sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Dari Shincheonji ke Kumbh Mela: Bagaimana agama melanggengkan Covid-19

Alih-alih menjadi solusi, fanatisme agama kerap memperburuk pandemi Covid-19.

Christian D Simbolon
Christian D Simbolon Kamis, 06 Mei 2021 12:45 WIB
Dari Shincheonji ke Kumbh Mela: Bagaimana agama melanggengkan Covid-19

Hidup Ajeet Jain berubah bak mimpi buruk, November 2020 lalu. Ketika itu, rumah sakit umum tempat dia bekerja di New Delhi, India, sesak dengan pasien Covid-19. Sebagian besar pasien mengantre untuk masuk intensive care unit (ICU). Sepuluh orang meninggal setiap harinya. 

Namun, hanya sekitar tiga bulan berselang, situasinya berubah drastis. Jumlah pasien Covid-19 yang dirawat di rumah sakit itu bisa dihitung dengan jari. Dari 200 ventilator, hanya dua alat yang digunakan untuk merawat pasien. 

"Ini (kondisi di rumah sakit) sungguh sangat melegakan," kata Jain seperti dikutip dari Washington Post pada 4 Februari 2021.

Hari itu, tercatat hanya ada tambahan 8,653 pasien positif Covid-19 di India. Dalam sepekan terakhir, tercatat rerata jumlah kasus hanya sekitar 11 ribu per hari. Padahal, tambahan kasus positif di negeri itu sempat menyentuh hampir 100 ribu per hari sebulan sebelumnya.  

Para pakar pun bingung. Sejumlah teori beredar. Ada kalangan yang berpendapat India telah mencapai kekebalan kawanan alias herd imunity. Ada pula yang menganggap turunnya jumlah kasus positif merupakan bukti kesuksesan kebijakan-kebijakan pemerintah mengatasi Covid-19. 

Tak butuh lama, argumentasi-argumentasi itu mentah. Sejak awal April, jumlah kasus harian di India merangkak naik. Pada pertengahan April, rerata kasus harian kembali menyentuh 100 ribu per hari. Pada 2 Mei lalu, negara dengan populasi terbesar kedua di dunia itu mencatatkan rekor 400 ribu kasus per hari. 

Selain karena gelaran pemilu di sejumlah wilayah, ritual keagamaan Kumbh Mela yang dihelat di Haridwar, Uttarakhand jadi biang kerok lahirnya gelombang pandemi kedua. Digelar sejak awal April, ribuan orang dilaporkan terinfeksi Sars-Cov-2 dalam festival Hindu terbesar di India itu. 

Bersama para asketik dan pendeta Hindu, setidaknya sekitar sejuta warga setiap harinya berdesak-desakan dan mandi bareng di sepanjang Sungai Gangga. Sesuai keyakinan mereka, mandi di sungai suci itu akan membawa keberuntungan dan menghapus dosa. 

Sponsored

"Kepercayaan kami adalah hal terbesar bagi kami. Karena kepercayaan itulah, banyak orang datang ke mari untuk menceburkan diri ke dalam sungai," kata Siddharth Chakrapani, salah seorang anggota komite perayaan Kumbh Mela seperti dikutip dari Al Jazeera. 

Dari pengetesan selama lima hari di Haridwar, yakni pada periode 10-14 April, tercatat ada lebih dari 2.000 peserta Kumbh Mela yang positif Covid-19. Sejumlah negara bagian juga melaporkan para pengunjung festival itu menjadi penyebar virus di kampung masing-masing. 

Pada 17 April, Perdana Menteri India Narendra Modi mengeluarkan imbauan agar festival Kumbh Mela dilanjutkan secara simbolik saja. Imbauan itu segera dipatuhi sejumlah sekte. Namun, sekte-sekte lainnya bersikeras untuk melanjutkan ritual mandi bareng itu hingga akhir April. 

Mendukung penyelenggaraan Kumbh Mela dilanjutkan, politikus Bharatiya Janata Party, salah satu parpol terbesar di India, Sunil Bharala mengatakan Sungai Gangga akan membersihkan India dari virus.

"Saya datang ke Kumbh Mela dan dites positif Covid-19. Kepercayaan ada di atas protokol kesehatan," kata Sunil. 

Ini bukan kali pertama ritual keagamaan memperburuk pandemi di India. Pada Maret 2020, kongregasi relijius Tablighi Jamaat yang dihelat kaum Muslim di Masjid Nizamuddin Markaz, Delhi Selatan, juga pusat penyebaran Covid-19. New Delhi merupakan pusat Tablighi Jamaat global, sebuah gerakan revivalis Islam. 

Lebih dari 10 ribu orang hadir dalam kongregasi itu, sebanyak 960 di antaranya berasal dari luar India. Pada 18 April 2020, Kementerian Kesehatan India mengumumkan setidaknya ada lebih dari 4.000 kasus positif Covid-19 yang terkait ajang itu atau sekitar sepertiga dari jumlah kumulatif kasus Covid-19 di India ketika itu. 

