logo alinea.id logo alinea.id

AS sah terapkan sanksi terberat untuk Iran

Presiden Iran Hassan Rouhani menyebut sanksi AS sebagai perang ekonomi.

Khairisa Ferida
Khairisa Ferida Selasa, 06 Nov 2018 13:22 WIB
AS sah terapkan sanksi terberat untuk Iran

Pada Senin (5/11), pemerintahan Donald Trump resmi menjatuhkan kembali sanksi terhadap Iran. Amerika Serikat melukiskannya sebagai yang terberat yang pernah mendera Teheran.

Ada pun Presiden Iran Hassan Rouhani menyebut sanksi AS sebagai perang ekonomi. Dengan percaya diri dia mengatakan, negaranya akan menang.

Paket sanksi ekonomi yang dikenakan terhadap Iran oleh AS adalah bagian paling penting dari keputusan Trump pada Mei lalu untuk meninggalkan Kesepakatan Nuklir Iran 2015. Trump menyebut pakta itu sebagai bencana. 

Industri minyak, ekspedisi, dan perbankan Iran dapat mengalami pukulan yang signifikan dan mata uang Iran yang melemah dapat terpuruk lebih jauh akibat sanksi yang menurut Trump bertujuan untuk menghentikan tindakan Iran di Timur Tengah yang tidak dapat diterima. 

"Bagi Iran, di beberapa area, itu akan membuat segalanya jauh lebih sulit jika tidak bisa disebut mustahil," ungkap Farhad R. Alavi, managing partner dari Akrivis Law Group, sebuah perusahaan Washington yang mengkhususkan diri dalam sanksi dan hukum ekspor. "Pendapatan akan turun dan biaya akan naik."

Presiden Rouhani sendiri merespons sanksi AS dengan menegaskan bahwa pihaknya akan dengan bangga melanggarnya. Tidak hanya itu, Teheran juga melakukan latihan militer, termasuk menguji coba rudal baru.

Sanksi apa yang dijatuhkan AS terhadap Iran?

Pemerintahan Trump akan menghukum pembeli minyak Iran sebagai bagian dari tujuan untuk mengurangi ekspok minyak Iran hingga nol. 

Sponsored

Sanksi tersebut memasukkan 50 bank dan anak perusahaan, lebih dari 200 orang dan kapal, maskapal penerbangan nasional dan lebih dari 65 pesawat Iran ke dalam daftar hitam.

Di bawah sanksi, AS dapat menyita aset orang dan entitas yang masuk dalam daftar hitam yang berada di yurisdiksinya. Sanksi juga melarang hubungan komersial dengan mereka.

Apa yang sebenarnya diinginkan Trump dari Iran? Presiden ke-45 itu berpendapat bahwa Kesepakatan Nuklir Iran tidak efektif untuk menghalagi Teheran memiliki senjata nuklir. Trump ingin pakta nuklir diberlakukan secara permanen. 

Selain itu, Trump mau Iran meninggalkan pembangunan rudal balistik dan berhenti mendukung kelompok militan di Suriah, Yaman, dan tempat lainnya yang dicap AS sebagai organisasi teroris.

Bagi Iran, AS bermuka dua dan melanggar hukum internasional karena mengingkari kesepakatan yang dicapai tidak hanya dengan mereka, namun juga dengan lima negara besar lainnya, yakni Inggris, China, Prancis, Rusia, dan Jerman. 

Seluruh negara-negara tersebut masih mendukung Kesepakatan Nuklir Iran. Validitas dari pakta tersebut telah ditegaskan oleh resolusi Dewan Keamanan PBB.

Menteri Luar Negeri Iran Mohammed Javad Zarif menuturkan bahwa sanksi memperkuat apa yang disebutnya sebagai isolasi AS yang semakin meningkat.

Ada pengecualian

Minyak merupakan ekspor paling penting Iran. Namun, penting bagi AS untuk menargetkannya dengan cara yang tidak mengguncang pasar dunia.

