logo alinea.id logo alinea.id

Arab Saudi klaim stasiun pompa minyaknya diserang drone

Serangan terhadap stasiun pompa minyak Arab Saudi terjadi pada Selasa (14/5) pagi.

Khairisa Ferida
Khairisa Ferida Selasa, 14 Mei 2019 20:32 WIB
Arab Saudi klaim stasiun pompa minyaknya diserang drone

Arab Saudi mengklaim pesawat tanpa awak menyerang dua stasiun pompa minyak milik Aramco.

Menteri Energi Arab Saudi Khalid al-Falih dalam keterangan yang dirilis Saudi Press Agency (SPA) menuturkan, serangan terhadap stasiun pompa minyak terjadi pada Selasa (14/5) pagi, menyebabkan kerusakan kecil pada salah satu stasiun yang mendapat pasokan minyak dari pipa yang mengalir dari Provinsi Syarqiyah yang kaya minyak ke Pelabuhan Yanbu di Laut Merah.

Kebakaran yang terjadi kemudian dapat dikendalikan, tetapi Aramco terpaksa berhenti memompa minyak.

"Saudi Aramco telah mengambil semua langkah yang diperlukan dan menutup sementara pipa untuk mengevaluasi kondisinya," sebut pernyataan SPA.

Al-Falih mencap serangan itu pengecut. Dia mengatakan bahwa tindakan sabotase terhadap instalasi vitalnya tidak hanya menargetkan Arab Saudi, melainkan juga keamanan pasokan energi dunia dan ekonomi global.

Meski demikian, al-Falih berjanji bahwa produksi dan ekspor minyak Arab Saudi tidak akan terganggu.

Sebelumnya pada Selasa, sebuah stasiun televisi yang dikelola oleh pemberontak Houthi di Yaman mengklaim bahwa mereka melancarkan serangan pesawat tanpa awak ke instalasi Arab Saudi. Namun, mereka tidak mengidentifikasi target atau waktu serangan.

Kelompok Houthi disebut bersekutu dengan Iran.

Sponsored

Serangan pada Selasa ini terjadi satu hari setelah Arab Saudi mengklaim bahwa dua tanker minyaknya adalah di antara empat kapal yang disabotase di lepas pantai Uni Emirat Arab pada Minggu (12/5).

Saluran TV Al Masirah yang dikelola Houthi mengutip seorang petinggi kelompok itu mengatakan bahwa tujuh pesawat tidak berawak melakukan serangan terhadap instalasi vital Arab Saudi.

Belum jelas apakah Houthi, yang berperang melawan koalisi militer yang dipimpin Arab Saudi-Uni Emirat Arab di Yaman, juga bertanggung jawab atas serangan pada Minggu di dekat Fujairah.

Houthi telah berulang kali meluncurkan serangan drone dan rudal ke Arab Saudi dan mengklaim juga pernah menyerang Uni Emirat Arab dengan drone.

Di Twitter, Al Masirah yang mengutip petinggi Houthi mengatakan, "Operasi militer besar ini sebagai tanggapan atas agresi dan blokade yang berkelanjutan dari orang-orang kami dan kami siap untuk melakukan serangan yang lebih unik dan keras."

Arab Saudi dan Uni Emirat Arab memimpin aliansi suni yang didukung Barat dalam melakukan intervensi di Yaman pada 2015. Mereka melawan Houthi untuk memulihkan kekuasaan pemerintah Presiden Abd Rabbuh Mansur Al-Hadi, yang diakui secara internasional.

Perang di Yaman secara luas dilihat sebagai perang proksi antara Arab Saudi dan Iran. Adapun kelompok Houthi menyangkal menjadi boneka Iran dan mereka menegaskan bahwa revolusi mereka bertujuan menentang korupsi.

Pertempuran di Yaman telah memicu apa yang digambarkan PBB sebagai krisis kemanusiaan terburuk di dunia. Setidaknya 24,1 juta atau lebih dari dua pertiga dari populasi di negara itu membutuhkan bantuan.

Sumber : Al Jazeera