sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Demonstran Irak yang tewas ditembak aparat jadi 45 orang

29 orang dilaporkan tewas di Kota Nassiriya, empat di Baghdad, dan 12 lainnya di Najaf.

Valerie Dante
Valerie Dante Jumat, 29 Nov 2019 12:30 WIB
Demonstran Irak yang tewas ditembak aparat jadi 45 orang
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 76981
Dirawat 36636
Meninggal 3656
Sembuh 36689

Sejumlah sumber menyebutkan bahwa jumlah demonstran yang tewas ditembak mati pasukan keamanan Irak bertambah menjadi 45 orang pada Kamis (28/11). Insiden itu terjadi setelah pengunjuk rasa menyerbu dan membakar Konsulat Iran di Kota Najaf.

Setidaknya 29 orang tewas di Kota Nassiriya pada Kamis ketika tentara menembaki demonstran yang memblokir sebuah jembatan. Polisi dan petugas medis mengatakan, puluhan pemrotes lainnya terluka.

Empat orang tewas di Baghdad, di mana pasukan keamanan melepaskan tembakan dengan amunisi tajam dan peluru karet terhadap demonstran di dekat jembatan di Sungai Tigris. Sementara itu, 12 orang tewas dalam bentrokan di Najaf.

Di Nassiriya, ribuan demonstran turun ke jalan untuk menentang jam malam. Mereka ikut menguburkan korban penembakan.

Pada Kamis, sebuah rekaman video beredar di media sosial memperlihatkan demonstran yang bersorak melihat kobaran api melahap Konsulat Iran. Pertumpahan darah yang terjadi usai pembakaran itu dinilai sebagai salah satu kekerasan paling mematikan sejak demonstrasi pecah pada awal Oktober. 

Protes di Irak yang dimulai pada 1 Oktober awalnya merupakan gerakan antikorupsi yang membengkak menjadi pemberontakan terhadap pemerintah yang demonstran anggap sebagai antek Iran.

Kantor berita Mehr melaporkan bahwa Teheran menutup perbatasan Mehran-Iran pada Kamis malam atas alasan keamanan.

"Mempertimbangkan peristiwa yang baru-baru ini terjadi dan kerusuhan di Irak, perbatasan Mehran ditutup mulai malam ini," tutur Manajer Pos Perbatasan Mehran Mojtaba Soleimani.

Sponsored

Dia mengatakan, belum pasti kapan perbatasan akan dibuka kembali.

Para pengunjuk rasa yang menyerbu Konsulat Iran menuduh pemerintah Irak mengkhianati rakyat mereka sendiri untuk membela Teheran.

"Seluruh polisi antihuru-hara di Najaf dan pasukan keamanan mulai menembaki kami seolah-olah kami membakar Irak secara keseluruhan," kata seorang pedemo.

Pengunjuk rasa lain, Ali, menggambarkan serangan terhadap konsulat sebagai tindakan berani dan reaksi nyata dari rakyat Irak.

"Kami tidak menginginkan orang-orang Iran," tegas dia.

Ali menambahkan, "Saya yakin Iran akan membalas. Mereka masih di sini dan pasukan keamanan akan terus menembak kami."

Kementerian Luar Negeri Iran mengutuk serangan itu dan menuntut tanggapan tegas pemerintah Irak terhadap para penyerang. Pihak berwenang Iran tidak mau mundur dalam menanggapi kerusuhan.

Perdana Menteri Adel Abdul Mahdi sejauh ini menolak seruan demonstran yang menginginkannya untuk mundur.

Sebuah pernyataan militer Irak menyatakan bahwa pada Kamis, PM Mahdi memanggil seorang komandan militer senior di Provinsi Dhi Qar, tempat Nassiriya berada, untuk datang ke Baghdad dan menjelaskan kepadanya mengapa situasinya memburuk.

Lindungi al-Sistani

Komandan militer Pasukan Mobilisasi Populer (PMF), payung kelompok paramiliter yang faksi-faksi paling kuatnya dekat dengan Iran, mengindikasikan bahwa akan terjadi lebih banyak kekerasan.

PMF menyatakan kerusuhan di Najaf merupakan ancaman bagi Ayatullah Ali al-Sistani, ulama syiah paling terkemuka di Irak yang berkedudukan di kota itu. Mereka menegaskan akan menggunakan kekuatan penuh terhadap siapa pun yang mencoba menyerang dia.

"Kami akan memotong tangan siapa pun yang mencoba mendekati al-Sistani," kata Abu Mahdi al-Muhandis.

Ulama populis ternama, Moqtada al-Sadr, ikut mendesak pemerintah untuk mengundurkan diri. Dia juga memperingatkan bahwa tindakan pembakaran konsulat berisiko memicu reaksi keras dari pihak berwenang.

"Jangan beri mereka peluang untuk mengakhiri revolusi kalian. Jauhi situs-situs keagamaan," twit dia.

Fanar Haddad, peneliti senior di National University of Singapore's Middle East Institute, menuturkan bahwa pemerintah dan sekutu paramiliternya dapat menggunakan pembakaran konsulat untuk membenarkan upaya keras mereka menghentikan demonstrasi.

Paramiliter, lanjut dia, dapat menggunakan insiden pembakaran sebagai dalih untuk menindak keras demonstran dan membenarkan upaya mereka dengan alasan mencegah ancaman terhadap al-Sistani.

Sejak kerusuhan meletus, al-Sistani dikabarkan mendukung para demonstran. Dia menyerukan para politikus untuk memenuhi tuntutan rakyat yang menginginkan terjadinya reformasi.

Berita Lainnya