logo alinea.id logo alinea.id

Bolton pergi, ketegangan AS-Iran akan turun?

Trump mengumumkan pemecatan John Bolton sebagai penasihat keamanan nasionalnya lewat Twitter pada Selasa (10/9).

Khairisa Ferida
Khairisa Ferida Jumat, 13 Sep 2019 14:57 WIB
Bolton pergi, ketegangan AS-Iran akan turun?

Donald Trump mengatakan dia percaya bahwa pemimpin Iran ingin bicara dengannya. Trump menambahkan bahwa dia berharap dapat melaksanakan KTT Amerika Serikat-Iran di sela-sela Sidang Umum PBB.

"Saya dapat sampaikan pada Anda bahwa Iran ingin bertemu," ungkap Trump kepada wartawan di Gedung Putih.

Trump, telah berulang kali mengindikasikan bahwa dia siap untuk bertemu dengan Presiden Hassan Rouhani, yang diperkirakan akan hadir dalam Sidang Umum PBB di New York bulan ini. Namun, sejauh ini, Iran belum memberikan respons positif.

Pada Rabu (11/9), Rouhani mengecam pemerintahan Trump yang telah memberi tekanan pada pihaknya dengan mengatakan, "AS harus memahami bahwa sikap suka berkelahi dan perang tidak menguntungkan mereka. Keduanya ... harus ditinggalkan."

Teheran dan Washington, dua musuh bebuyutan, kembali berselisih sejak Trump menghuni Gedung Putih. Trump membawa AS keluar dari kesepakatan nuklir Iran 2015 dan mulai menerapkan sanksi-sanksi yang mencekik sumber pendapatan utama Iran.

Negeri Para Mullah merespons serangkaian perilaku AS dengan secara bertahap mengurangi komitmennya terhadap kesepakatan nuklir Iran.

Namun, sejumlah analis melihat harapan untuk kompromi setelah Trump mendepak penasihat keamanan nasionalnya, John Bolton, yang dikenal seorang hawkish.

Kepergian Bolton terjadi beberapa hari setelah Iran mengumumkan pihaknya telah mengaktifkan mesin-mesin sentrifugalnya untuk meningkatkan cadangan uraniumnya yang diperkaya.

Sponsored

Seorang penasihat Rouhani, Hesameddi Ashena, memuji pemecatan Bolton sebagai sebuah pertanda jelas atas kekalahan strategis tekanan maksimum AS. Namun, bahkan setelah Bolton disingkirkan, pejabat Trump tidak menunjukkan tanda-tanda mundur dari strategi sanksi terhadap Iran.

"Sekarang presiden telah menyatakan bahwa dia dengan senang hati menggelar pertemuan tanpa prasyarat, tetapi kami mempertahankan kampanye tekanan maksimum," ujar Menteri Keuangan Steven Mnuchin pascakepergian Bolton.

Gagasan pertemuan antara Trump dan Rouhani dicetuskan bulan lalu oleh Presiden Prancis Emmanuel Macron, yang telah menjadi ujung tombak upaya Eropa untuk mengurangi ketegangan.

Rouhani telah menegaskan bahwa Iran siap untuk mematuhi kesepakatan nuklir 2015, yang memiliki nama resmi Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA), hanya jika AS juga melakukannya.

Alasan di balik pemecatan Bolton

Pada Rabu, Bloomberg dengan mengutip tiga sumber melaporkan bahwa Bolton disingkirkan karena tidak sepakat atas kemungkinan pelonggaran sanksi terhadap Iran.

Bloomberg dalam laporannya menyebut bahwa pada Senin (9/9), Bolton berdebat menentang gagasan tersebut. Setelah Menkeu Mnuchin menyatakan dukungan terhadap ide tersebut, Trump kemudian memutuskan untuk "menggulingkan" Bolton. 

Trump mengumumkan pemecatan Bolton melalui Twitter pada Selasa. Dia mentwit bahwa dirinya banyak tidak setuju dengan pandangan-pandangan Bolton.

Namun, Bolton membuat pengakuan berbeda. Menurutnya, dirinyalah yang mengundurkan diri.

Menurut Charles Kupchan, seorang anggota senior di Dewan Hubungan Luar Negeri, setelah Bolton keluar, kemungkinan eskalasi militer di Timur Tengah telah berkurang.

"Terlalu sulit untuk mengatakan apakah pertemuan (Trump-Rouhani) akan terwujud ... Tapi kemungkinannya telah meningkat karena salah satu penentang utamanya sekarang telah disingkirkan," tutur Kupchan.

Pada Rabu, Trump mengatakan bahwa Bolton telah menjadi "bencana" pada kebijakan terhadap Korea Utara, "ngawur" pada kebijakan terhadap Venezuela dan tidak cocok dengan pejabat tinggi pemerintahan lainnya.

Trump menekankan bahwa Bolton telah melakukan kesalahan, termasuk dengan menyinggung Kim Jong-un lewat pernyataannya yang menyebut agar Korea Utara melakukan denuklirisasi "model Libya", yaitu menyerahkan senjata nuklir demi meringankan sanksi.

"Kami mundur sangat jauh ketika John Bolton berbicara tentang model Libya ... benar-benar sebuah bencana," kata Trump kepada wartawan di Gedung Putih.

Korea Utara telah mengecam Bolton sebagai seorang maniak perang dan manusia sampah.  (AFP dan Al Jazeera)