sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

China dituduh mencuri penelitian vaksin Covid-19

China dinilai berusaha memonopoli setiap industri penting di abad ke-21.

Angelin Putri Syah
Angelin Putri Syah Kamis, 22 Okt 2020 11:23 WIB
China dituduh mencuri penelitian vaksin Covid-19
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 527.999
Dirawat 66.752
Meninggal 16.646
Sembuh 441.983

Penasihat keamanan nasional Presiden Donald Trump menuduh China pada Rabu (21/10), mencoba mencuri penelitian vaksin COVID-19 dari Barat, menjadikannya sebagai saingan jahat yang berusaha memonopoli setiap industri penting di abad ke-21.

Trump sendiri mengidentifikasi China sebagai pesaing utama Amerika Serikat, dan menuduh Partai Komunis China mengambil keuntungan atas perdagangan dan tidak mengatakan yang sebenarnya atas wabah coronavirus baru, yang dia sebut "wabah China".

Penasihat keamanan Robert O'Brien mengatakan kepada pejabat tinggi militer dan intelijen Inggris dan AS, bahwa China adalah kekuatan pemangsa yang menekan rakyatnya dan berusaha memaksa tetangganya dan kekuatan Barat.

"Partai Komunis China (CCP) mencari dominasi di semua domain dan sektor. (Dan) berencana memonopoli setiap industri yang penting hingga abad ke-21," kata O'Brien kepada Atlantic Future Forum melalui tautan video ke kapal induk Angkatan Laut HMS Queen Elizabeth.

"Baru-baru ini China menggunakan spionase yang mendukung dunia maya untuk menargetkan perusahaan yang mengembangkan vaksin dan perawatan Covid di Eropa, Inggris, dan Amerika Serikat sambil menggembar-gemborkan perlunya kerja sama internasional," lanjutnya.

China, di bawah Presiden Xi Jinping, mengatakan Barat-dan Washington khususnya-dicengkeram oleh histeria anti-China, pemikiran kolonial, dan kemarahan, karena China sekarang sekali lagi menjadi salah satu dari dua ekonomi teratas dunia.

Kenaikan ekonomi dan militer China selama 40 tahun terakhir dianggap sebagai salah satu peristiwa geopolitik paling signifikan akhir-akhir ini, di samping jatuhnya Uni Soviet pada 1991 yang mengakhiri Perang Dingin.

O'Brien mengatakan, Barat selama beberapa dekade telah memberikan konsesi kepada China, termasuk keanggotaan Organisasi Perdagangan Dunia, percaya bahwa itu akan terbuka secara ekonomi dan politik sambil mengurangi hambatannya sendiri terhadap perusahaan asing.

Sponsored

"Sayangnya, itu adalah janji yang sampai hari ini tidak ditepati," kata mantan pengacara Los Angeles berusia 54 tahun itu. "Sebaliknya, para pemimpin CCP melipatgandakan pendekatan totaliter dan merkantilis, ekonomi yang didominasi negara," tambah dia. 

China pada 1979 memiliki ekonomi yang lebih kecil dari Italia, tetapi setelah membuka diri untuk investasi asing dan memperkenalkan reformasi pasar, China telah menjadi ekonomi terbesar kedua di dunia.

Sekarang menjadi pemimpin global dalam berbagai teknologi abad ke-21 seperti kecerdasan buatan, pengobatan regeneratif, dan polimer konduktif.

Tanggapan China terhadap wabah coronavirus baru, kata O'Brien, telah menghapus keraguan yang tersisa tentang niatnya. China telah mengkooptasi organisasi internasional dan memaksa mereka untuk memasang peralatan telekomunikasi China di fasilitas mereka. Bahkan Partai Komunis memblokir perusahaan asing sambil mensubsidi perusahaannya sendiri.

O’Brien mengatakan proyek internasional andalan China, yang disebut inisiatif Belt and Road, melibatkan penawaran "pinjaman tidak berkelanjutan" kepada negara-negara miskin untuk membangun proyek infrastruktur "gajah putih" menggunakan perusahaan dan buruh China.

"Ketergantungan negara-negara ini pada utang Cn ina membuat kedaulatan mereka terkikis dan tidak ada pilihan lain, selain memotong garis partai pada pemungutan suara PBB damasalah lainnya," kata O'Brien.

 

Sumber: CNA News

Berita Lainnya