Selain di India, Tablighi Jamaat di Pakistan dan Malaysia pada periode yang sama juga jadi hot spot penularan Covid-19. Sejumlah warga negara Indonesia ikut jadi "korban" Covid-19 saat menjadi peserta di tabligh akbar India dan Malaysia.

Suasana Festival Kumbh Mela di sepanjang Sungai Gangga, India. /Foto Instagram @kumbhmela.co.in

Pemicu gelombang pandemi 

Korelasi antara kongregasi relijius dan merebaknya Covid-19 juga ditemukan di Korea Selatan dalam kasus pasien ke-31. Sebagaimana diutarakan S Nathan Park dalam "Cults and Conservatives Spread Coronavirus in South Korea" yang terbit Foreign Policy, pasien ke-31 adalah anggota Shincheonji Church of Jesus, sebuah cult yang mengklaim bagian dari ajaran agama Kristen.

Didirikan pada 1984 oleh Lee Man-hee, cult ini diperkirakan punya sekitar 240 ribu pengikut dan mengklaim punya cabang di 29 negara, termasuk di Wuhan, China, asal mula virus Covid-19. Pada saat negara asal K-Pop itu sedang berjibaku menghadapi pandemi, Shincheonji menolak menghentikan kongregasi. 

"Shincheonji mengajarkan penyakit adalah dosa dan mengimbau para pengikutnya untuk menahan derita karena penyakit yang mereka idap demi menghadiri misa-misa gereja. Pada misa-misa itu, mereka duduk dempet, menyemburkan ludah saat berulang kali mengucap amin bersama-sama," tulis Nathan. 

Pasien ke-31 ditemukan pada 18 Februari 2021. Dari hasil lacak kontak, sang pasien diketahui telah menghadiri dua kali misa Shincheonji, sebuah pernikahan, dan sebuah konferensi di Daegu. Dia sempat berkunjung ke klinik terdekat. Meskipun diminta dokter untuk tes Covid-19, sang pasien menolak. 

"Sejak ditemukannya pasien nomor 31, jumlah kasus positif Covid-19 di Korea Selatan melambung dari 30 kasus menjadi 977 kasus hanya dalam delapan hari. Hampir semua pasien dalam kasus-kasus baru itu adalah pengikut Shincheonji atau setidaknya bisa dilacak terkait Shincheonji," jelas Nathan.

Selain para pengikut Shincheonji, menurut Nathan, kaum konservatif Kristen juga turut memperparah Covid-19 di Korsel. Di tengah pandemi, kelompok tersebut masih rutin menggelar aksi protes terhadap pemakzulan mantan Presiden Park Geun-hye. Padahal, Geun-hye dimakzulkan pada 2017. 

Dengan bebalnya, pemimpin kelompok konservatif itu, pastor Jeon Gwang-hun, mengklaim Covid-19 tak mungkin menular di ruangan terbuka. "Sementara peserta yang ikut dalam protes berkata, 'Tuhan membuat angin bertiup kencang untuk menghalau virus,'" tulis Nathan. 

Suasana kegiatan keagamaan yang digelar gereja Shincheonji, Korea Selatan. /Foto tangkapan layar YouTube

Di Amerika Serikat, pandemi Covid-19 dilanggengkan oleh kaum evangelist atau kelompok konservatif Kristen Protestan. Sejak awal pandemi hingga kini, para pemimpin evangelist bahkan menolak menutup gereja mereka dan rutin menggelar misa tatap muka yang dihadiri ratusan orang. 

Pada awal pandemi, kaum evangelist di AS juga jadi kreator teori-teori konspirasi. Evangelist yang sering muncul di televisi, Perry Stone, misalnya, sempat mengklaim Covid-19 sebagai upaya iblis membunuh orang-orang tua di Amerika yang menolak 'tanda dari hewan buas.'

"Jika kamu menyingkirkan orang-orang yang menolak Beast, melawan anti-Kristus, dan menolak sistem, maka yang tersisa adalah orang-orang prososialis, prokomunis...Kamu akan melihat mereka. Sebanyak 35% warga AS percaya itu (sosialisme) dan tidak menghargai orang-orang tua yang telah berjasa membesarkan negeri ini," kata Stone dalam sebuah video yang viral di YouTube.

Pastor Tony Spell dari Life Tabernacle Church di Baton Rouge, Louisiana juga sama-sama "gila". Sejak awal pandemi, Spell menolak mengikuti protokol kesehatan yang dianjurkan pemerintah negara bagian dan menggelar misa massal di gerejanya. 

Spell bahkan mengimbau umatnya menolak disuntik vaksin. Ia percaya vaksin dibikin berbasis kepentingan politik dan pada akhirnya membuat orang yang menerimanya jatuh sakit. "Kami anti masker, anti social distancing, dan anti vaksin," kata Spell seperti dilaporkan Deutche Welle. 

