sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Blokir akun remaja AS, TikTok minta maaf

TikTok populer selama dua tahun terakhir. Menurut analis intelijen seluler Sensor Tower, aplikasi ini telah diunduh 1,5 miliar kali.

Khairisa Ferida
Khairisa Ferida Kamis, 28 Nov 2019 12:52 WIB
Blokir akun remaja AS, TikTok minta maaf

Jaringan sosial dan platform video musik asal China, TikTok, meminta maaf kepada seorang remaja Amerika Serikat yang mereka blokir setelah dia mengunggah video yang mengkritik perlakuan Tiongkok terhadap muslim Uighur.

TikTok mengatakan telah mencabut pemblokiran terhadap akun Feroza Aziz. Perusahaan bersikeras bahwa pemblokiran tidak terkait dengan politik China, melainkan karena ulah Feroza sendiri.

Selain itu, TikTok juga mengklaim kesalahan manusia bertanggung jawab atas penghapusan video Feroza selama hampir satu jam pada Kamis (28/11).

TikTok, yang dimiliki oleh ByteDance yang berbasis di Beijing, menegaskan tidak menerapkan prinsip-prinsip moderasi Tiongkok untuk produknya di luar daratan China.

Sementara itu, Feroza mentwit bahwa dia tidak menerima penjelasan dari perusahaan.

"Apakah saya harus percaya bahwa mereka menghapusnya karena video satir tidak terkait yang telah saya hapus dari akun saya sebelumnya? Tepat setelah saya mengunggah tiga video tentang Uighur? Tidak," twit dia.

Dalam wawancaranya dengan BBC, Feroza menuturkan, "Saya akan terus membicarakannya (isu Uighur), dan saya akan terus menyuarakannya di Twitter, Instagram, atau setiap platform di mana saya memiliki akun, termasuk TikTok."

"Saya tidak takut dengan TikTok, bahkan setelah diblokir."

Sponsored

Penjelasan TikTok

Eric Han, kepala keselamatan TikTok di AS, mengklaim bahwa Feroza telah diblokir pada awal bulan ini setelah dia mengunggah video berisi gambar Osama bin Laden.

"Meski kami menyadari bahwa video tersebut mungkin dimaksudkan untuk sindiran, tapi kebijakan kami terkait hal itu saat ini sangat ketat," kata Erick.

Menyangkut dengan penghapusan video Feroza yang menurutnya karena faktor kesalahan manusia, Erick menuturkan, "Penting untuk mengklarifikasi bahwa tidak ada dalam pedoman komunitas kami yang menghalangi konten video seperti itu, dan seharusnya tidak dihapus. Kami ingin meminta maaf kepada pengguna atas kesalahan kami."

Human Rights Watch (HRW) mengatakan kepada BBC bahwa kurangnya transparansi patut mendapat perhatian lebih.

"Sulit bagi orang luar untuk tahu alasan sebenarnya pemblokiran akun Feroza," kata peneliti HRW Yaqiu Wang. "TikTok tidak mempublikasikan data pada video yang dihapusnya atau pengguna yang ditangguhkannya, atau alat kecerdasan buatan yang digunakannya untuk menentukan penghapusan dan penangguhan."

"TikTok telah berulang kali menekankan bahwa mereka tidak menerima perintah dari pemerintah China dalam hal konten apa yang mesti dibiarkan atau harus dihilangkannya di luar China, itu hanya sedikit memuaskan kecurigaan, mengingat bahwa seluruh perusahaan China tidak hanya bertanggung jawab kepada pemegang saham, tetapi juga kepada Partai Komunis Tiongkok," tegas Yaqiu.

TikTok populer selama dua tahun terakhir. Secara global, menurut analis intelijen seluler Sensor Tower, aplikasi ini telah diunduh 1,5 miliar kali.

Diprediksi TikTok akan menjadi aplikasi non-gim ketiga yang paling banyak diunduh setelah Facebook dan Instagram.

Lonjakan popularitas tersebut telah menimbulkan kekhawatiran di pihak Barat, menyusul sifat kepemilikan TikTok di China.

Di AS, kesepakatan TikTok untuk membeli Musical.ly, sebuah jejaring sosial berbasis musik, kini tengah dikaji oleh Komite Investasi Asing Amerika Serikat. Otoritas terkait menyelidiki secara khusus pada penyimpanan data dan praktik privasi.

Sumber : BBC

Berita Lainnya