Pelarangan total pada ekspor minyak Iran dapat membatasi pasokan dan lonjakan harga, sebuah hasil yang dianggap Trump berbahaya secara politik.

Pada Senin kemarin, Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo mengumumkan bahwa ada delapan negara yang mendapat pengecualian dalam impor minyak Iran. Mereka adalah China, India, Korea Selatan, Turki, Italia, Yunani, Jepang, dan Taiwan.

Kedelapan negara itu akan mendapat pengecualian selama 180 hari atau keringanan. Mereka dapat membeli minyak Iran selama menunjukkan terjadinya pengurangan jumlah pembelian.

Menurut Pompeo, lebih dari 20 negara telah memangkas impor minyak mereka dari Iran hingga memicu menyusutnya ekspor Iran sekitar satu juta barel per hari.

Dan AS membutuhkan dorongan ekstra untuk mendesak China dan India, pelanggan terbesar Iran dengan kebutuhan energi yang sangat besar, untuk memotong seluruh impor mereka. 

Para ahli menilai, tidak mungkin China dan india akan mengakhiri semua impor minyak Iran, bahkan setelah 180 hari berakhir.

"Saya rasa AS membuat kalkulasi bahwa stabilitas pasar dan hubungan geopolitik meniadakan kepentingan dalam upaya untuk menurunkan ekspor Iran," ungkap Henry Rome, seorang analis Iran di Eurasia Group.

Bagaimana Uni Eropa menyikapi sanksi terhadap Iran?

Meski Trump mengeluhkan tentang Kesepakatan Nuklir Iran, namun Inggris, Prancis, dan Jerman melihatnya sebagai keberhasilan. Badan Energi Atom Internasional (IAEA) pun telah berulang kali mengatakan bahwa Teheran mematuhi persyaratan pakta nuklir tersebut.

Kemarahan Uni Eropa terkait sanksi Iran karena AS menggunakan kekuatan ekonominya yang sangat besar untuk mengancam perusahaan-perusahaan Eropa yang ingin berbisnis dengan Teheran. Banyak dari perusahaan-perusahaan itu telah meninggalkan Iran.

Secara lebih luas, Eropa takut ketidakstabilan di Iran dapat membawa masalah keamanan dan migran.

Mengantisipasi sanksi, Eropa telah berusaha untuk menetapkan sistem pembayaran alternatif dengan Iran yang memungkinkan mereka berbisnis tanpa risiko terkena sanksi AS. Namun, sistem itu belum selesai dan AS telah menegaskan bahwa dengan mudah mereka dapat menyabotase sistem.

Apakah Iran khawatir?

Sejumlah pidato dari pejabat Iran telah mencerminkan kekhawatiran terhadap sanksi AS. Menteri Ekonomi Iran Farhad Dajpesand menerangkan ini mungkin periode yang paling sensitif bagi negaranya pasca-Revolusi Islam pada 1979.

Sementara itu, Menteri Dalam Negeri Abdul Raza Rahmani Fazli mengemukakan bahwa gelombang protes ekonomi baru-baru ini di Iran merupakan tantangan serius. Aksi protes sebagian didorong oleh kegagalan Kesepakatan Nuklir untuk membawa manfaat ekonomi yang telah dijanjikan oleh Rouhani, meski pun korupsi dan salah urus juga dianggap sebagai penyebab yang mendasar.

Ekonomi Iran berisiko ambruk? Para kritikus terkemuka Iran mengatakan sanksi akan memicu penurunan tajam dalam nilai mata uang Iran sejak Trump pertama kali menjabat. Meski demikian, banyak analis mengatakan dampak sanksi yang diberlakukan tidak jelas.

"Ada perbedaan besar antara krisis dan kolaps," kata Rome. "Saya pikir mereka berada di ambang krisis. Mereka akan memiliki waktu yang sangat sulit untuk memastikan persediaan makanan dan obat-obatan yang mencukupi. Namun Iran telah melewati tantangan berat di masa lalu. Tidak pernah kami melihat mereka hampir menyerah." (The New York Times)