logo alinea.id logo alinea.id

AS dan Rusia saling tunjuk soal keruntuhan INF

INF yang disepakati antara AS dan Rusia pada 1987, melarang rudal yang mampu menempuh jarak 500-5.5000 kilometer.

Khairisa Ferida
Khairisa Ferida Jumat, 23 Agst 2019 10:51 WIB
AS dan Rusia saling tunjuk soal keruntuhan INF

Amerika Serikat dan Rusia saling tuding atas runtuhnya Traktat Pembatasan Senjata Nuklir Jarak Menengah (INF) pada Kamis (22/8) di pertemuan Dewan Keamanan PBB.

"Kita ada di sini hari ini karena Rusia lebih menyukai dunia di mana AS terus memenuhi kewajibannya di INF, sementara Rusia tidak," ungkap penjabat Duta Besar AS untuk PBB Jonathan Cohen.

AS menarik diri dari INF pada 2 Agusutus untuk mengembangkan hulu ledaknya setelah Rusia menolak untuk menghancurkan rudal baru mereka.

"Memang, Rusia dan China akan menyukai dunia di mana AS menahan diri sementara mereka terus mengembangkan senjata mereka tanpa henti dan malu," kata Cohen.

AS menyebut bahwa Rusia dan China meningkatkan dan mendiversifikasi kemampuan senjata nuklir. Persenjataan mereka diprediksi akan berkembang secara signifikan selama dekade berikutnya.

Sementara itu, dalam kesempatan yang sama, Wakil Duta Besar Rusia untuk PBB Dmitry Polyanskiy mengatakan, "Apakah Anda menyadari karena ambisi geopolitik AS, kita semua satu langkah mendekati perlombaan senjata yang tidak dapat dikendalikan atau diatur dengan cara apapun? Kami sangat prihatin dengan prospek itu. Tetapi kolega kami, AS, sepertinya tidak."

Polyanskiy menekankan bahwa AS telah secara konsisten dan sengaja melanggar perjanjian INF selama sekian lama.

"Hari ini, tidak ada rudal jarak menengah yang diluncurkan AS ... Sebaliknya, Rusia telah mengembangkan dan mengerahkan banyak batalion rudal semacam itu. China memiliki sekitar 2.000 rudal yang akan dilarang berdasarkan INF seandainya mereka ikut serta," jawab Cohen.

Sponsored

Mendengar negaranya disebut, Duta Besar China untuk PBB angkat bicara. 

"Tidak dapat diterima menggunakan China sebagai alasan untuk hengkang dari perjanjian. China menolak tuduhan tidak berdasar oleh AS," tutur Dubes Zhang Jun.

Zhang menyatakan bahwa China memiliki kebijakan militer defensif dan misilnya dikerahkan di wilayahnya. Dia mendesak AS dan Rusia untuk berdialog dalam menyelesaikan perbedaan pandangan mereka.

Selain itu, China, serta beberapa anggota dewan lainnya menyatakan keprihatinan bahwa perjanjian pelucutan senjata lain antara Rusia dan AS, New START, akan berakhir pada Februari 2021. Mereka mendesak Moskow dan Washington untuk memperbaruinya.

Negara-negara Eropa yang menjadi anggota DK PBB dan bagian dari NATO menyatakan dukungannya pada posisi AS, menyalahkan Rusia atas runtuhnya INF.

"Dalam jangka waktu lama, Rusia melanggar perjanjian INF dengan diam-diam mengembangkan dan mengerahkan rudal yang tidak sesuai, khususnya 9M729," ujar koordinator politik Inggris Stephen Hickey. "Rudal-rudal ini sulit ditemukan, dapat dikerahkan dengan cepat dan bisa menargetkan kota-kota di Eropa dengan hulu ledak konvensional atau nuklir."

Menurut Hickey, Rusia menolak mengakui keberadaan 9M729 hingga AS mengidentifikasinya.

Anggota DK PBB asal Afrika, Amerika Latin dan Timur Tengah menghindari menyalahkan pihak manapun, tetapi mereka menyuarakan kekhawatiran bahwa keruntuhan INF dapat memicu perlombaan senjata baru. Mereka menekankan bahwa Rusia dan AS memiliki tanggung jawab khusus sebagai kekuatan nuklir dan harus bekerja sama.

"Penghapusan total senjata nuklir dan jaminan yang mengikat secara hukum bahwa mereka tidak akan pernah diproduksi lagi adalah satu-satunya jaminan bahwa senjata ini tidak akan pernah digunakan," kata Dubes Afrika Selatan untuk PBB Jerry Matjila.

INF yang disepakati antara AS dan Rusia pada 1987, melarang rudal yang mampu menempuh jarak 500-5.5000 kilometer.

Pertemuan yang digelar DK PBB pada Kamis (22/8) ini digagas oleh Rusia dan China di bawah agenda ancaman terhadap perdamaian dan keamanan internasional. (VOA)