sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Demo di Hong Kong kembali diwarnai kerusuhan

Setelah dua pekan yang relatif damai, gerakan antipemerintah mendapatkan dukungan luas dari warga biasa termasuk keluarga muda dan lansia.

Valerie Dante
Valerie Dante Senin, 21 Okt 2019 10:22 WIB
Demo di Hong Kong kembali diwarnai kerusuhan

Polisi dan pengunjuk rasa prodemokrasi bentrok di jalan-jalan Hong Kong pada Minggu (20/10), ketika ribuan orang di sejumlah distrik menentang upaya pihak berwenang untuk menindak demonstran.

Setelah dua pekan yang relatif damai, gerakan antipemerintah itu mendapatkan dukungan luas dari warga biasa termasuk keluarga muda dan lansia. Namun, faksi yang lebih radikal dari sebagian besar demonstran muda kemudian bentrok dengan polisi antihuru-hara.

Sejumlah bank dan bisnis yang berafiliasi dengan Tiongkok diserang dan kebakaran terjadi di Nathan Road, jalan utama yang melintasi Kowloon. Polisi menembakkan gas air mata, menggunakan pentungan dan menyiram meriam air untuk memukul mundur pemrotes.

Front Hak Asasi Manusia Sipil (CHRF), yang gagal mendapatkan izin polisi untuk menggelar pawai, mengatakan sekitar 350.000 orang ambil bagian dalam unjuk rasa pada Minggu. Sementara polisi tidak memberikan perkiraan, mereka menyatakan aksi protes itu ilegal.

"Anda dapat melihat warga Hong Kong tidak akan dengan mudah menyerahkan hak mereka untuk berdemonstrasi. Jumlah pemrotes hari ini lebih dari yang saya perkirakan," kata Daniel Yeung, pengunjuk rasa yang seperti banyak orang lainnya mengenakan masker.

Pada Minggu, massa membanjiri jalan-jalan di beberapa distrik di Kowloon dan bergerak ke arah utara.

Para pengunjuk rasa melemparkan molotov ke kantor polisi di Tsim Sha Tsui setelah polisi di dalam gedung menembakkan gas air mata untuk membubarkan demonstran. Seorang pengunjuk rasa bahkan mengencingi gerbang kantor polisi.

Kontroversi massa

Sponsored

Dalam satu insiden, polisi menembakkan meriam air ke gerbang depan Masjid Kowloon. Masjid itu merupakan tempat ibadah muslim paling penting di Hong Kong.

Beberapa jemaah yang diwawancarai oleh media di luar masjid menyebut tindakan tersebut sebagai provokasi terhadap Islam. Mereka meminta polisi meminta maaf. Polisi tidak segera menanggapi permintaan itu.

Ketika polisi antihuru-hara maju, pemrotes segera mundur. Pengunjuk rasa menuturkan mereka melakukan hal itu untuk menghindari penangkapan seperti yang terjadi di demonstrasi-demonstrasi lalu.

Pengunjuk rasa membakar dan merusak sejumlah stasiun kereta bawah tanah (MTR) dan ratusan toko. Kantor bank-bank China termasuk ICBC dan Bank of China dibakar dan dirusak. Sebuah toko Xiaomi pun tidak luput dari amarah dan vandalisme pemrotes.

Salah satu toko yang dirusak diwarnai grafiti di jendela-jendelanya. Tulisan-tulisan itu mengatakan bahwa toko tersebut diserang karena berafiliasi dengan China.

"We never rob. We don't forgive. We don't forget," bunyi salah satu grafiti.

Polisi mengatakan mereka menyita lebih dari 40 bom bensin. Sebuah alat peledak yang dipasang demonstran juga diamankan oleh polisi.

Pada awal unjuk rasa, spanduk bertuliskan "Free Hong Kong" membentang di jalan-jalan. Poster-poster lainnya bertuliskan "HongKongers Resist" dan "Better Dead than Red".

"Pemerintah berpura-pura menganggap bahwa kami hanya ingin menghancurkan kota. Kami akan terus berdemonstrasi untuk memberi tahu dunia bahwa merekalah yang menghancurkannya," kata seorang pengunjuk rasa, Ray.

Hong Kong berada di bawah formula "Satu Negara, Dua Sistem" yang memberikan kebebasan yang tidak ada di China daratan seperti kebebasan pers dan sistem peradilan independen.

Pedemo marah kepada Kepala Eksekutif Hong Kong Carrie Lam atas apa yang mereka lihat sebagai kegagalannya melindungi otonomi kota dari Beijing dan membiarkan polisi menggunakan kekerasan yang berlebihan.

Dalam pidato kebijakan tahunannya pada Rabu (16/10), Lam tidak membahas tuntutan pemrotes.

Dua orang ditembak polisi dan ribuan lainnya luka-luka sejak protes pecah. Lebih dari 2.300 orang telah ditangkap.

Hong Kong, sebuah pusat keuangan internasional, terpukul akibat protes antipemerintah yang berlangsung sejak Juni. Demonstrasi telah menjerumuskan kota itu ke dalam krisis politik terburuknya sejak beberapa dekade terakhir.

Kerusuhan dipicu oleh RUU ekstradisi yang secara resmi telah ditarik oleh pemerintah Hong Kong. RUU tersebut memungkinkan tersangka untuk diadili di China daratan.

Protes prodemokrasi menjadi tantangan besar bagi Presiden China Xi Jinping. Beijing membantah telah mengikis kebebasan Hong Kong dan Xi berjanji untuk menghancurkan segala upaya untuk memecah Tiongkok.

Sumber : Reuters