sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Australia suplai sayur mayur untuk satwa liar

Lebih dari 1.000 kg sayur, yang kebanyakan wortel dan ubi jalar, telah dijatuhkan dari helikopter ke sejumlah daerah.

Khairisa Ferida
Khairisa Ferida Senin, 13 Jan 2020 14:34 WIB
Australia suplai sayur mayur untuk satwa liar

Menteri Energi dan Lingkungan Negara Bagian New South Wales (NSW) Matt Kean menyatakan, sebagai bagian dari upaya pemulihan satwa liar pascakebakaran, pihaknya melaksanakan misi Operation Rock Wallaby untuk memberikan makan walabi. Lebih dari 1.000 kg sayur, yang kebanyakan wortel dan ubi jalar, telah dijatuhkan dari helikopter ke sejumlah daerah dalam sepekan terakhir.

"Penyediaan makanan tambahan adalah salah satu strategi utama yang kami gunakan untuk mempromosikan kelangsungan hidup dan pemulihan spesies yang terancam punah seperti jenis brush-tailed rock-wallaby," kata Kean.

"Penilaian awal menunjukkan habitat beberapa populasi yang dihuni brush-tailed rock-wallaby ikut terbakar. Walabi sendiri dapat bertahan, tapi telantar dengan makanan alami yang terbatas karena api juga melalap vegetasi di sekitar habitat mereka yang berbatu." 

Menurut situs Kementerian Lingkungan dan Energi Australia, brush-tailed rock-wallaby adalah marsupial, seperti kanguru, yang hidup di lereng curam berbatu, singkapan granit, dan tebing.

Menurut ahli ekologi dari University of Sydney, di NSW saja, hampir setengah miliar hewan terdampak kebakaran hutan Australia. Hewan-hewan tersebut termasuk burung, reptil, mamalia, serangga, dan katak. Tidak menutup kemungkinan angkanya jauh lebih tinggi.

"Jumlah total hewan yang terdampak di Australia bisa mencapai satu miliar," ujar ahli ekologi Christopher Dickman.

Untuk walabi, pemerintah NSW berencana untuk menyediakan pasokan makanan tambahan sampai sumber makanan alami dan air di daerah terdampak tercukupi.

Sponsored

"Kami juga menyiapkan kamera untuk memantau penyerapan makanan, jumlah, serta variasi hewan," jelas Kean.

Popularitas PM Morrison merosot

Sebuah jajak pendapat menunjukkan bahwa popularitas Perdana Menteri Scott Morrison menurun tajam saat pemerintahannya bergulat dengan krisis kebakaran hutan yang telah menewaskan 28 orang dan menghancurkan 2.000 rumah.

Dalam jajak pendapat Newspoll yang dirilis pada Senin (13/1), peringkat persetujuan Morrison turun delapan poin ke level terendah sejak dia mengambil alih kepemimpinan Partai Liberal pada Agustus 2018.

Pejabat terkait mengonfirmasi bahwa 11,2 juta hektare lahan hancur oleh api dalam kebakaran yang telah terjadi selama berbulan-bulan. Itu disebut nyaris setengah dari luas wilayah Inggris.

"Kami telah mendengar pesan rakyat Australia itu dengan keras dan jelas," ungkap Menteri Keuangan Australia Josh Frydenberg saat ditanya soal jajak pendapat setelah dia mengumumkan pemerintah menggelontorkan dana perlindungan satwa liar dan pemulihan habitat yang rusak senilai 50 juta dolar Australia.

"Mereka ingin melihat pemerintah federal mengadopsi respons yang sangat langsung terhadap bencana alam dan nasional ini."

Sebelumnya, PM Morrison mengumumkan pemerintah menganggarkan dana pemulihan kebakaran senilai 2 miliar dolar Australia dan memanggil 3.000 tentara cadangan untuk mendukung pekerja darurat, respons yang dipandang terlalu terlambat.

Kebakaran hebat di Australia dipicu oleh angin yang tidak menentu dan suhu di atas 40 derajat Celcius dan NSW disebut sebagai negara bagian yang terkena dampak terparah.

Pada Minggu malam, terdapat 111 titik api di seluruh New South Wales dan 40 di antaranya belum terkendali. Namun, tidak satu pun berada pada level darurat.

Pemerintah Australia juga mengumumkan alokasi dana senilai 76 juta Australia untuk konsultasi kesehatan dan konseling kesehatan mental petugas pemadam kebakaran, pekerja darurat, individu, dan komunitas.

Jumat lalu, ribuan warga Australia turun ke jalan untuk memprotes kelambanan pemerintah atas perubahan iklim. Aksi mereka didukung oleh sejumlah orang di London.

Dewan Asuransi Australia memperkirakan klaim kerugian akibat kebakaran lebih dari 900 juta dolar Australia dan tidak menutup kemungkinan jumlahnya akan melonjak jauh. (CNN dan Reuters)

Berita Lainnya