logo alinea.id logo alinea.id

Gencatan senjata dengan AS, China buka pintu lebar bagi investasi asing

PM China menegaskan, pihaknya akan lebih meliberalisasi sektor manufaktur sembari mengurangi daftar negatif investasi.

Khairisa Ferida
Khairisa Ferida Rabu, 03 Jul 2019 12:45 WIB
Gencatan senjata dengan AS, China buka pintu lebar bagi investasi asing

China membuka lebih banyak sektor ekonominya bagi investasi asing di tengah perang dagang dengan Amerika Serikat yang mulai dirasakan dari Asia hingga Eropa.

Perdana Menteri China Li Keqiang dalam World Economic Forum di Dalian menuturkan bahwa pihaknya akan lebih meliberalisasi sektor manufaktur, termasuk industri mobil sembari mengurangi daftar negatif investasi yang membatasi investasi asing di sejumlah area.

Disampaikan Li, China akan mengakhiri kebijakan membatasi kepemilikan investor asing di sektor keuangan pada 2020, satu tahun lebih awal dari yang direncanakan.

"Kami akan menghapus batas kepemilikan asing dalam sekuritas, futures, dan asuransi jiwa bagi investor asing pada 2020, setahun lebih awal dari yang dijadwalkan sebelumnya," sebut PM Li.

Sejumlah bank investasi asing seperti Morgan Stanley (MS.N) sudah menyatakan keinginannya untuk bergabung dengan HSBC Holdings PLC (HSBA.L), JPMorgan Chase & Co (JPM.N), Nomura Holdings Inc (8604.T) and UBS Group AG (UBSG.S) dengan tujuan memiliki saham pengendali dalam usaha patungan sekuritas di China.

"JPMorgan menyambut baik setiap keputusan yang dibuat oleh pemerintah China yang ingin meliberalisasi sektor keuangannya lebih lanjut," kata CEO JPMorgan China Mark Leung.

Citigroup (C.N), yang sedang dalam proses mendirikan perusahaan patungan sekuritas yang mayoritas dimiliki China, juga memuji kabar tersebut.

"Citi menyambut baik setiap langkah yang mengarah pada pembukaan lebih lanjut dari sistem keuangan Tiongkok," kata seorang juru bicara yang berbasis di Hong Kong.

Sponsored

Pengumuman tersebut datang setelah China dan AS sepakat untuk melanjutkan perundingan dagang yang terhenti. Dalam KTT G20, para pemimpin dunia memperingatkan soal meningkatnya risiko terhadap ekonomi global. Mereka menyerukan lingkungan perdagangan yang bebas dan adil. 

Di Dalian, Li juga mengatakan bahwa China akan mengurangi pembatasan akses pasar bagi investor asing di sejumlah bidang termasuk layanan telekomunikasi dan transportasi.

Pada Minggu (30/6), China memangkas jumlah sektor yang masuk dalam daftar pembatasan investasi asing menjadi 40 dari sebelumnya 48.

"Pengalaman selama satu tahun terakhir menunjukkan betapa sulitnya mencapai kesepakatan yang cukup jauh bagi AS dan dapat diterima oleh China," tutur ekonom senior di konsultan Oxford Economics Tommy Wu.

"AS ingin China menghentikan apa yang mereka pandang sebagai kebijakan dan praktik yang tidak dapat diterima dalam kebijakan industri dan transfer teknologi, termasuk penggunaan subsidi. Sementara itu, Beijing bersikeras bahwa posisi kedua belah pihak harus sama, dan tidak akan menyerah terhadap tekanan AS untuk mengubah kebijakan industri dan teknologinya."

Dampak global 

Meningkatnya kekhawatiran tentang pertumbuhan global telah mendorong sejumlah bank sentral, seperti di Australia, Selandia Baru, India, dan Rusia untuk memangkas suku bunga.

"Saat ini, risiko ekonomi global sedikit meningkat. Investasi asing dan pertumbuhan perdagangan melambat, proteksionisme meningkat. Demikian pula dengan faktor-faktor ketidakpastian dan ketidakstabilan," kata Li di Dalian. "Kita harus secara aktif mengatasi hal ini. Beberapa negara telah mengambil sejumlah langkah termasuk memangkas suku bunga atau quantitave easing."

Indikator domestik menunjukkan aktivitas di pabrik-pabrik China melambat.

Biro Statistik Nasional China mengatakan Purchasing Managers' Index (PMI) untuk Juni tidak berubah pada 49,4.

"Data adalah indikasi yang jelas bahwa sektor industri China sedang berjuang," kata Nick Marro, seorang analis di Economist Intelligence Unit. "PMI kadang-kadang merupakan potret yang lebih berguna tentang apa yang sebenarnya terjadi dalam perekonomian, berbeda dengan data resmi PDB, yang terkenal stabil."

Data Juni menunjukkan pola yang serupa di sebagian besar Asia serta di Eropa. Demikian pula dengan pertumbuhan manufaktur di AS.

Meskipun Wu percaya gencatan senjata perang dagang AS-China merupakan perkembangan positif bagi perekonomian di seluruh dunia, dia mengindikasikan bahwa dimulainya kembali pembicaraan tidak berarti bahwa Washington dan Beijing akan mencapai kesepakatan dalam waktu dekat.

"Kami pikir tarif yang ada tidak akan dicabut, dan ekspor China kemungkinan akan tetap di bawah tekanan," katanya. "Permintaan domestik lemah, terutama di bidang investasi, dan data PMI terbaru mencerminkan itu."

Ekonom mengharapkan pembuat kebijakan China untuk melakukan lebih banyak demi menjaga ekonomi terus berdetak. Negeri Tirai Bambu menargetkan pertumbuhan ekonomi di kisaran 6-6,5% tahun ini. (Al Jazeera dan Reuters)