logo alinea.id logo alinea.id

Amankan jalur strategis, AS ingin bentuk koalisi militer multinasional

Koalisi militer multinasional yang dimaksud AS diklaim untuk melindungi perairan di sekitar Iran dan Yaman.

Khairisa Ferida
Khairisa Ferida Rabu, 10 Jul 2019 19:17 WIB
Amankan jalur strategis, AS ingin bentuk koalisi militer multinasional

Amerika Serikat mengungkapkan keinginannya untuk membentuk koalisi militer multinasional demi melindungi perairan di sekitar Iran dan Yaman. Ketua Gabungan Kepala Staf Jenderal Joseph Dunford menuturkan dia ingin memastikan kebebasan navigasi di wilayah itu, yang merupakan rute perdagangan penting.

Dunford menerangkan bahwa AS sedang berbicara dengan sejumlah negara yang memiliki "kemauan politik" untuk mendukung rencana tersebut.

Selat Hormuz dan Bab al-Mandab adalah lokasi strategis yang penting, menyediakan akses dari Samudra Hindia ke Teluk dan Laut Merah.

Sekitar seperlima minyak yang dikonsumsi secara global melewati Selat Hormuz, sementara tanker minyak yang menuju dari Timur Tengah ke Eropa via Laut Merah harus melalui Bab al-Mandab.

AS telah memiliki kehadiran angkatan laut yang substansial di wilayah tersebut dan berpartisipasi dalam beberapa gugus tugas angkatan laut multinasional yang melaksanakan operasi keamanan laut, antiterorisme dan anti pembajakan.

Markas Armada ke-5 Angkatan Laut AS berada di Bahrain, dan mereka juga memiliki fasilitas angkatan laut di Djibouti, Kuwait dan Oman.

Selain AS, Inggris, juga memiliki pangkalan angkatan laut di Bahrain. Inggris mengatakan pihaknya terus memantau situasi keamanan di kawasan itu dan berkomitmen untuk mempertahankan kebebasan navigasi sesuai dengan hukum internasional.

Kapal fregat HMS Montrose Inggris telah diposisikan untuk membayangi tanker minyak yang berlayar di bawah bendera Isle of Man saat melintasi Selat Hormuz.

Sponsored

Adapun Presiden Hassan Rouhani mencap Inggris sebagai penggagas rasa tidak aman di laut dengan menyita sebuah tanker minyak Iran di Gibraltar yang tengah berlayar menuju Suriah pekan lalu. 

Mengapa AS khawatir?

Bulan lalu, AS menyalahkan Iran atas serangan terhadap dua tanker di Teluk Oman, tepat di luar Selat Hormuz. Tuduhan tersebut dibantah keras Teheran.

Peristiwa tersebut terjadi setelah serangan terhadap empat tanker di lepas pantai Uni Emirat Arab pada Mei, yang juga dituding AS didalangi oleh Iran.

Beberapa hari setelah serangan tanker pada Juni, pasukan Iran menembak jatuh pesawat pengintai AS yang mereka sebut melanggar wilayah udaranya di langit Selat Hormuz. AS bersikeras bahwa drone itu terbang di wilayah internasional.

Penembakan pesawat pengintai AS memicu rencana serangan udara terhadap Iran, namun dibatalkan oleh Donald Trump atas pertimbangan banyaknya korban jiwa yang akan jatuh.

Militer Iran mengancam akan menutup Selat Hormuz jika mereka tidak dapat mengekspor minyak menyusul sanksi-sanksi AS yang telah diterapkan kembali sejak Washington menarik diri dari kesepakatan nuklir 2015 (JCPOA).

Iran telah mengambil dua langkah untuk mengurangi komitmennya di bawah kesepakatan nuklir 2015. Pertama, pada Senin (1/7) mereka mengumumkan telah menimbun lebih banyak uranium tingkat rendah yang diperkaya dari yang diizinkan JCPOA.

Langkah kedua sekaligus terbaru, Senin kemarin, juru bicara Organisasi Energi Atom Iran Behrouz Kamalvindi mengonfirmasi bahwa pihaknya telah memperkaya uranium hingga kemurnian 4,5%, melampaui batas 3,67% yang ditentukan dalam JCPOA.

Duta Besar Iran untuk PBB Majid Takht-Ravanchi memperingatkan, pihaknya siap untuk mengambil langkah lebih lanjut jika Eropa gagal mengompensasi kerugian ekonomi yang diderita Iran.

Sumber : BBC