sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

AS jatuhkan sanksi baru terhadap Iran, targetkan industri logam

Industri logam Iran merupakan ekspor terbesar kedua setelah minyak.

Khairisa Ferida
Khairisa Ferida Kamis, 09 Mei 2019 13:31 WIB
AS jatuhkan sanksi baru terhadap Iran, targetkan industri logam

Donald Trump meningkatkan tekanan terhadap Iran pada hari yang sama saat Teheran mengatakan pihaknya menangguhkan sejumlah komitmen di bawah perjanjian nuklir 2015.

Trump meneken perintah eksekutif yang menjatuhkan sanksi pada industri logam Iran, ekspor terbesar kedua setelah minyak.

"Tindakan hari ini menargetkan pendapatan Iran dari ekspor industri logam, 10% dari ekspornya, dan membuat negara-negara lain mengingat bahwa tidak ada toleransi jika membiarkan baja dan logam lain asal Iran masuk ke pelabuhan mereka," kata Trump. 

Trump menambahkan, "Teheran dapat dikenai tindakan lebih lanjut kecuali mereka secara fundamental mengubah perilakunya."

Sanksi tersebut mencakup besi, baja, aluminium dan tembaga.

Sebelumnya, Amerika Serikat telah menjatuhkan sanksi terhadap sektor minyak untuk menghentikan penjualannya di seluruh dunia.

Menyusul sanksi terakhir, Trump di lain sisi mengatakan bahwa dirinya terbuka untuk menggelar pembicaraan.

"Saya berharap untuk suatu hari nanti bertemu dengan para pemimpin Iran untuk menyusun kesepakatan dan, yang sangat penting, mengambil langkah-langkah untuk memberikan Iran masa depan yang layak," katanya.

Sponsored

Kewaspadaan AS terhadap Iran meningkat belakangan. Sebuah kapal induk dan gugus tugas AS telah dikirim ke Timur Tengah untuk mengirim pesan yang jelas dan nyata ke Teheran dan Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo dilaporkan melakukan kunjungan dadakan ke Irak untuk membahas ketegangan dengan Negeri Para Mullah. 

Langkah Iran untuk menarik diri secara parsial dari kesepakatan nuklir 2015 memicu reaksi dari Inggris, Prancis dan Jerman yang juga terlibat dalam pakta tersebut. Mereka menegaskan hanya bisa terus menyokong kesepakatan jika Iran memegang komitmennya.

Kesepakatan nuklir 2015 yang dicapai pada era Barack Obama bertujuan mengekang ambisi nuklir Iran dengan imbalan pencabutan sanksi.

Komitmen yang ditangguhkan Iran

Iran akan menangguhkan dua bagian dari kesepakatan nuklir yang secara resmi dikenal dengan sebutan Rencana Aksi Bersama Komprehensif (JCPOA), yaitu penjualan surplus uranium yang diperkaya dan air berat.

Di bawah kesepakatan itu, Iran diharuskan untuk menjual surplus uranium yang diperkaya, yang dapat digunakan dalam pembuatan senjata nuklir, ke luar negeri, alih-alih menyimpannya. 

Presiden Hassan Rouhani belakangan mengatakan akan menyimpan stok uranium yang diperkaya itu di dalam negeri.

Ekonomi Iran telah sangat terpukul oleh kebijakan sanksi AS. Rial terperosok ke rekor terendah dan inflasi tahunan meningkat empat kali lipat.

Iran mengumumkan akan melanjutkan produksi uranium yang diperkaya dalam waktu 60 hari. Namun mereka juga mengatakan masih mendukung perjanjian nuklir 2015.

Menteri Luar Negeri Inggris Jeremy Hunt mengatakan langkah terbaru Iran tidak dapat diterima. Dia mendesak Teheran untuk tidak mengambil langkah-langkah eskalasi lebih lanjut dan kembali pada komitmen di bawah perjanjian nuklir.

"Jika Iran berhenti mematuhi komitmen nuklirnya tentu saja akan ada konsekuensi," kata Hunt.

Menteri Luar Negeri Jerman Heiko Maas mengatakan posisinya adalah mematuhi perjanjian, menyebutnya penting untuk keamanan Eropa.

Menteri Pertahanan Prancis Florence Parly mengatakan bahwa Eropa melakukan segala yang mereka bisa untuk menjaga agar kesepakatan tetap hidup, tetapi akan ada konsekuensi dan kemungkinan sanksi jika kesepakatan itu tidak ditaati.

Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov mendesak semua pihak yang tersisa untuk memenuhi kewajiban mereka, dan mengatakan bahwa Barat berusaha untuk mengalihkan perhatian dari ketidakmampuan mereka untuk melakukannya.

China mengatakan pihaknya dengan tegas menentang sanksi AS sepihak terhadap Iran dan menyerukan dialog yang diperkuat.

Sumber : BBC