sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

AS diam-diam lancarkan serangan siber ke Iran?

Serangan siber terhadap Iran diklaim berlangsung pada akhir September.

Valerie Dante
Valerie Dante Rabu, 16 Okt 2019 19:22 WIB
AS diam-diam lancarkan serangan siber ke Iran?

Dua pejabat Amerika Serikat menyatakan bahwa Washington melakukan serangan siber secara rahasia terhadap Iran pascapenyerangan di fasilitas minyak Arab Saudi pada 14 September.

Para pejabat, yang berbicara dengan syarat anonim, mengatakan operasi itu berlangsung pada akhir September dan membidik kemampuan Iran untuk menyebarkan propaganda.

Serangan siber itu menyoroti cara pemerintahan Presiden Donald Trump berupaya melawan apa yang mereka pandang sebagai agresi Iran tanpa memicu konflik yang lebih luas.

Ketika ditanya tentang laporan penyerangan itu pada Rabu (16/10), Menteri Komunikasi dan Teknologi Informasi Iran Mohammad Javad Azari-Jahromi membantahnya.

AS, Arab Saudi, Inggris, Prancis dan Jerman secara terbuka menyatakan bahwa serangan terhadap fasilitas minyak milik Riyadh merupakan perbuatan Iran. Teheran menyangkal keterlibatan dalam insiden itu.

Kelompok pemberontak Houthi di Yaman mengaku sebagai pihak yang bertanggung jawab.

Kementerian Pertahanan AS telah merespons serangan pada September itu dengan mengirim ribuan pasukan dan peralatan militer tambahan untuk meningkatkan pertahanan Arab Saudi.

Pentagon menolak berkomentar tentang serangan siber.

Sponsored

"Sebagai masalah kebijakan dan untuk keamanan operasional, kami tidak akan membahas mengenai informasi intelijen atau perencanaan terkait operasi siber," tutur juru bicara Pentagon Elissa Smith.

Ketegangan di Teluk meningkat 

Butuh waktu hingga berbulan-bulan untuk mengetahui dampak dari serangan siber AS. Serangan seperti itu dinilai sebagai opsi yang tidak begitu provokatif.

"Anda dapat melakukan perusakan tanpa membunuh orang atau meledakkan sesuatu," kata James Lewis, pakar dunia maya dari Center for Strategic and International Studies (CSIS) di Washington.

Lewis menambahkan, tidak mungkin AS dapat membalas perilaku Iran dengan serangan militer konvensional.

Teheran telah menggunakan taktik serangan siber terhadap Washington. Bulan ini, sebuah kelompok peretas, yang diduga terkait dengan pemerintah Iran, mencoba menyusup ke sejumlah akun email yang berhubungan dengan kampanye Pilpres 2020 Trump.

Kelompok yang dijuluki oleh Microsoft sebagai "Phosphorous" melakukan lebih dari 2.700 upaya untuk meretas sejumlah akun email.

Iran dianggap sebagai negara yang unggul dalam menyebarkan disinformasi. Pada 2018, sebuah investigasi Reuters menemukan lebih dari 70 situs yang menyebarkan propaganda Iran ke 15 negara.

Ketegangan di Teluk telah meningkat tajam sejak Mei 2018, ketika Trump menarik diri dari Joint Comprehensive Plan of Action 2015 (JCPOA) atau kesepakatan nuklir 2015 yang dicapai untuk mengekang ambisi nuklir Iran. 

Pada Senin (14/10), Presiden Iran Hassan Rouhani menegaskan kembali sikapnya terhadap pemerintahan Trump. Dia menyatakan, tidak akan terlibat dalam perundingan bilateral kecuali AS kembali menaati JCPOA dan mencabut sanksi ekonomi terhadap Teheran.

Sumber : Reuters