sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Covid-19: Inggris catat kematian tertinggi kedua di Eropa

Angka kematian di Inggris terbanyak kedua di Eropa setelah Italia.

Valerie Dante
Valerie Dante Kamis, 30 Apr 2020 14:21 WIB
Covid-19: Inggris catat kematian tertinggi kedua di Eropa
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 534.266
Dirawat 66.752
Meninggal 16.825
Sembuh 445.793

Otoritas kesehatan pada Rabu (29/4) menyatakan bahwa setidaknya 26.097 orang telah meninggal akibat Covid-19 di Inggris, secara resmi menjadikannya negara dengan angka kematian tertinggi kedua di Eropa setelah Italia.

Itu berarti Inggris memiliki lebih banyak kematian dibandingkan negara Eropa yang terdampak parah lainnya seperti Spanyol dan Prancis.

Termasuk total fatalitas, Inggris melaporkan lebih dari 165.000 kasus positif Covid-19, dengan 857 pasien yang dinyatakan sembuh.

"Kita masih melewati masa puncak pandemik dan ini adalah saat-saat yang sulit dan berbahaya," jelas Menteri Luar Negeri Dominic Raab yang dalam beberapa pekan terakhir mewakili Perdana Menteri Boris Johnson saat menjalani masa pemulihan.

Pemerintah Inggris telah dikritik atas penanganannya terhadap krisis kesehatan akibat Covid-19, salah satunya terkait kurangnya alat pelindung diri (APD) yang layak bagi tenaga medis.

Fatalitas yang tinggi di Inggris meningkatkan tekanan terhadap PM Johnson. Pemimpin Partai Buruh Keir Starmer termasuk yang mengkritik respons Johnson terhadap coronavirus jenis baru. 

"Melihat perkembangannya, Inggris dapat menjadi negara dengan angka kematian tertinggi di Eropa," kata Starmer.

Bertolak belakang dengan klaim Johnson pada Senin (27/4) yang menyatakan bahwa upaya penanganan Covid-19 di Inggris membuahkan hasil, Starmer menilai tingginya fatalitas sebagai bukti kinerja pemerintah jauh dari kesuksesan.

Sponsored

Pakar kesehatan Inggris, Yvonne Doyle, memprediksi bahwa tren kasus infeksi dan kematian ke depannya secara perlahan akan mulai stabil.

"Kasus-kasus infeksi atau kematian baru mungkin akan mulai menurun, tetapi saya juga belum terlalu yakin akan hal itu," kata dia. (Al Jazeera dan Channel News Asia)

Berita Lainnya