logo alinea.id logo alinea.id

China: Tarif AS akan memicu eskalasi perang dagang

Para eksportir tengah bersiap menghadapi kenaikan tarif AS pada 1 September.

Khairisa Ferida
Khairisa Ferida Kamis, 22 Agst 2019 20:03 WIB
China: Tarif AS akan memicu eskalasi perang dagang

Pada Kamis (22/8), China mengajak Amerika Serikat untuk bertemu di tengah dan menyelesaikan perang dagang alih-alih meneruskan kenaikan tarif yang akan memicu pembalasan.

Para eksportir tengah bersiap menghadapi kenaikan tarif AS pada 1 September.

"Tarif baru AS akan mengarah pada eskalasi gesekan ekonomi dan perdagangan," ungkap juru bicara Kementerian Perdagangan China Gao Feng.

AS menekan China untuk mempersempit surplus perdagangannya dan membatalkan rencana pengembangan persaingan global yang dipimpin pemerintah dalam robotika dan teknologi lainnya. Mitra dagang Tiongkok menilai rencana itu melanggar komitmen Beijing untuk membuka pasarnya.

Selain itu, sejumlah pejabat AS khawatir bahwa kemajuan China akan mengikis kepemimpinan AS di sektor industri.

Negosiasi China-AS menemui jalan buntu tentang bagaimana menegakkan kesepakatan. Beijing mengatakan tarif yang diberlakukan Washington harus dicabut begitu perjanjian berlaku, sementara Washington ingin tetap menerapkan sejumlah tarif demi memastikan Beijing melaksanakan komitmennya.

"Kami berharap AS dan China dapat bertemu di tengah jalan dan mencapai solusi," tutur Gao.

Perunding AS dan China akan kembali bertatap muka pada September di Washington. Kedua pihak bertemu terakhir kalinya pada Juli di Shanghai dan menghasilkan sedikit kemajuan.

Sponsored

"Para negosiator berbicara via telepon pada 13 Agustus dan setuju untuk berdialog kembali dalam waktu dua minggu," ujar Gao yang tidak merinci pembicaraan.

Gao mengulang ancaman bahwa akan ada pembalasan jika tarif naik.

AS telah mengenakan tarif 25% atas produk-produk China senilai US$250 miliar. Beijing membalasnya dengan mengenakan tarif atas barang-barang AS senilai US$110 miliar.

Trump sebelumnya mengumumkan rencana untuk mengenakan bea 10% atas barang-barang China senilai US$300 miliar pada 1 September, memperpanjang tarif atas seluruh barang yang dijual Tiongkok ke AS. Dia kemudian menunda kenaikan tarif sekitar 60% dari barang-barang tersebut hingga 15 Desember.

Karena neraca perdagangan mereka yang tidak seimbang, Tiongkok kehabisan barang untuk dikenai tarif balasan. Dan akhirnya mereka mencoba menekan AS dengan memperlambat proses bea cukai bagi perusahaan AS di China serta menunda penerbitan izin di sektor asuransi dan lainnya.

Gao juga mengungkapkan pihaknya tengah menyelesaikan rencana penerbitan daftar hitam sebagai balasan atas pemberlakuan pembatasan berbisnis terhadap Huawei. (AP)