sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Dalam satu hari, tiga merek fesyen dunia minta maaf ke China

Ketiga merek fesyen mewah itu menyinggung China soal klaim kedaulatan teritorial.

Khairisa Ferida
Khairisa Ferida Selasa, 13 Agst 2019 16:05 WIB
Dalam satu hari, tiga merek fesyen dunia minta maaf ke China

Coach dan Givenchy menjadi dua merek fesyen dunia terbaru yang menuai kontroversi karena menyinggung China soal klaim kedaulatan teritorial.

Supermodel China Liu Wen, yang menjadi brand ambassador Coach, mengumumkan bahwa dia telah memutuskan kesepakatannya dengan merek fesyen Amerika Serikat tersebut lantaran desain kaus mereka yang menyebut Taiwan sebagai sebuah negara.

"Saya meminta maaf kepada semua orang atas kerugian yang saya sebabkan karena saya kurang berhati-hati dalam memilih merek," demikian unggahan Liu Wen di Weibo. "Saya mencintai tanah air saya, dan saya akan dengan teguh menjaga kedaulatan China."

Coach sendiri sudah melayangkan permintaan maaf lewat akunnya di Twitter pada Senin (13/8), dengan mengatakan mereka telah menarik kaus itu dari pasaran setelah menemukan "ketidaktepatan yang serius" pada Mei 2018.

Pada 2018, China dikabarkan meningkatkan pengawasan tentang bagaimana perusahaan-perusahaan asing merujuk ke wilayah seperti Hong Kong dan Makau. Keduanya merupakan wilayah China, tetapi memiliki otonomi tingkat tinggi. Sementara China menganggap Taiwan sebagai provinsinya yang membangkang.

Sementara itu, Jackson Yee, anggota boy band TFBoys, mengumumkan bahwa dia tidak lagi bekerja sama dengan Givenchy setelah desain kaus produksi rumah mode Prancis tersebut merujuk Hong Kong dan Makau sebagai wilayah independen.

Givenchy pun mengunggah permintaan maafnya lewat Weibo pada Senin.

Sponsored

"Atas kelalaian dan kesalahan manusia, kami harus segera memperbaiki dan mengambil tindakan pencegahan segera. Givenchy selalu menghormati kedaulatan China dan memegang teguh prinsip satu China," demikian pernyataan Givenchy.

Rumah mode itu menambahkan bahwa mereka telah menarik kaus kontroversialnya dari peredaran.

Sebelumnya, pada hari yang sama, merek mewah asal Italia, Versace, juga mengumumkan permintaan maaf karena kesalahan serupa. Pada desain kausnya, Versace menampilkan pasangan kota-negara seperti Milan-Italia dan London-Inggris, termasuk pula Hong Kong-Hong Kong dan Makau-Makau.

Direktur artistik Versace, Donatella Versace, lewat unggahan di Instagramnya menyatakan, "Saya sangat menyesal atas kesalahan yang terjadi baru-baru ini yang dibuat oleh perusahaan kami ... Tidak pernah sekalipun saya bermaksud tidak menghormati kedaulatan nasional China sebab itulah saya secara pribadi meminta maaf atas ketidakakuratan dan kerugian yang mungkin dipicu oleh hal ini."

Yang Mi, seorang aktris China yang populer, mengumumkan telah mengakhiri kontraknya dengan Versace karena isu ini.

China adalah pasar utama bagi para produsen barang mewah, dengan orang-orang China menyumbang sepertiga dari seluruh pengeluaran global.

Ini bukan kali pertama, merek-merek mewah dikritik oleh konsumen China. Rumah mode Italia Dolce and Gabbana terpaksa membatalkan peragaan busana di Shanghai pada 2018 setelah mereka  mengunggah klip pendek yang menampilkan seorang wanita makan piza, spageti, dan cannoli dengan sumpit.

Publik menilai video tersebut tidak peka terhadap budaya. (CNBC dan Forbes)