif di China? Jika iya, apakah mungkin negara-negara lain menerapkannya?" ujar dia.

Menurutnya, akan ada beberapa kesulitan jika negara-negara lain ingin menerapkan pembatasan yang China berlakukan di kota-kotanya.

"Berapa lama pemerintah dapat menutup sekolah dan mengisolasi seluruh kota? Berapa lama masyarakat dilarang pergi ke mal?" lanjut dia.

Kalau upaya China tidak berhasil, Leung mengatakan bahwa kemungkinan penyebaran coronavirus tidak dapat dibendung. Jika kondisi itu terjadi, dunia harus berpindah jalur. Alih-alih mencoba membendung virus, komunitas internasional perlu bekerja sama untuk mengurangi dampaknya.

Seorang ahli epidemiologi lainnya, Zhong Nanshan, memprediksi bahwa pada Februari, wabah coronavirus akan mencapai titik terparahnya di China dan kemungkinan akan berakhir pada April.

"Saya berharap wabah ini bisa berakhir pada April," katanya pada Selasa.

Zhong optimistis bahwa penyebaran wabah coronavirus jenis baru akan segera melambat, dengan jumlah kasus baru yang terbukti telah menurun di beberapa wilayah di Tiongkok.

Dia mengatakan, ada penurunan bertahap dalam kasus-kasus baru di Provinsi Guangdong, Provinsi Zhejiang, dan sejumlah wilayah lain.

"Jadi, itu kabar baik," jelas dia.

Zhong memuji pemerintah yang telah mengisolasi Wuhan, kota di mana coronavirus pertama kali terdeteksi pada akhir 2019. Virus itu diyakini berasal dari pasar makanan laut di Wuhan.

Pemecatan pejabat senior China

Pemerintah China telah memecat sejumlah pejabat senior di Provinsi Hubei karena dinilai kurang baik dalam menangani wabah coronavirus jenis baru. Sekretaris Partai Komunis untuk Komisi Kesehatan Hubei, ketua Komisi Kesehatan Hubei, dan Wakil Direktur Palang Merah Hubei termasuk yang diberhentikan.

Menurut laporan media pemerintah, ada ratusan pejabat yang dipecat di seluruh Hubei dan provinsi lainnya sejak penyebaran wabah coronavirus. Namun, pemecatan dari jabatan tertentu juga dapat berarti pejabat tersebut hanya mengalami penurunan pangkat.

Dua sumber anonim menyatakan, pekan lalu Presiden China Xi Jinping memperingatkan para pejabat senior bahwa upaya untuk mengendalikan coronavirus telah mengancam ekonomi negara itu.

Dengan pertumbuhan ekonomi nasional menyentuh titik terlambat dalam hampir tiga dekade terakhir, banyak yang menilai bahwa Xi berupaya untuk mencari keseimbangan antara mendorong ekonomi dan memberantas epidemi coronavirus.

Dua sumber tersebut mengatakan, setelah meninjau laporan tentang wabah coronavirus dari Komisi Pembangunan dan Reformasi Nasional (NDRC) dalam pertemuan Komite Tetap Politbiro pada 3 Februari, Xi menyatakan bahwa beberapa tindakan penanganan yang diambil telah merugikan ekonomi.

Media pemerintah Tiongkok berupaya menenangkan masyarakat. Dalam tulisan editorial pada Senin (10/2), People's Daily meminta publik untuk menghadapi epidemi dengan suasana hati yang positif. (The Guardian, BBC, dan Reuters)

Berita Lainnya