logo alinea.id logo alinea.id

Tanpa fakta, China tolak salahkan siapapun atas serangan ke Saudi

China menekankan bahwa posisinya adalah menentang langkah apapun yang memperluas atau mengintensifkan konflik.

Khairisa Ferida
Khairisa Ferida Senin, 16 Sep 2019 18:53 WIB
Tanpa fakta, China tolak salahkan siapapun atas serangan ke Saudi

China menolak menyalahkan siapapun atas serangan terhadap fasilitas Aramco Saudi, perusahaan minyak nasional Arab Saudi, yang terjadi pada Sabtu (14/9). Kelompok pemberontak Houthi di Yaman telah mengklaim bertanggungjawab atas serangan tersebut, tetapi Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Mike Pompoe mengatakan tidak ada bukti bahwa serangan itu berasal dari Yaman.

"Memutuskan siapa yang harus disalahkan sementara tidak ada investigasi konklusif, saya rasa itu tidak bertanggungjawab. Posisi China adalah kami menentang langkah apapun yang memperluas atau mengintesifkan konflik," ungkap juru bicara Kementerian Luar Negeri China Hua Chunying di Beijing, Senin (16/9).

"Kami menyerukan kepada pihak-pihak terkait agar tidak mengambil tindakan yang meningkatkan ketegangan kawasan. Kami berharap seluruh pihak dapat menahan diri dan bersama-sama dapat menjaga perdamaian dan stabilitas Timur Tengah."

Beijing memiliki hubungan ekonomi, diplomatik dan energi yang erat, baik dengan Riyadh maupun Teheran. Alasan inilah yang dinilai menjadi alasan Tiongkok bertindak hati-hati.

Arab Saudi tercatat sebagai pemasok minyak terbesar China tahun ini.

Raja Salman berkunjung ke Beijing pada 2017. Pada awal tahun ini, giliran Putra Mahkota Mohammed bin Salman (MBS) yang melawat ke Tiongkok.

Sementara itu, Menteri Luar Iran Mohammad Javad Zarif bertemu dengan Menteri Luar Negeri China Wang Yi di Beijing pada akhir bulan lalu.

Amerika Serikat merilis citra satelit dan mengutip data intelijen untuk mendukung tuduhannya bahwa Iran berada di balik serangan terhadap fasilitas minyak perusahaan minyak nasional Arab Saudi, Saudi Aramco.

Sponsored

Iran sendiri telah membantah sebagai dalang serangan.

Tetapi seorang pejabat AS yang tidak disebutkan namanya menuturkan bahwa arah dan tingkat serangan meragukan Houthi sebagai pelakunya. 

Serangan terhadap pabrik pengolahan Abqaiq dan ladang minyak Khurais telah memangkas pasokan minyak global sebesar 5% dan sempat membuat harga minyak mencapai lonjakan tertinggi sejak 1991. Terdapat kekhawatiran bahwa harga akan kembali tinggi jika ketegangan semakin memburuk.

Adapun Menteri Energi AS Rick Perry pada Senin mengatakan bahwa pasar minyak "elastis" dan akan bereaksi positif terhadap serangan. Dia terang-terangan menunjuk Iran sebagai pelakunya.

"Terlepas dari upaya jahat Iran, kami sangat yakin bahwa pasar elastis dan akan merespons secara positif," tutur Perry.

Perry mengulang posisi AS yang siap untuk memanfaatkan cadangan minyak strategisnya.

"Presiden Trump telah mengizinkan pelepasan minyak dari Strategic Petroleum Reserve jika itu dibutuhkan. Dan kementerian saya siap meresponsnya," kata dia. "AS sepenuhnya mengutuk serangan Iran terhadap Arab Saudi dan kami meminta negara-negara lain untuk melakukan hal serupa. Perilaku ini tidak dapat diterima ... dan mereka harus bertanggungjawab ... Ini merupakan serangan terhadap ekonomi global dan pasar energi global."

Sebelumnya, pada Minggu (15/9), Donald Trump mentwit bahwa AS dalam posisi siaga untuk melakukan serangan balasan. Dia tidak menunjuk Iran.

Seorang pejabat AS mengatakan ada 19 titik dampak pada target dan serangan datang dari barat-barat laut, bukan wilayah yang dikuasai Houthi di Yaman.

Para pejabat AS menuturkan bahwa lokasi peluncuran bisa terletak di Iran, Irak atau di utara Teluk. Irak telah membantah bahwa serangan diluncurkan dari wilayahnya.

Sejumlah pejabat yang dikutip oleh New York Times menyatakan serangan tidak sepenuhnya menggunakan drone, melainkan melibatkan pula rudal jelajah, tetapi tidak semua mencapai target di Abqaiq dan Khurais.

Di Inggris, Menteri Luar Negeri Dominic Raab mengatakan belum jelas siapa yang bertanggung jawab atas peristiwa yang disebutnya sebagai pelanggaran sewenang-wenang terhadap hukum internasional.

Houthi Vs Arab Saudi

Selama lebih dari empat tahun, Yaman telah dirusak oleh perang antara pemberontak Houthi dan pemerintah Abdrabbuh Mansour Hadi yang diakui internasional yang didukung pula oleh koalisi militer yang dipimpin Arab Saudi.

PBB mengungkapkan bahwa perang di Yaman telah menewaskan sedikitnya 7.290 orang, mendorong jutaan lainnya ke ambang kelaparan dan melahirkan krisis kemanusiaan paling memilukan.

Dengan dukungan logistik dari negara-negara Barat termasuk AS, koalisi yang dipimpin Arab Saudi telah melancarkan lebih dari 18.000 serangan di daerah-daerah yang dikuasai Houthi untuk mengembalikan kekuasaan pemerintahan yang sah. Serangan tersebut telah menuai kritik oleh kelompok-kelompok pemantau HAM karena menargetkan warga sipil di rumah sakit, sekolah dan pasar. 

Di lain sisi, kritik juga dialamatkan kepada Barat, yang menyediakan senjata.

Dalam beberapa bulan terakhir, Houthi telah meningkatkan serangan rudal dan pesawat tanpa awaknya ke sasaran di Arab Saudi. (Reuters, BBC dan Al Jazeera)