sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

BuzzFeed PHK 1.100 karyawan, masa depan jurnalisme digital dipertanyakan

BuzzFeed mengalami pertumbuhan pendapatan pada 2018, namun itu tidak cukup untuk mendorong kinerja perusahaan dalam jangka panjang. 

Valerie Dante
Valerie Dante Selasa, 29 Jan 2019 11:19 WIB
BuzzFeed PHK 1.100 karyawan, masa depan jurnalisme digital dipertanyakan

Sejumlah perusahaan media digital yang dianggap sebagai masa depan jurnalisme tengah menghadapi masa-masa sulit, termasuk BuzzFeed dan Huffington Post. 

Dalam suratnya kepada karyawan yang bertajuk 'Difficult Changes', pendiri sekaligus CEO Buzzfeed Jonah Peretti, memaparkan perusahaan akan memangkas 15% karyawannya. Jumlah tersebut setara dengan 250 pekerjaan atau sekitar 1.100 karyawannya di seluruh dunia. 

BuzzFeed mengalami pertumbuhan pendapatan pada 2018 setelah sempat merugi pada 2017. Tetapi, Peretti mengatakan pertumbuhan pendapatan tersebut tidak cukup untuk mendorong kinerja perusahaan dalam jangka panjang. 

Dengan mengurangi pengeluaran, katanya, "Kita dapat berkembang dan mengendalikan nasib kita sendiri, tanpa perlu menggalang dana yang lebih besar." 

Pada saat yang sama, Verizon mengungkapkan akan memangkas 7% dari jumlah karyawan atau sekitar 800 pekerja dari anak usaha medianya yang meliputi Huffington Post, Yahoo, dan AOL. 

Sinyal kelesuan industri media digital lainnya juga ditunjukkan oleh Warner Media yang pada Jumat (25/1) mengumumkan akan menutup perusahaan investasi digitalnya, WarnerMedia Investments. 

PHK yang diikuti dengan merosotnya penjualan atau pemotongan pengeluaran juga terjadi di perusahaan media lainnya seperti Mic dan Refinery29. 

Industri perusahaan media digital secara keseluruhan telah menyusut tajam. Berdasarkan beberapa perkiraan, pergeseran ke digital telah menghasilkan pengurangan keseluruhan dalam bisnis dari 50% menjadi 80%. 

Sponsored

BuzzFeed dan Vox Media memandang duopoly Facebook dan Google yang merajai dunia iklan online lah yang menjadi penyebab lesunya industri media digital. 

Kedua raksasa itu diperkirakan akan mengambil lebih dari setengah belanja iklan global pada 2020. Analyst EMarketer memperkirakan pertumbuhan pangsa pasar mereka menyentuh angka 75% antara 2017 dan 2020, jumlah ini jauh lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan 15% perusahaan media digital. 

PHK BuzzFeed, yang sudah pernah terjadi pada 2017, adalah bagian dari operasi perampingan untuk menyiapkan akuisisi atau merger, mungkin dengan saingan langsung seperti Vox atau Vice. 

"Jika Anda adalah penerbit berbasis teks pada 2019, seharusnya sudah jelas bahwa mengejar neraca bukanlah strategi yang masuk akal," tutur Max Willens dari publikasi perdagangan digital Digiday. "Jika itu satu-satunya sumber penghasilan Anda, akan sangat sulit untuk membangun bisnis yang berkembang." 

Akselerasi kemunduran industri media digital mendorong media untuk menemukan saluran pendapatan baru. Contohnya, Vice bekerja sama dengan HBO, BuzzFeed pernah berkolaborasi dengan Netflix dan mereka juga masih menjual peralatan rumah tangga bermerek Tasty melalui Walmart. 

Video berdurasi singkat belum dapat menghasilkan pendapatan yang diharapkan. Kelihatannya, podcast akan menjadi bentuk yang dituju selanjutnya. Pekan lalu, The Economist menyatakan akan memperluas tim audio mereka menjadi delapan karyawan. Wall Street Journal pun ingin mengambil langkah serupa. 

Menurut salah satu karyawan BuzzFeed, kantor mereka di New York tidak menyangka perusahaan akan mengambil kebijakan PHK. 

"Semua platform ini berusaha mencari cara untuk menghasilkan uang dari konten singkat," kata karyawan itu. "Karena sekarang semua tentang membuat kesepakatan dengan perusahaan besar, seperti kerja sama Vice dengan HBO untuk konten panjang dan produksi media berkualitas tinggi." 

Willens menuturkan bahwa bahkan video berdurasi panjang pun belum tentu dapat menarik keuntungan. 

"Saya tidak melihat keuntungan dalam bentuk video berdurasi panjang," tuturnya. "Periklanan digital saja sudah cukup kompetitif, tetapi untuk menjual program atau film dokumenter mini Anda harus bersaing dengan Warner Borthers atau Anonymous Content serta sejumlah besar pihak dengan sumber daya dan keahlian yang lebih berkembang." 

Dua perusahaan media digital yang dianggap sebagai model ideal terkait bagaimana menemukan saluran pendapatan yang beragam dengan memadukan konten gaya hidup, acara, dan iklan produk adalah Complex dan Dot Dash. 

Termasuk juga Condé Nast, yang pekan ini mengumumkan akan memberlakukan sistem langganan berbayar atau paywall mulai akhir tahun. 

"Ketika kita melihat keberhasilan paywall The New Yorker, itu luar biasa," jelas Kepala Pemasaran Condé Nast Pamela Drucker Mann. "Sejujurnya, saya berharap kita melakukan ini sejak lama. Ini akan mengubah segalanya." 

The New Yorker diperkirakan menghasilkan US$118 juta tahun lalu dengan model langganan berbayarnya. Drucker mengatakan, media lain yang telah mencobanya, termasuk Vanity Fair dan Wired. 

Kedua media itu melaporkan adanya peningkatkan keterlibatan audiens setelah paywall diberlakukan. 

Untuk media seperti Allure, Glamour, atau Brides, yang berfokus pada gaya hidup dan bukan peristiwa langsung, model paywall mungkin akan kurang efektif. 

Drucker Mann memperingatkan, dia tidak mengantisipasi peningkatan jumlah langganan berbayar menjadi satu-satunya faktor yang akan menopang berdirinya merek-merek itu. 

Dalam upaya untuk beradaptasi dengan lanskap industri media digital yang telah berubah, godaan untuk mencari bantuan akan selalu ada. 

Sama halnya ketika iTunes membantu industri musik melewati kekacauan dunia digital dengan menjual masing-masing lagu, banyak yang berpikir Texture, layanan berlangganan Apple untuk konten majalah dan surat kabar, dapat menjadi penyelamat serupa bagi media digital. 

Tetapi bantuan seperti itu tidak diharapkan semua media. Untuk media besar seperti The New York Times, Washington Post, atau Financial Times, yang memiliki model berlangganan yang sukses, gagasan untuk mendapatkan persentase penjualan bundel tidak akan dianggap menarik. 

"Ada sedikit sekali insentif untuk perusahaan yang telah membangun bisnis dengan menjual produk mereka seharga US$15 per bulan untuk kemudian bergabung dengan produk yang memberikan semua konten mereka dengan harga hanya US$9 sebulan," ungkap Willens. "Bagi perusahaan media yang sudah memiliki model langganan berbayar yang sukses, tidak ada ketertarikan untuk bergabung dengan Texture."

Sumber : The Guardian

Berita Lainnya