sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Bentrokan polisi dan demonstran warnai Natal di Hong Kong

Pihak rumah sakit mengumumkan, 25 orang terluka dalam bentrokan pada Rabu (25/12).

Valerie Dante
Valerie Dante Kamis, 26 Des 2019 14:09 WIB
Bentrokan polisi dan demonstran warnai Natal di Hong Kong

Perayaan Natal di Hong Kong diwarnai oleh bentrokan sporadis antara polisi dan pengunjuk rasa prodemokrasi pada Rabu (25/12). Polisi menggunakan semprotan merica dan gas air mata untuk memukul mundur ratusan demonstran yang menggelar protes skala kecil di sejumlah mal di beberapa bagian kota.

"Kami sudah menduga akan terjadi konfrontasi meskipun sedang Natal," kata seorang demonstran, Chan. "Saya kecewa pemerintah masih belum menanggapi tuntutan kami."

Ratusan pemrotes, berpakaian serba hitam dan menggunakan masker, meneriakkan, "Free Hong Kong" dan "Revolution of our times".

Kerumunan yang mengolok-olok polisi di Mong Kok memicu petugas keamanan menembakkan gas air mata untuk membubarkan massa. Semprotan merica juga digunakan dalam bentrokan antara polisi dan pemrotes di dua mal yang berbeda.

Polisi menangkap sejumlah pedemo di sebuah pusat perbelanjaan di Distrik Sha Tin. Akibat bentrokan, mal tutup lebih awal. Menurut siaran televisi lokal, sejumlah demonstran muda ditahan oleh polisi yang berpakaian seperti warga biasa.

Pusat perbelanjaan di kota itu kerap menjadi target unjuk rasa. Sejumlah kelompok prodemokrasi mengatakan telah mengajukan izin untuk mengadakan unjuk rasa serupa pada Tahun Baru 2020.

Pihak rumah sakit mengumumkan, 25 orang terluka dalam bentrokan pada Rabu, termasuk seorang lelaki yang jatuh dari lantai dua sebuah mal ketika berusaha melarikan diri dari polisi.

Kepala Eksekutif Hong Kong Carrie Lam pada Rabu mengutuk demonstran prodemokrasi, menyebut mereka sebagai perusuh yang sembrono dan egois.

Sponsored

"Tindakan ilegal semacam itu tidak hanya merusak suasana perayaan Natal yang seharusnya meriah, tetapi juga berdampak negatif bagi bisnis lokal," kata dia di Facebook.

Banyak yang menilai suasana Natal di Hong Kong redup pada tahun ini. Sebagian besar penduduk bergerak melawan pemerintah China dan pemerintah kota semiotonom.

Protes selama enam bulan terakhir mendorong Hong Kong masuk ke dalam resesi dan polarisasi politik yang semakin intens. Awalnya, protes dipicu oleh upaya pemerintah meloloskan RUU ekstradisi yang kini telah secara resmi dicabut.

Unjuk rasa kemudian berubah menjadi pemberontakan rakyat melawan China karena sebagian besar warga Hong Kong khawatir Beijing mengikis kebebasan kota itu secara perlahan.

Di antara tuntutan yang diajukan pemrotes adalah penyelidikan independen terhadap dugaan kebrutalan polisi, amnesti bagi lebih dari 6.000 orang yang ditangkap, dan hak untuk memilih pemimpin Hong Kong.

Makan malam bersama

Pengunjuk rasa telah berulang kali menargetkan bisnis yang mereka yakini memiliki hubungan dengan Beijing. Namun, mereka mendukung bisnis lokal yang menawarkan perlindungan saat terjadi bentrokan dengan petugas keamanan.

Kwong Wing Catering, restoran di Tsim Sha Tsui, menyelenggarakan makan malam Natal bersama untuk para pengunjuk rasa. Ratusan orang mengantre untuk mendapatkan sepiring mi atau ayam goreng gratis.

"Ini pertama kalinya saya makan bersama-sama dengan orang asing, tetapi kami memiliki tujuan yang sama ... Menurut saya ini adalah cara yang bermakna untuk merayakan Natal," kata seorang aktivis prodemokrasi, Kenny.

Glory, pemilik Kwong Wing Catering, menyebut bahwa warga Hong Kong benar-benar bersatu pada Natal tahun ini dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya.

"Memang tidak ada suasana Natal tahun ini, tetapi ada rasa persatuan yang kuat," ungkap dia.

Kwong Wing Catering adalah satu dari banyak bisnis yang mendukung gerakan prodemokrasi di Hong Kong. Salah satu koki yang diundang untuk memasak di restoran itu pada Rabu dianggap sebagai pahlawan rakyat karena menyediakan makanan dan berada bersama pengunjuk rasa mahasiswa yang terkepung di Hong Kong Polytechnic University pada November. (France24 dan Reuters)

Berita Lainnya