logo alinea.id logo alinea.id

Australia buka kembali pusat penahanan imigran di Pulau Christmas

Pengumuman pembukaan kembali pusat penahanan di Pulau Christmas datang setelah pemerintah Morrison menderita kekalahan di parlemen.

Khairisa Ferida Rabu, 13 Feb 2019 11:46 WIB
Australia buka kembali pusat penahanan imigran di Pulau Christmas

Perdana Menteri Australia Scott Morrison mengumumkan pembukaan kembali pusat penahanan imigrasi lepas pantai yang kontroversial di Pulau Christmas pada Rabu (13/2). Keputusannya, meningkatkan kebijakan garis keras pemerintahan konservatif terhadap para pencari suaka dan pengungsi sebagai respons langsung atas kekalahan bersejarah di parlemen.

Morrison menyetujui pembukaan kembali fasilitas tersebut setelah mengklaim bahwa UU yang baru disahkan parlemen akan meningkatkan jumlah orang yang mencoba masuk ke Australia secara ilegal. Pusat penahanan imigrasi lepas pantai itu baru ditutup beberapa bulan lalu.

Pada Selasa dan Rabu, parlemen menolak peringatan pemerintah dan meloloskan UU yang memungkinkan para pengungsi dan pencari suaka yang ditahan di pusat-pusat penahanan lepas pantai di Pulau Nauru dan Manus untuk bepergian ke Australia untuk mendapat perawatan medis dengan diagnosis setidaknya dua dokter.

Ini adalah kali pertama dalam 80 tahun terakhir pemerintah Australia kehilangan suara atas UU mereka sendiri di majelis rendah. Pemerintah yang dipimpin Morrison menolak revisi UU Keimigrasian yang didukung oleh oposisi. RUU itu dikabarkan lolos dari majelis tinggi pada Rabu pagi.

Morrison menuduh oposisi, Partai Buruh, berupaya untuk melemahkan dan membahayakan perbatasan. PM Australia itu menegaskan, dia mengadopsi 100% dari serangkaian rekomendasi dari layanan keamanan negara untuk lebih memperketat upaya pencegahan kedatangan imigran dan pencari suaka melalui laut.

PM Morrison tidak menyebutkan secara spesifik tindakan apa yang akan diambil selain mengumumkan pembukaan kembali kamp di Pulau Christmas. 

"Ini tugas saya sekarang untuk memastikan perahu-perahu tidak kembali," tulis Morrison di Twitter. "Saya akan melakukan segalanya ... untuk memastikan bahwa apa yang telah dilakukan Partai Buruh untuk melemahkan perbatasan kita tidak menghasilkan perahu-perahu yang datang ke Australia."

Sponsored
— Scott Morrison (@ScottMorrisonMP) 13 February 2019

Australia mulai menahan pencari suaka di fasilitas lepas pantai setelah insiden Tampa pada 2001, ketika mereka menolak sebuah kapal Norwegia yang telah menyelamatkan ratusan warga Afghanistan dari laut untuk memasuki perairan Australia.

Selama dekade terakhir, telah menjadi kebijakan resmi bahwa pencari suaka yang mencapai Australia melalui laut akan dibawah ke kamp lepas pantai tanpa harapan pernah diizinkan untuk menetap di negara itu. Kebijakan penahanan tidak berlaku bagi mereka yang tiba dengan pesawat.

Keputusan Morrison untuk membuka kembali pusat penahanan imigrasi lepas pantai di Pulau Christmas datang di tengah persiapan jelang pemilu yang dijadwalkan berlangsung pada Mei. Kebijakan imigrasi yang keras milik pemerintah konservatif menjadi pusat perdebatan sengit.

Ribuan orang telah dikirim ke Manus dan Nauru dalam kondisi yang secara luas dikutuk oleh PBB dan kelompok-kelompok pemantau HAM. Sebuah laporan oleh Komisi HAM Australia pada 2014 mendokumentasikan tingkat serius penyakit mental, trauma, depresi, melukai diri sendiri, serangan seksual dan bunuh diri di antara para pencari suaka.

Setidaknya, lima orang telah melakukan bunuh diri di Nauru sejak 2013. Tujuh orang meninggal di Manus selama periode yang sama, namun beberapa lainnya telah mencoba upaya bunuh diri.

Pasca-kekalahan di parlemen, PM Morrison menolak seruan untuk mengundurkan diri atau mengadakan pemilu lebih awal. Dia bersikeras bahwa warga Australia dapat menentukan pilihan mereka pada Mei.

Fasilitas di Pulau Christmas, yang terletak di Samudera Hindia di sebelah selatan pulau Jawa, Indonesia, pernah menampung ribuan orang. Tiga puluh lima tahanan terakhir dikeluarkan dari pulau itu pada Oktober lalu, ketika kamp ditutup. (Channel News Asia dan Al Jazeera)

Cinta bersemi dari aplikasi

Cinta bersemi dari aplikasi

Jumat, 15 Feb 2019 12:59 WIB