sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Covid-19: PM Inggris kembali terapkan lockdown nasional

PM Johnson menyatakan Inggris berada pada momen kritis, dengan kasus infeksi yang meningkat pesat di setiap bagian negara.

Valerie Dante
Valerie Dante Selasa, 05 Jan 2021 16:50 WIB
Covid-19: PM Inggris kembali terapkan lockdown nasional
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 882.418
Dirawat 138.238
Meninggal 25.484
Sembuh 718.696

Perdana Menteri Boris Johnson mengumumkan lockdown atau karantina wilayah baru bagi 56 juta penduduk Inggris, pada Senin (4/1). Hal itu demi memerangi varian baru Covid-19 yang menyebar dengan cepat.

Sebagai bagian dari pembatasan, yang akan berlangsung hingga pertengahan Februari 2021, sekolah dasar dan menengah akan ditutup mulai Rabu (6/1). Warga hanya diizinkan meninggalkan rumah untuk berbelanja kebutuhan pokok, olahraga, alasan medis, atau pergi bekerja.

Usai liburan Natal dan Tahun Baru, para mahasiswa tidak akan kembali belajar hingga pertengahan bulan depan.

PM Johnson menyatakan bahwa Inggris berada pada momen kritis, dengan kasus infeksi yang meningkat pesat di setiap bagian negara.

"Saat ini, rumah sakit kita berada di bawah tekanan lebih akibat Covid-19," tambahnya. "Karena itu, kita harus melakukan lockdown skala nasional yang cukup ketat untuk menahan varian baru ini. Itu berarti pemerintah sekali lagi menginstruksikan Anda untuk tetap di rumah."

Pengumuman Johnson menyusul seruan dari kepala petugas medis Inggris untuk meningkatkan pembatasan sosial ke level tertinggi.

"Kasus meningkat hampir di mana-mana di banyak negara, didorong oleh varian baru yang lebih menular," kata kepala kesehatan untuk Inggris, Wales, Skotlandia dan Irlandia Utara dalam sebuah pernyataan yang dirilis Senin.

Inggris sejauh ini mencatat 2.713.563 kasus infeksi Covid-19, termasuk 75.431 fatalitas.

Sponsored

Pengumuman terkait lockdown baru datang ketika otoritas kesehatan Inggris pada Senin mulai memberikan vaksin Covid-19 milik Oxford University dan AstraZeneca. Seorang pria berusia 82 tahun menerima suntikan pertama.

Dengan vaksin BioNTech dan Pfizer yang juga telah digunakan otoritas kesehatan Inggris, negara itu berharap program vaksinasi massal akan cukup untuk memperlambat penyebaran virus dan memungkinkan kehidupan kembali normal pada musim semi.

"Pekan-pekan ke depan akan menjadi yang tersulit, tetapi saya benar-benar yakin bahwa kita memasuki fase terakhir perjuangan," kata Johnson. (Deustche Welle)

Berita Lainnya