sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

AS akan hapus Sudan dari daftar negara sponsor teror

Jika Sudan dihapus dari daftar negara sponsor terorisme Departemen Luar Negeri, hanya 3 yang tersisa, yaitu Iran, Korea Utara, dan Suriah.

Angelin Putri Syah
Angelin Putri Syah Rabu, 21 Okt 2020 12:17 WIB
AS akan hapus Sudan dari daftar negara sponsor teror
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 527.999
Dirawat 66.752
Meninggal 16.646
Sembuh 441.983


Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan, AS akan menghapus Sudan dari daftar negara sponsor terorisme. Hal itu setelah Sudan menindaklanjuti perjanjian untuk membayar ratusan juta dolar kepada para korban teror AS dan keluarga.

“Berita besar! Pemerintah baru Sudan membuat kemajuan besar. Setuju untuk membayar US$335 juta kepada korban teror AS dan keluarga. Setelah uang diterima, saya akan mencabut Sudan dari daftar sponsor terorisme negara. Akhirnya, keadilan untuk rakyat Amerika dan langkah besar untuk Sudan, " ujar Trump di Twitter, Senin (19/10).

Langkah tersebut akan memungkinkan Sudan untuk sekali lagi menerima pinjaman dan bantuan internasional yang dibutuhkan untuk meningkatkan ekonomi negara.

Sekaligus membuka jalan bagi Sudan untuk membangun hubungan diplomatik dengan Israel, karena pemerintahan Trump berusaha untuk menengahi kesepakatan bagi negara-negara Arab untuk mengakui Israel. Pemerintah AS telah memfasilitasi perjanjian semacam itu dengan Uni Emirat Arab dan Bahrain.

Perdana Menteri Sudan Abdalla Hamdok dalam tweet pada Senin (19/10), mengatakan penunjukan sponsor terorisme telah sangat merugikan Sudan. Dia menambahkan rakyat Sudan tidak pernah mendukung terorisme dan langkah AS tersebut adalah dukungan kuat untuk transisi negara menuju demokrasi.

Uang sebesar US$335 juta yang telah disetujui Sudan untuk dibayarkan kepada Amerika adalah untuk korban serangan al-Qaida di kedutaan AS di Kenya dan Tanzania pada 1998 dan untuk pemboman USS Cole pada 2000 di sebuah pelabuhan Yaman. Pengadilan AS telah menemukan bahwa Sudan terlibat dalam serangan itu.

Namun sebuah kelompok advokasi untuk korban pemboman Kedutaan Besar AS pada 1998, mengatakan, mayoritas korban mengeluarkan pernyataan yang mengulangi penolakan mereka atas tawaran penyelesaian Sudan.

Kelompok itu mengatakan pembayaran penyelesaian yang diusulkan memprioritaskan korban kelahiran Amerika dan memberikan uang yang jauh lebih sedikit kepada korban yang merupakan warga negara AS yang dinaturalisasi, yang tidak lahir di Amerika Serikat. Lebih dari 500 dari 700 korban pemboman Kedutaan Besar AS telah menandatangani surat menolak ketentuan penyelesaian.

Sponsored

Edith Bartley, juru bicara keluarga orang Amerika yang tewas dalam pemboman kedutaan di Nairobi, berterima kasih kepada Departemen Luar Negeri AS dan pemerintah baru di Sudan karena telah mengamankan kompensasi bagi para korban.

Seorang pengacara yang mewakili keluarga korban serangan teror 11 September 2001 di New York, Washington, dan Pennsylvania mengungkapkan kekhawatirannya bahwa perjanjian Sudan, dan kemungkinan tindakan Kongres selanjutnya untuk memulihkan kekebalan kedaulatan negara, dapat membahayakan kemampuan keluarga tersebut untuk mencari kompensasi mereka sendiri.

"Keluarga 9/11 mengandalkan Kongres untuk menolak permohonan Sudan agar tuntutan hukum kami yang tertunda dihapuskan dan mereka bersikeras itu tidak akan melemahkan mereka," kata Jack Quinn, yang mewakili 2.500 keluarga dalam gugatan hukum terhadap Sudan.

Sudan ditunjuk sebagai negara sponsor terorisme pada 1993 atas tuduhan AS bahwa pemimpin Sudan saat itu Omar al-Bashir mendukung kelompok militan Hizbullah dan Palestina. Bashir dicopot dari kekuasaan tahun lalu.

Jika Sudan dihapus dari daftar negara sponsor terorisme Departemen Luar Negeri, hanya tiga negara yang tersisa, yaitu Iran, Korea Utara, dan Suriah.

 

Sumber:  Voice of America

Berita Lainnya