sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Di pilpres Ukraina, komedian unggul atas petahana

Kampanye Volodymyr Zelensky dalam pilpres Ukraina telah mengaburkan batas antara fiksi dan kenyataan.

Khairisa Ferida
Khairisa Ferida Selasa, 02 Apr 2019 16:28 WIB
 Di pilpres Ukraina, komedian unggul atas petahana

Seorang komedian tanpa pengalaman politik yang kerap tampil sebagai presiden dalam program satire di televisi memimpin pada putaran pertama pilpres Ukraina. 

Dengan lebih dari 80% suara yang dihitung pada Senin (1/4), aktor dan komedian Volodymr Zelenskiy menerima sekitar 30% suara, jauh di depan Presiden Petro Poroshenko, yang hanya mengumpulkan lebih dari 16%. Sementara itu, di posisi tiga adalah mantan Perdana Menteri Yulia Tymoshenko dengan 13% suara.

Tidak ada kandidat yang ditetapkan menang lebih dari 50%, dan komisi pemilihan Ukraina mengumumkan bahwa putaran kedua antara Poroshenko dan Zelenskiy akan berlangsung pada 21 April.

Zelenskiy berkampanye atas janji perubahan dan langkah antikorupsi yang keras, isu krusial yang telah menimbulkan gelombang ketidakpuasan di Ukraina. Negara itu masih dipandang sangat korup setelah revolusi pada 2014. Baik Poroshenko dan Tymoshenko telah menjadi bagian dari politik Ukraina selama bertahun-tahun.

Kampanye Zelenskiy telah mengaburkan batas antara fiksi dan kenyataan. Karakternya dalam acara televisi "Servant of the People" adalah seorang guru sekolah yang tiba-tiba terlempar ke kursi presiden setelah kata-kata kasar yang ditujukannya kepada politikus korup viral.

Namun, dia dinilai memberikan sangat sedikit detail pada proposal kebijakan.

Berbicara di markas kampanyenya setelah jajak pendapat, Zelenskiy mengatakan kepada pendukungnya, "Saya ingin mengatakan terima kasih kepada seluruh warga Ukraina yang tidak memilih hanya untuk bersenang-senang."

"Itu hanya permulaan, kami tidak akan santai," ungkap Zelenskiy.

Sponsored

Berdasarkan hasil Minggu, Poroshenko, taipan manisan yang dijuluki "Raja Cokelat", akan menghadapi tantangan berat untuk menghentikan langkah Zelenskiy. 

Bagaimanapun, Poroshenko dinilai meraih sejumlah kesuksesan, termasuk membangun kembali militer Ukraina yang kacau dan mempertahankan dukungan Barat dalam menghadapi konflik dengan Rusia. Dia juga mendapat bailout Dana Moneter Internasional yang telah mendukung ekonomi negara itu.

Meski demikian, Poroshenko menjadi sangat tidak populer. Dia dianggap gagal mengatasi korupsi atau merombak birokrasi.

Pada Minggu (31/3), Poroshenko menuturkan bahwa dia telah mencatat kritik yang tersirat, menyebutnya sebagai pelajaran berat.

"Anda melihat perubahan di negara ini, tetapi menginginkannya lebih cepat, lebih dalam, dan berkualitas lebih tinggi. Saya telah memahami motif di balik protes Anda," kata Poroshenko kepada para pendukungnya di Kiev.

Poroshenko menjalankan kampanye yang sangat terfokus pada sejumlah tema tradisional, patriotik, dan konflik dengan Rusia. Dia menggambarkan pemilu sebagai pilihan antara dia dan Presiden Rusia Vladimir Putin.

Dalam kritiknya terhadap Zelenskiy, Poroshenko menyatakan kekhawatirannya tentang kurangnya pengalaman dan hubungan sang komedian dengan Ihor Kolomoisky, salah satu oligarki paling kontroversial di Ukraina, yang memiliki saluran 1+1, yang menyiarkan program yang melibatkan Zelenskiy.

Pada Minggu, Poroshenko menyebut Zelenskiy sebagai boneka Koloisky. Dia mengatakan bahwa presiden baru yang tidak berpengalaman akan menjadi hadiah bagi Putin.

Baik Poroshenko maupun Zelenskiy tidak ingin mengubah Ukraina dari jalur pro-Barat yang telah diambil sejak 2014 dan kembali ke orbit Rusia. Zelenskiy mengatakan dia akan mengejar negosiasi langsung dengan Rusia untuk mencoba mengakhiri perang di bagian timur, yang telah menewaskan 13.000 orang sejak 2014.

Kritik atas kurangnya pengalaman dan hubungannya dengan Kolomoisky sejauh ini gagal mengurangi daya tarik Zelenskiy sebagai seseorang di luar elite politik saat ini. Dia juga telah memenangkan hati banyak aktivis dan reformis pro-Barat yang mengambil peran penting setelah protes 2014 dan yang telah tumbuh kecewa dengan Poroshenko.

Komisi pemilihan Ukraina mengatakan pemungutan suara pada Minggu itu bebas dan adil, meskipun dirusak oleh laporan pelanggaran. Associated Press melaporkan, menurut polisi mereka telah menerima lebih dari 2.100 pengaduan pelanggaran pada hari pemungutan suara saja, selain ratusan klaim kecurangan pemungutan suara sebelumnya. (ABC News)