sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Demo antireformasi sistem pensiun masih melumpuhkan Prancis

Serikat buruh menegaskan tidak akan ada gencatan senjata sekalipun saat Natal jika Presiden Macron tidak menghentikan rencana reformasi.

Khairisa Ferida
Khairisa Ferida Rabu, 18 Des 2019 11:02 WIB
Demo antireformasi sistem pensiun masih melumpuhkan Prancis
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 257388
Dirawat 58788
Meninggal 9977
Sembuh 187958

Serikat buruh Prancis pada Selasa (17/12) gagal mencapai lonjakan dukungan yang mereka harapkan dalam protes untuk menekan Presiden Emmanuel Macron menyingkirkan reformasi pensiun. Meski demikian mereka menegaskan tidak akan "gencatan senjata" selama Natal.

Jaringan transportasi Prancis tetap lumpuh pada hari ke-13 pemogokan, tetapi tidak ada peningkatan momentum seperti yang diharapkan kepala serikat pekerja, bahkan ketika pekerja di sektor swasta bergabung dengan aksi mereka.

Di Paris, polisi menembakkan gas air mata dan berupaya membubarkan demonstran dari Place de la Nation.

Serikat pekerja sayap kiri yang memelopori aksi mogok mengatakan, pawai pada Selasa di Prancis mencerminkan penolakan besar-besaran atas reformasi sistem pensiun yang direncanakan Macron. 

"Jika (rencana reformasi) tidak ditarik, maka tidak akan ada gencatan senjata," sebut pernyataan serikat pekerja.

Serikat pekerja terbesar Prancis, CFDT, yang menilai bahwa reformasi pensiun akan berpengaruh di sektor swasta, bergabung dengan aksi mogok untuk pertama kalinya pada Selasa.

Menurut Kementerian Dalam Negeri Prancis, sekitar 615.000 berpartisipasi dalam pawai di seluruh negeri pada Selasa. Jumlah itu mengalami penurunan signifikan sejak hari pertama mogok pada 5 Desember, di mana peserta aksi mencapai 806.000 atau bahkan lebih.

Namun serikat garis keras, CGT, mengklaim jumlah demonstran pada Selasa mencapai 1,8 juta orang, melampaui jumlah pada aksi 5 Desember. Perbedaan penghitungan antara pemerintah dan penyelenggara aksi lazim terjadi dan kerap menunjukkan selisih besar.

Sponsored

Serikat pekerja Prancis menentang rencana Macron untuk merampingkan sistem pensiun dan mendorong orang untuk bekerja hingga usia 64 tahun, bukan 62 tahun seperti yang sah saat ini menurut hukum.

"Kami menginginkan keadilan sosial," ujar seorang demonstran, Veronique Ragot (55). "Kami telah melihat manfaat sosial kami meleleh di bawah sinar matahari."

Di ibu kota, sejumlah pedemo yang berpakaian hitam dan menutup wajah mereka berbuat rusuh dengan merusak halte bus, melempar botol kaca ke arah polisi, dan membalikkan tempat sampah. Polisi mengatakan bahwa perusuh adalah "blok hitam", minoritas dari para pengunjuk rasa yang damai.

Pemogokan nasional di Prancis memaksa kereta jarak jauh, komuter, dan metro Paris tidak beroperasi, bahkan Menara Eiffel yang menjadi ikon utama negara itu ikut tutup. Sementara banyak sekolah negeri pun tidak beraktivitas atau mengurangi jam belajar.

Serikat pekerja dan Macron masing-masing berharap dapat mendorong satu sama lain mencapai kesepakatan sebelum Natal, mengingat pemogokan selama musim libur akan meningkatkan frustrasi publik.

Namun, PM Edouard Philippe menegaskan kepada parlemen, "Pemerintahan saya sepenuhnya bertekad untuk mereformasi sistem pensiun dan menyeimbangkan anggaran sistem pensiun."

Sementara kepala serikat CGT Philippe Martinez menuturkan, "Ketika seluruh serikat pekerja mengatakan, 'Kami tidak menginginkan reformasi', pemerintah seharus mempertimbangkannya kembali. Mereka harus membuka mata dan telinga mereka."

Sejumlah negara Eropa telah menaikkan batas usia pensiun atau mengurangi pengeluaran untuk pensiun dalam beberapa tahun terakhir untuk mengimbangi harapan hidup yang panjang dan melambatnya pertumbuhan ekonomi. Macron berpendapat bahwa Prancis perlu melakukan hal serupa. (Reuters dan USA Today)

Berita Lainnya
×
img