logo alinea.id logo alinea.id

AS klaim hancurkan drone Iran

AS mengklaim bahwa drone Iran terbang sejauh 1.000 meter dari USS Boxer dan telah mengabaikan seruan untuk mundur.

Khairisa Ferida
Khairisa Ferida Jumat, 19 Jul 2019 10:29 WIB
AS klaim hancurkan drone Iran

Amerika Serikat pada Kamis (18/7) mengklaim bahwa sebuah kapal Angkatan Laut AS telah menghancurkan sebuah drone Iran di Selat Hormuz setelah pesawat pengintai itu disebut mengancam kapal AS. 

Dalam konferensi persnya, Donald Trump mengatakan bahwa drone tersebut terbang sejauh 1.000 meter dari USS Boxer dan telah mengabaikan sejumlah seruan untuk mundur.

"Ini adalah yang terbaru dari banyak tindakan provokatif dan bermusuhan oleh Iran terhadap kapal yang beroperasi di perairan internasional. AS berhak untuk membela personelnya, fasilitasnya dan kepentingannya," tutur Trump. "Drone itu segera dihancurkan."

Merespons klaim tersebut Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif menuturkan, "Kami tidak mendapatkan informasi soal kehilangan pesawat tanpa awak hari ini."

Sementara itu, Pentagon dalam pernyataannya menyebutkan bahwa USS Boxer, sebuah kapal serbu amfibi, telah mengambil tindakan defensif terhadap sebuah drone pada Kamis pagi ketika kapal itu berlayar ke Selat Hormuz.

"Penilaian kami itu adalah pesawat tanpa awak milik Iran," kata juru bicara Pentagon Rebecca Rebarich.

Seorang pejabat AS menuturkan bahwa drone tersebut dihancurkan lewat gangguan elektronik.

Ketegangan di Teluk sangat tinggi, dengan kekhawatiran bahwa Washington dan Teheran dapat tersandung ke medan perang.

Sponsored

AS telah menyalahkan Iran atas serangkaian serangan terhadap tanker minyak di sekitar Selat Hormuz, jalur pelayaran vital pengiriman minyak dunia. Teheran membantah tuduhan itu.

Pada Juni, Iran menembak jatuh drone AS di Teluk dengan peluru kendali darat ke udara. Iran menyatakan bahwa pesawat tanpa awak AS terbang di wilayah udaranya, sementara Washington bersikeras drone itu berada di langit internasional.

Trump kemudian mengakui bahwa AS nyaris meluncurkan serangan udara ke Iran, namun pada akhirnya dibatalkan dengan pertimbangan banyaknya korban yang akan jatuh.

Sebuah laporan menyebutkan bahwa meningkatnya penggunaan drone oleh Iran dan sekutunya untuk pengawasan dan serangan di Timur Tengah telah menaikkan alarm di Washington.

AS meyakini bahwa milisi yang memiliki hubungan dengan Iran di Irak baru-baru ini meningkatkan pengawasan mereka terhadap pasukan dan pangkalan AS di negara itu lewat drone yang tersedia di pasaran.

Dipicu kebijakan Trump

Relasi antara Washington dan Teheran memburuk sejak tahun lalu ketika Trump menarik AS dari kesepakatan nuklir 2015, perjanjian yang mengekang program nuklir Iran dengan imbalan pencabutan sanksi atas Negeri Para Mullah.

Kebijakan kontroversial Trump tidak berhenti sampai di situ saja. Dia juga menerapkan kembali seluruh sanksi terhadap Iran yang sebelumnya dicabut di bawah kesepakatan nuklir 2015.

AS terus menekan Iran hingga hari ini agar negara itu bersedia melakukan negosiasi ulang. Trump sejak lama mencap kesepakatan nuklir 2015 yang tercapai di bawah pemerintahan Barack Obama cacat dan merugikan AS.

Nantinya di bawah kesepakatan baru, selain ingin mengikat Iran terkait program nuklir dan rudal balistiknya, AS juga berharap dapat mengontrol perilaku Iran di Timur Tengah, tujuan yang dinilai turut mengakomodasi kepentingan sekutunya seperti Israel dan Arab Saudi.

Iran sendiri tegas menolak opsi negosiasi ulang atau mengadakan pembicaraan mengenai program misilnya, yang menurut mereka murni sebagai aksi defensif.

Namun, pada Kamis kemarin, Menlu Zarif mengatakan bahwa pihaknya telah menawarkan untuk membuat sebuah konsesi terkait program nuklir. Yang dimaksud Zarif adalah meratifikasi dokumen yang mengatur inspeksi yang lebih jauh, dengan catatan AS harus menanggalkan sanksi ekonominya.

Proposal tersebut disambut skeptis oleh AS.

"Jika Iran ingin membuat isyarat serius, maka harus dimulai dengan mengakhiri segera pengayaan uranium," ungkap seorang pejabat senior AS seraya menambahkan bahwa setiap pembicaraan harus mencakup akhir yang permanen bagi ambisi nuklir Iran yang merugikan, termasuk pengembangan misil berkemampuan nuklir.

Pada Kamis pula AS menuntut Iran untuk membebaskan sebuah kapal yang mereka rebut di Teluk. Soal ini, Iran mengatakan bahwa itu hanyalah kapal kecil yang menyelundupkan minyak.

Televisi Iran telah menampilkan tayangan sebuah kapal bernama RIAH. Sejak beberapa hari lalu, sebuah tanker berbendera Panama, MT Riah, dilaporkan menghilang dari pelacak di perairan teritorial Iran.

"Kami melakukan (inspeksi kapal) setiap hari. Mereka adalah orang-orang yang menyelundupkan minyak kami. Itu adalah kapal kecil yang digunakan untuk menyelundupkan 1 juta liter, bukan 1 juta barel, minyak mentah," tutur Zarif seperti dikutip oleh Press TV.

Di lain sisi, seorang komandan militer AS di Timur Tengah menekankan bahwa pihaknya akan bekerja secara agresif untuk memastikan kebebasan navigasi.

AS baru-baru ini meningkatkan kehadiran militernya di Timur Tengah. Armada Kelima AS yang bermarkas di Bahrain mengklaim bahwa negara-negara Teluk telah meningkatkan patroli mereka. Kemarin, Washington memberlakukan sanksi terhadap jaringan perusahaan internasional dan agen-agen mereka yang terlibat dalam pengadaan material untuk program nuklir Iran.

Di tengah eskalasi konflik, Komandan Garda Revolusi Islam Iran Hossein Salami mengungkapkan pada Kamis bahwa pihaknya mengadopsi strategi defensi. "Tetapi jika musuh kami membuat kesalahan ... strategi kami bisa berubah jadi ofensif."

Sumber : Reuters