sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

AS tarik pasukan dari Suriah, Prancis pilih bertahan

Ketika Turki dan Rusia menyambut baik langkah Trump menarik pasukan dari Suriah, Inggris dan Prancis justru sebaliknya.

Khairisa Ferida
Khairisa Ferida Kamis, 20 Des 2018 19:12 WIB
AS tarik pasukan dari Suriah, Prancis pilih bertahan
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 381.910
Dirawat 63.733
Meninggal 13.077
Sembuh 305.100

Setelah Donald Trump mengumumkan bahwa dia akan menarik militer Amerika Serikat dari Suriah, sejumlah sekutu internasional AS bereaksi dengan syok dan cemas. 

Keputusan Trump untuk menarik penuh militer AS di Suriah dikonfirmasi oleh pejabat dan diperkirakan akan terealisasi dalam beberapa bulan mendatang. 

Saat ini ada sekitar 2.000 pasukan AS di Suriah, sebagian besar dari mereka menjalankan misi mendukung pasukan lokal yang memerangi ISIS. 

Pernyataan Trump bahwa ISIS telah dikalahkan, tidak didukung oleh sekutu yang telah berjuang bersama AS di Suriah. Sebaliknya, Prancis dan Inggris justru menekankan ancaman ISIS terus berlanjut.

"Masih banyak yang harus dilakukan dan kita tidak boleh melupakan ancaman yang mereka timbulkan. Bahkan meski tanpa wilayah, ISIS tetap menjadi ancaman," ungkap Kementerian Luar Negeri Inggris pada Rabu (19/12). "Sebagaimana telah dijelaskan oleh Amerika Serikat, perkembangan di Suriah bukanlah menandai akhir Koalisi Global atau kampanyenya. Kami akan terus bekerja sama dengan anggota koalisi lainnya."

Menteri Pertahanan Inggris Tobias Ellwood bernada lebih keras. Dia me-retweet sebuah twit milik Trump untuk menunjukkan ketidaksetujuannya dengan kebijakan presiden ke-45 AS itu.

Sementara itu, Menteri Pertahanan Prancis Florence Parly menekankan bahwa ISIS telah melemah, namun belum kalah. Parly juga menyatakan bahwa ISIS harus dikalahkan secara militer.

Sponsored

Ada pun Menteri Urusan Eropa Prancis Nathalie Loiseau mengonfirmasi bahwa pasukan Prancis akan tetap berada di Suriah untuk saat ini.

"Memang benar bahwa koalisi telah membuat kemajuan signifikan di Suriah, tetapi perjuangan ini terus berlanjut, dan kami akan melanjutkannya," katanya kepada stasiun TV CNews.

Di Israel, Perdana Menteri Benjamin Netanyahu mengungkapkan dirinya tetap mengkhawatirkan pengaruh Iran di Suriah. Meski demikian, dia memilih tidak berkomentar banyak setelah berbincang dengan Trump melalui telepon.

"Ini tentu saja sudah menjadi keputusan AS," ungkap Netanyahu. "Tidak peduli apa pun yang terjadi, kami akan menjaga keamanan Israel dan melindungi diri dari arena ini."

Bagi Turki, kebijakan AS akan mudah diterima. Hubungan Washington-Ankara telah lama tegang oleh perbedaan sikap atas Suriah, di mana AS mendukung militan YPG Kurdi dalam perang melawan ISIS.

Turki mencap YPG sebagai kelompok teroris dan perpanjangan dari Partai Pekerja Kurdistan (PKK) yang terlarang. Segera setelah deklarasi Trump, Turki meningkatkan retorikanya melawan militan Kurdi.

Menurut kantor berita Anadolu, Menteri Pertahanan Turki Hulusi Akar pada Kamis mengatakan bahwa pihaknya tengah mempersiapkan operasi militer baru di bagian timur laut Suriah. 

"Saat ini disebutkan bahwa beberapa parit dan terowongan telah digali di Manbij dan di sebelah utara Efrat," papar Akar. "Mereka dapat menggali terowongan atau parit jika mereka mau atau mereka dapat pergi ke bawah tanah jika mereka mau. Namun, ketika waktunya tiba mereka akan dikubur di tempat yang mereka gali. Tidak ada yang meragukan hal ini." 

Rusia yang mendukung pemerintah Suriah menyambut baik keputusan Trump. Kantor berita TASS melaporkan bahwa Kementerian Luar Negeri Rusia menilai kebijakan Trump telah menciptakan prospek bagi penyelesaian politik di Suriah.

Mengutip sumber yang sama, TASS juga mengatakan bahwa inisiatif untuk membentuk komite konstitusi Suriah memiliki masa depan yang cerah seiring dengan penarikan pasukan AS.

Sumber : Al Jazeera

Berita Lainnya