Dalam "US Evangelicals: From Prophecy to Policy", Cora Alder dan Emanuel Schäublin mengatakan pemerintahan Donald Trump sama sekali tak berupaya menghentikan retorika kaum evangelist itu. Padahal, AS merupakan negara yang paling parah dibekap pandemi. 

Pada Mei 2020, Trump--yang sebagian besar pendukungnya adalah warga kulit putih dan kaum evangelist--bahkan menuntut agar para pemimpin negara bagian membuka kembali gereja-gereja dan memperbolehkan umat Kristen beribadah. Gedung Putih berdalih memperjuangkan kebebasan beragama yang tertulis dalam konstitusi AS. 

"Paham akan narasi dan wacana kaum evangelist, Presiden AS merencanakan kebijakan-kebijakan pemerintah agar sesuai dengan kepentingan mereka. Tujuannya tak lain ialah untuk meraih dukungan politik," tulis Alder dan Schäublin.

Usaha Trump itu sia-sia. Pada November 2020, Joe Biden yang keluar sebagai pemenang Pilpres AS. Disokong klaster misa mingguan, AS masih bertengger di posisi puncak sebagai penghasil pasien positif Covid-19 terbesar di dunia.

Ilustrasi kondisi tempat-tempat ibadah saat pandemi Covid-19. /Foto Pixabay

Tak takut mati? 

Dalam "COVID-19 and religious congregations: Implications for spread of novel pathogens" yang terbit di International Journal of Infectious Diseases pada Juli 2020, Sayed A Quadri mengatakan kongregasi relijius kerap berkaitan dengan merebaknya pandemi Covid-19. 

Selain klaster-klaster Tablighi Jamaat di beberapa negara dan kasus di Korsel, Sayed mencontohkan bagaimana Iran menjadi episentrum Covid-19 pada awal pandemi global. Menurut dia, kenaikan kasus di Iran terutama dipicu klaster di kuil suci Shiah di Qom.

Meskipun salah satu pengunjung meninggal pada 18 Februari 2021, pemuka agama tak menghentikan aktivitas keagamaan di kuil tersebut. "Pemimpin kuil bahkan meminta para jemaah tetap datang dan menyebut kuil itu sebagai tempat penyembuhan. Hal itu menyebabkan virus terus menular. Bukan hanya di dalam Iran, tapi juga meluas ke sejumlah negara tetangga," tulis Sayed. 

Di Indonesia, sikap bebal juga ditunjukkan oleh pemimpin Front Pembela Islam (FPI) Rizieq Shihab. Sepulang dari Arab Saudi, November lalu, Rizieq menggelar serangkaian acara yang memicu kerumunan massa selama beberapa hari. 

Pada 13 November, Rizieq berceramah di depan pendukungnya di Pondok Pesantren Alam Aggrokultural Markaz Syariah di Megamendung, Bogor. Ketika itu, Megamendung sudah masuk dalam zona merah penularan Covid-19. 

Sehari berselang, Rizieq menggelar acara Maulid Nabi dan pernikahan putrinya di kediamannya di Petamburan, Tanah Abang, Jakarta Pusat. Acara tersebut dihadiri puluhan ribu orang. Usai kegiatan itu, Rizieq terpapar virus Sars-Cov-2 dan dinyatakan positif Covid-19. 

Tak lama setelah acara tersebut, Dinkes DKI Jakarta menetapkan Petamburan sebagai zona merah. Rizieq kemudian ditetapkan sebagai tersangka pelanggaran protokol kesehatan dan FPI kini jadi organisasi terlarang. 

Infografik Alinea.id/Bagus Priyo

Lantas apa yang bikin umat berbagai agama mengindahkan ancaman kematian demi hadir dalam kongregrasi relijius? Dalam opini bertajuk "God vs Coronavirus" di New York Times, Mattia Ferraresi menjelaskan betapa sulitnya melarang umat untuk menjalankan ritual keagamaan meskipun di bawah bayang-bayang maut. 

Sejarah, kata Ferraresi, penuh dengan kisah-kisah semacam itu. Ia mencontohkan larangan kongregasi bagi umat Kristen yang dikeluarkan kaisar Roma, Gaius Aurelius Valerius Diocletianus (284-305). Ketika itu, sebagian umat Kristen tertangkap menghadiri misa di Abitinae (sekarang Tunisia). 

"Mereka ditangkap dan akhirnya dibunuh. Ketika ditanya kenapa mereka melanggar perintah kaisar, salah satu dari mereka menjawab, 'Tanpa merayakan hari untuk Tuhan, kami tidak bisa hidup,'" tulis jurnalis asal Italia itu. 

Hidup tanpa ritual keagamaan memang terkesan tak bermakna bagi sebagian besar umat. Dalam situasi serba sulit seperti saat ini, orang-orang beragama cenderung akan mencari jawaban dari agama yang mereka percayai.

Namun demikian, di masa pandemi Covid-19, Ferraresi mengatakan, ritual keagamaan normal sama sekali bukan obat mujarab untuk melawan virus. "Air suci bukan penyanitasi tangan dan doa bukanlah vaksin," kata dia. 


 

Berita Lainnya