sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

AS tarik seluruh staf dari kedutaannya di Venezuela

Menlu AS Mike Pompeo menyatakan keputusan penarikan staf yang diambil mencerminkan situasi yang memburuk di Venezuela.

Valerie Dante
Valerie Dante Selasa, 12 Mar 2019 20:21 WIB
AS tarik seluruh staf dari kedutaannya di Venezuela

Menteri Luar Negeri Mike Pompeo mengumumkan penarikan seluruh staf diplomatik dari Kedutaan Besar Amerika Serikat di Venezuela pekan ini. Hal itu disampaikannya lewat Twitter.

Menurut Pompeo, kebijakan ini mencerminkan situasi yang memburuk di Venezuela.

Pada Januari, AS memerintahkan seluruh staf non-esensial untuk meninggalkan Venezuela di tengah krisis diplomatik yang sedang berlangsung.

Keputusan untuk mengosongkan kedutaan datang pada Senin (11/3) malam dan diikuti dengan kecaman Pompeo terhadap Presiden Venezuela Nicolas Maduro.

"Nicolas Maduro menjanjikan rakyat Venezuela kehidupan yang lebih baik di surga sosialis," kata Pompeo. "Pada bagian sosialisme mereka membagikannya... tetapi pada bagian surga? Tidak sama sekali."

Hubungan antara kedua negara telah memanas dalam beberapa bulan terakhir.

Presiden AS Donald Trump mendukung pemimpin oposisi, Juan Guaido, sebagai Presiden Venezuela setelah dia mendeklarasikan diri sebagai pemimpin interim pada 23 Januari.

Sponsored

Sebagai tanggapan atas langkah AS, Venezuela memutuskan hubungan diplomatik dengan Washington.

Maduro memberikan waktu 72 jam bagi diplomat AS untuk meninggalkan negaranya. Namun, AS yang tidak menganggap Maduro sebagai presiden menyatakan dia tidak memiliki wewenang untuk mengusir mereka.

Gelap gulita

Pemadaman listrik yang meluas dan krisis kemanusiaan yang memburuk telah memicu protes masyarakat Venezuela.

Sebagian besar Venezuela gelap gulita sejak Kamis (7/3). Pemadaman ini diduga disebabkan oleh kerusakan di Bendungan Guri, pembangkit listrik tenaga air, di negara bagian Bolivar.

Untuk pasokan listrik domestik, Venezuela bergantung pada infrastruktur hidroelektriknya yang pernah menuai keirian dari Amerika Latin. Tetapi kini kondisinya telah buruk setelah bertahun-tahun mengalami pemeliharaan dan pengelolaan yang salah.

Pihak oposisi mengklaim setidaknya 17 orang dilaporkan tewas selama pemadaman listrik terjadi.

Pada akhir pekan, kelompok pro-pemerintah dan oposisi saling beradu demonstrasi yang diwarnai oleh bentrokan dengan polisi.

Protes lebih lanjut diperkirakan berlangsung di ibu kota pada Selasa (12/3) waktu setempat.

Dalam pidato yang disiarkan melalui televisi, Maduro menyalahkan sabotase asing sebagai penyebab pemadaman listrik yang berkelanjutan.

"Pemerintah imperialis AS memerintahkan serangan ini," tuturnya, tanpa memberikan bukti untuk mendukung klaimnya.

Presiden Maduro menuding Guaido mencoba melancarkan kudeta terhadapnya dengan bantuan AS.

Maduro telah menjabat sebagai presiden sejak kematian mentornya, Hugo Chavez, pada 2013. 

Dia memenangkan pilpres pada April 2013 dan kembali terpilih untuk masa jabatan kedua pada Mei 2018 dalam pemilu yang secara luas digambarkan penuh kecurangan.

Dalam beberapa tahun terakhir Venezuela telah mengalami keruntuhan ekonomi, dengan kekurangan pangan yang parah dan hiperinflasi yang mencapai setidaknya 800.000% pada 2018.

Pemerintahan Maduro menjadi semakin terisolasi karena banyaknya negara menyalahkannya atas krisis ekonomi yang telah memaksa lebih dari tiga juta warga untuk angkat kaki dari Venezuela.

Sumber : BBC