logo alinea.id logo alinea.id

Beda pendapat dengan Trump, Menhan AS mundur

Menhan AS Jim Mattis dikabarkan berbeda pendapat dengan Trump dalam sejumlah isu, termasuk kebijakan penarikan pasukan dari Suriah.

Khairisa Ferida
Khairisa Ferida Jumat, 21 Des 2018 10:09 WIB
Beda pendapat dengan Trump, Menhan AS mundur

James Mattis mengejutkan publik dengan mengundurkan diri dari jabatannya sebagai menteri pertahanan Amerika Serikat. Alasan di balik keputusannya tersebut adalah perbedaan kebijakan yang tidak dapat diatasi. 

"Karena Anda memiliki hak untuk memiliki menteri pertahanan yang pandangannya selaras dengan Anda ... Saya yakin adalah tepat bagi saya untuk mundur dari posisi saya," tulis Mattis dalam surat pengunduran dirinya kepada Donald Trump.

Sebelumnya, pada Kamis (20/12), seorang pejabat senior pemerintah mengatakan bahwa Mattis sangat menentang keputusan Trump untuk menarik pasukan dari Suriah dan rencana serupa di Afghanistan.

Surat pengunduran diri Mattis dinilai merupakan sebuah teguran bagi sejumlah kebijakan luar negeri Trump, di mana dia menekankan pentingnya aliansi AS dan menjadi tidak ambigu dalam mendekati lawan seperti Rusia dan China. Mattis sama sekali tidak menulis pujian untuk Trump.

Berusaha meredam kritik-kritik terhadap dirinya, Trump justru melabeli pengunduran diri Mattis sebagai pensiun.

Mattis sendiri di dalam suratnya tidak secara eksplisit mengutip perbedaan pandangan dengan Trump soal kebijakan di Suriah, namun jenderal bintang empat itu kukuh mendesak Trump untuk melawan kemunduran.

Hubungan Mattis dan Trump dilaporkan semakin memuncak dalam beberapa bulan terakhir dan upayanya untuk mengendalikan Trump pada sejumlah isu kunci disebut-sebut kurang efektif.

Dalam suratnya, Mattis dengan tegas menyatakan bahwa kekuatan AS sebagian bergantung pada kekuatan aliansinya di seluruh dunia. Kini banyak di antaranya telah terancam di bawah kepemimpinan Trump.

Sponsored

"Salah satu keyakinan inti yang selalu saya pegang adalah bahwa kekuatan kita sebagai bangsa tidak bisa dilepaskan dari kekuatan sistem aliansi dan kemitraan kita yang unik serta komprehensif. Sementara AS tetap menjadi bangsa yang sangat penting di dunia bebas, kita tidak dapat melindungi kepentingan kita atau menjalani peran itu secara efektif tanpa mempertahankan aliansi yang kuat dan menunjukkan rasa hormat kepada para sekutu," tutur Mattis dalam suratnya.

Menurut salah seorang staf Gedung Putih, Mattis bertemu empat mata dengan Trump di Ruang Oval. Dalam momen itulah Mattis menyatakan bahwa dia akan meninggalkan pemerintahan dan mengajukan surat pengunduran dirinya.

"Mereka memiliki perbedaan dalam sejumlah isu," ungkap staf Gedung Putih tersebut.

Trump mengumumkan kepergian Mattis lewat Twitter. Dia menulis bahwa Mattis akan pensiun pada akhir Februari setelah melayani sebagai menteri pertahanan selama dua tahun terakhir.

Tidak lupa, Trump menyinggung sejumlah pencapaian yang diraih Mattis. Dia mengucapkan terima kasih atas pengabdian sang jenderal. Selain itu, Trump menuturkan bahwa pengganti Mattis akan segera diumumkan.

Penarikan pasukan AS dari Suriah

Pengunduran diri Mattis terjadi sehari setelah Trump memerintahkan penarikan penuh dan cepat pasukan AS dari Suriah, kebijakan yang ditentang Mattis, sejumlah pejabat senior, dan anggota parlemen yang menilai bahwa itu merupakan kesalahan strategis.

Pengumuman mundurnya Mattis muncul lebih dari satu jam setelah mencuat laporan bahwa Trump kemungkinan juga mempertimbangkan untuk menarik pasukan AS di Afghanistan. Sejumlah sumber mengatakan bahwa Trump belum membuat keputusan akhir.

Mattis adalah pejabat senior terakhir yang memilih meninggalkan kabinet Trump. Sebelumnya ada Jaksa Agung Jeff Sessions, mantan Menteri Luar Negeri Rex Tillerson, dan penasihat keamanan nasional H.R. McMaster.

Meski demikian, reaksi terhadap pengunduran diri Mattis sangat berbeda. 

"Ini menakutkan," ungkap Senator Virginia Mark Warner, seorang politikus Demokrat yang duduk di Komite Intelijen Senat. "Mattis merupakan stabilitas di tengah kekacauan pemerintahan Trump."

Senator North Carolina Lindsey Graham, seorang Republikan pendukung kuat Trump namun penentang kebijakan Trump atas Suriah menyebut pengunduran diri Mattis sebagai kesedihan mendalam.

Sebenarnya, masa depan Mattis telah menjadi pertanyaan setelah Trump dalam wawancaranya dengan program CBS' "60 Minutes pada Oktober lalu menandai sosoknya "mirip politikus Demokrat". Trump juga menyinggung bahwa Mattis kemungkinan akan mundur seraya mengatakan bahwa bahwa pada titik tertentu, semua orang akan pergi.

Dalam kesempatan yang sama, Trump menilai bahwa Mattis adalah sosok yang baik. Dia mengklaim hubungannya dengan jenderal berusia 68 tahun itu sangat baik.

Sumber : CNN