logo alinea.id logo alinea.id

AS cap Garda Revolusi Iran sebagai organisasi teroris

Sebelumnya, AS telah memasukkan puluhan entitas dan orang yang berafiliasi dengan Garda Revolusi Iran ke dalam daftar hitam.

Valerie Dante
Valerie Dante Selasa, 09 Apr 2019 12:06 WIB
AS cap Garda Revolusi Iran sebagai organisasi teroris

Pada Senin (8/4), Donald Trump menyatakan pasukan elite Garda Revolusi Iran (IRGC) sebagai organisasi teroris asing. Pernyataan itu menandai pertama kalinya Amerika Serikat secara resmi memberikan label kelompok teroris kepada militer negara lain.

Iran mengecam keputusan AS dan segera menyatakan Negeri Paman Sam sebagai negara yang mendukung terorisme.

AS telah memasukkan puluhan entitas dan orang yang berafiliasi dengan IRGC ke dalam daftar hitam, tetapi sejauh ini belum memasukkan organisasi itu ke daftar teroris tesebut.

Pada Senin, Trump mengonfirmasi bahwa AS merencanakan untuk memasukkan IRGC ke daftar hitam. Dia menyatakan juga akan terus meningkatkan sanksi keuangan bagi Iran atas dukungan mereka terhadap kegiatan teroris.

"Langkah AS menyatakan bahwa Iran bukan hanya negara yang mendukung terorisme, tetapi bahwa IRGC secara aktif berpartisipasi dalam, membiayai, dan mempromosikan terorisme sebagai alat utama Iran," sebut Presiden Trump dalam sebuah pernyataan.

Menurutnya, keputusan AS memperjelas risiko melakukan bisnis dengan atau memberikan dukungan kepada IRGC. 

"Jika Anda melakukan bisnis dengan IRGC, ketahuilah Anda sama saja membiayai terorisme," tegas Presiden ke-45 AS itu.

Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo, seorang kritikus keras Iran, mengatakan penyematan label organisasi teroris kepada IRGC bakal berlaku efektif dalam satu pekan ke depan.

Sponsored

Merumitkan diplomasi

Keputusan Trump untuk memasukkan IRGC ke dalam daftar teroris memungkinkan AS untuk menolak masuk pihak yang ditemukan telah memberikan dukungan material kepada IRGC atau menuntut mereka atas dasar pelanggaran sanksi.

Itu bisa termasuk perusahaaan-perusahaan dan pengusaha dari Eropa dan Asia yang berurusan dengan banyak afiliasi IRGC.

Langkah AS juga dinilai dapat merumitkan proses diplomasi. Pasukan atau diplomat AS dapat dilarang untuk berkomunikasi dengan otoritas Irak atau Lebanon yang berinteraksi dengan para pejabat IRGC.

Kementerian Pertahanan dan sejumlah badan intelijen AS telah menyuarakan kekhawatiran atas langkah itu jika berdampak pada pelarangan komunikasi dengan pejabat asing yang mungkin telah bertemu atau berkomunikasi dengan personel IRGC.

Utusan khusus AS untuk Iran, Brian Hook, dan Koordinator Kontraterorisme Kementerian Luar Negeri AS Nathan Sales mengatakan Trump mengambil keputusan itu setelah berkonsultasi dengan badan-badan di pemerintahannya.

Namun, mereka tidak menyebut apakah kekhawatiran sejumlah pihak dalam pemerintahan menjadi bahan pertimbangan.

"Ini tidak akan menghalangi diplomasi kita," kata Hook.

Ketegangan antara Iran dan AS telah meningkat sejak Trump keluar dari perjanjian nuklir 2015 dengan Teheran pada Mei 2018 serta kembali menerapkan sanksi yang melumpuhkan ekonomi Iran.

Saat ini, lebih dari 60 organisasi, termasuk Al Qaeda dan ISIS, dilabeli sebagai organisasi teroris asing oleh Kemlu AS.

Langkah berbahaya

Tidak lama setelah pengumuman Trump, Menteri Luar Negeri Iran Javad Zarif mengirim nota protes kepada AS.

Kementerian Luar Negeri Iran juga mendesak Presiden Hassan Rouhani untuk memasukkan pasukan AS di kawasan itu ke dalam daftar kelompok teroris.

"Hadiah yang salah kaprah lainnya untuk Netanyahu," ujar Zarif dalam twitnya.

Dia merujuk pada Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu yang berusaha memperpanjang 13 tahun masa jabatannya dalam pemilu pada Selasa (9/4).

Netanyahu, sekutu Trump, berterima kasih kepada Presiden AS atas keputusannya tersebut.

"Langkah itu merupakan kepentingan negara kita dan negara-negara di kawasan ini," ujar Netanyahu.

Dewan Keamanan Nasional Iran menyatakan bahwa keputusan AS dapat membahayakan perdamaian dan stabilitas di Timur Tengah serta di dunia.

"Tindakan tidak bijaksana dan ilegal ini merupakan ancaman besar bagi stabilitas serta perdamaian regional dan dunia," jelas pernyataan itu.

IRGC, organisasi keamanan yang paling kuat di Iran, dibentuk setelah Revolusi Iran 1979 guna membela sistem keislaman dalam negara.

Pasukan IRGC menangani program rudal balistik dan nuklir Iran. Sejak dibentuk, IRGC menjadi kekuatan politik dan ekonomi Iran serta memiliki keterkaitan erat dengan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei.

IRGC diperkirakan memiliki 125.000 personel yang terdiri dari unit angkatan darat, angkatan laut, dan angkatan udara.